Menuju konten utama

Dinkes DKI Jakarta Dorong Imunisasi Lengkap untuk Cegah Difteri

Dinkes DKI Jakarta melaporkan pada 2023 terdapat dua pasien positif Difteri di Ibu Kota.

Dinkes DKI Jakarta Dorong Imunisasi Lengkap untuk Cegah Difteri
Petugas kesehatan dari Puskesmas Kampus Palembang menyiapkan vaksin difteri dan tetanus untuk disuntikkan kepada siswa saat kegiatan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) di SD Negeri 21 Palembang, Sumatera Selatan, Senin (21/11/2022). ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/aww.

tirto.id - Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta mendorong masyarakat agar mendapatkan imunisasi lengkap untuk mencegah Difteri dan infeksi penyakit lainnya.

Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi Dinkes DKI Jakarta, Ngabila Salama menekankan pentingnya mendapatkan imunisasi lengkap sejak lahir hingga dewasa.

"Untuk mencegah sakit, lengkapi imunisasi anak gratis dari pemerintah sejak lahir sampai dewasa... Jadi minimal ada 11 penyakit yang bisa dicegah dengan vaksin gratis dari pemerintah," kata Ngabila ketika dihubungi reporter Tirto, Kamis (2/3/2023).

Ngabila melaporkan pada 2023 terdapat dua pasien positif Difteri di DKI Jakarta. Ia mengatakan satu pasien bergejala dan satu pasien lainnya tidak memiliki gejala Difteri.

"Nol meninggal," kata dia.

Berdasarkan data yang dibeberkan Ngabila, berikut ini perkembangan kasus Difteri di DKI Jakarta dari 2019 sampai 2023:

1. Tahun 2019: positif 21 orang (semua bergejala, 1 meninggal)

2. Tahun 2020: positif 6 orang (1 tanpa gejala, 5 bergejala, 0 meninggal)

3. Tahun 2021: positif 4 orang (semua bergejala, 3 meninggal)

4. Tahun 2022: positif 4 orang (semua bergejala, 1 meninggal)

5. Tahun 2023: positif 2 orang (1 tanpa gejala, 1 bergejala, 0 meninggal)

"Dari 37 kasus tahun 2019 sampai 2023 tersebut, 16 persen balita, 42 persen usia 5-18 tahun, 42 persen usia dewasa diatas 18 tahun," kata Ngabila.

Menurut Ngabila, Case Fatality Rate (CFR) kasus Difteri di DKI Jakarta berkisar 13 persen.

"Surveilans penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi atau PD3I perlu terus dikencangkan," ujarnya.

Ngabila mengimbau masyarakat yang memiliki anak dengan gejala demam, batuk, sakit tenggorokan dan nyeri saat menelan yang hebat bahkan sesak nafas, apalagi memiliki riwayat vaksinasi tidak lengkap pada anak dan usia sekolah dasar, segera bawa ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat.

"Jika ada selaput membran putih di tenggorokan petugas akan melakukan swab untuk cek laboratorium apakah difteri atau tidak dan memberikan pengobatan spesifik terhadap difteri atas rekomendasi tim ahli (anti difteri serum/ADS)," imbaunya.

Selain imunisasi lengkap, Ngabila menyarankan masyarakat untuk menggunakan masker saat berada di kerumunan dan bertemu orang sakit.

Kementerian Kesehatan RI telah menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Status KLB ditetapkan setelah tujuh warga di Desa Sukahurip, Kecamatan Cigedug, Garut, meninggal diduga akibat penyakit difteri.

Status KLB difteri dikeluarkan melalui Surat Keputusan Bupati Nomor 100.3.3.2/KEP.91-DINKES/2023.

Baca juga artikel terkait KLB DIFTERI atau tulisan lainnya dari Mochammad Fajar Nur

tirto.id - Kesehatan
Reporter: Mochammad Fajar Nur
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Gilang Ramadhan