7 September 1997

Di Sini Ada Soeharto, di Kongo Ada Diktator Klepto Mobutu Sese Seko

Mobutu Sese Seko. tirto.id/Nauval
Oleh: Tyson Tirta - 7 September 2020
Dibaca Normal 3 menit
Selama 32 tahun, rezim Mobutu Sese Seko merampok negara Kongo. Ia korup dan tamak—seperti Soeharto.
Pada 1974 Kongo sempat jadi sangat terkenal di seluruh dunia. Kala itu kota Kinshasa menjadi tuan rumah pertandingan akbar antara Muhammad Ali melawan George Foreman dalam perebutan gelar juara dunia tinju kelas berat—sebuah pertarungan yang disebut Harry Carpenter, komentator tinju legendaris, sebagai penampilan terbaik Ali sepanjang kariernya.

Presiden Kongo Mobutu Sese Seko memang berambisi menggelar pertandingan yang dikenal dengan nama The Rumble in the Jungle itu. Ia ingin menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa di balik citranya sebagai diktator tamak dan korup, Kongo tetap merupakan negara modern. Sembilan tahun sebelumnya, pada 1965, Mobutu meraih puncak kekuasaan lewat jalur konsolidasi militer yang memanfaatkan kisruh politik dalam negeri.


Tiga puluh dua tahun masa kekuasaan Mobutu tak pernah jauh dari kontroversi. Selain durasi masa kekuasaan yang sebanding dengan Soeharto, jalan Mobutu menuju dan mempertahankan kekuasaan juga hampir mirip dengan rekan sesama diktator itu.

Setelah kudeta berdarah mewarnai jalan Mobutu mencapai puncak pemerintahan, ia kemudian membangun kekuatan tunggal dengan menghabisi lawan-lawan politiknya. Dalam waktu singkat Mobutu menjelma menjadi diktator korup yang gemar memperkaya keluarganya dengan gelimpangan materi. Semua ia lakukan di depan mata rakyat Kongo yang hidupnya makin melarat. Sampai kejatuhannya di tahun 1997, kekayaan keluarganya benar-benar tak punya pesaing di negeri sendiri.

Di antara Dua Kudeta

Joseph-Desiré Mobutu lahir di Lisala, sebuah kota kecil di tepi sungai Kongo yang merupakan wilayah pendudukan Belgia. Batu loncatan penting dalam karier politiknya adalah pada 1960 ketika ia menjadi Kepala Staf Angkatan Darat. Ia mendapat dukungan dari Belgia dan Amerika Serikat untuk melawan pemerintahan Perdana Menteri Patrice Lumumba yang terpilih secara demokratis.

Tidak heran, Presiden AS Richard Nixon dengan bangga menyatakan Mobutu sebagai kawan bagi AS dan mendukung sepak terjang politiknya, terutama karena Patrice Lumumba bersekutu dengan Soviet.

Lumumba yang memang sudah berselisih dengan Joseph Kasa-Vubu, Presiden Kongo kala itu, akhirnya dieksekusi setahun kemudian. Di waktu yang sama, Mobutu telah menguasai sebagian besar kekuatan militer.


Presiden Kasa-Vubu pun bertaktik. Ia mengajukan nama Mobutu untuk naik pangkat jadi mayor jenderal demi meraih dukungan militer.

Langkah ini terbukti salah. Mobutu justru melihat peluang terbuka luas baginya. Dengan sigap ia lagi-lagi merancang kudeta pada 1965 untuk menggulingkan sang presiden. Kudeta kali ini berhasil. Kurang lebih satu bulan setelah ulang tahunnya yang ke-35, ia sah menjadi Presiden Kongo.

Sejarah mencatat kudeta itu sebagai salah satu kudeta militer yang sangat erat dengan campur tangan Barat. Menurut Crawford Young dan Thomas Edwin Turner dalam The Rise and Decline of the Zairian State (1985: 42), Mobutu punya penjelasan sendiri mengenai kudeta 1965.

"[...] politikus tertentu," kata Mobutu, "tidak malu meminta dukungan asing untuk melancarkan jalan menuju kekuasaan, dan untuk mempertahankannya."

Baru dua tahun menjabat presiden, ia ngotot mengamankan dominasi di dalam negeri dengan membentuk Popular Movement of the Revolution, yang hingga 1990 menjadi satu-satunya partai politik yang sah di Kongo.


Kesayangan Barat

Melaui partai barunya, Mobutu percaya diri membangun rezim totaliter dengan melibas sisa-sisa tokoh politik dan militer yang masih menolak mendukungnya. Dalam Africa in Chaos (1998: 210), ekonom Ghana George Ayittey mencatat pernyataan Mobutu: “Sistem satu partai Zaire merupakan wujud elaborasi terbaik dari sebuah demokrasi.”

Ideologi politik Mobutu memang unik. Ia tak pernah menyatakan dirinya ada di haluan kiri maupun kanan. Ideologi yang ia bangun adalah authenticitè, sebuah gerakan "pemurnian" yang berusaha mengusir pengaruh Barat dalam kebudayaan Kongo. Ia ingin Kongo kembali ke masa sebelum kolonialisme.

Authenticitè diberlakukan secara efektif sejak 1 Juni 1966. Salah satu perwujudannya adalah mengubah nama kota-kota yang bernuansa kolonial dengan nama tradisional. Leopoldville menjadi Kinshasa, Elizabethville menjadi Lubumbashi, Stanleyville menjadi Kisangani, dan akhirnya negara Kongo menjadi Zaire pada 1971.

Gerakan ini benar-benar dijalankan dengan ketat. Bayi-bayi yang lahir pada masa itu dipaksa menggunakan nama yang bernuansa Afrika. Khusus untuk para pastor, jika ketahuan memberikan nama baptis yang berbau Barat, akan diganjar hukuman 5 tahun penjara.

Ia sendiri mengganti namanya menjadi Mobutu Sese Seko, yang berarti pemimpin yang kuat, pejuang tangguh, dan pemenang segala peperangan.

Di saat bersamaan AS, Belgia, dan Perancis tetap memberi dukungan penuh terutama untuk urusan militer, diplomasi, dan ekonomi. Tiga negara itu menganggap Mobutu sebagai ujung tombak untuk melawan komunisme di Afrika.

Dalam praktiknya, Mobutu membangun aliansi dengan gerakan Apartheid Afrika Selatan. Sejak 1972 ia bahkan mendapatkan dukungan dari Cina yang kala itu dipimpin Mao Zedong terutama karena Mobutu punya pandangan anti-Soviet. Dukungan ini sejak awal hanya merupakan bagian dari rangkaian taktik Mao untuk membentuk poros negara-negara Asia-Afrika dan menjadi pemimpinnya.

Ketika Perang Dingin berakhir dan konstelasi politik dunia mengalami perubahan drastis, tekanan internasional memaksa Mobutu mengakhiri aturan partai tunggalnya. Ia menunjuk pemerintahan transisi yang menjanjikan pemilihan umum. Sebuah kerusuhan besar di Kinshasa memaksanya memberi ruang bagi kaum oposisi yang kekuatannya sangat terbatas.

Akhirnya, pada 1993, terbentuk dua kubu pemerintahan. Di samping pemerintahan "sah" pimpinan Mobutu, terbentuk pula pemerintahan oposisi yang dipimpin Laurent Monsengwo dan Étienne Tshisekedi. Dua orang ini sebelumnya membentuk partai oposisi Union for Democracy and Social Progress.


Rezim Kleptokrasi

Dalam America’s Tyrant: The CIA and Mobutu of Zaire (1993: 250), Sean Kelly mencatat pernyataan Tshisekedi. Politikus yang sempat tiga kali menjadi Perdana Menteri Zaire itu menyebut era kepemimpinan Mobutu sebagai kleptokrasi.

“Mobutu adalah momok bagi Zaire. Ia seorang kleptomaniak. Zaire dipimpin tanpa kontrol. Zaire ada di rezim kleptokrasi,” katanya.

Tak adanya mekanisme kontrol dalam politik dengan mudah membuat Mobutu jadi pemimpin korup sejak awal.

Justin Pearce, akademisi Inggris yang meneliti Zaire, menulis sebuah artikel di BBC yang juga menegaskan rezim ini sebagai rezim kleptokrasi. Ia mengangkat fakta mengenai keadaan kacau yang timbul akibat perilaku korup Mobutu. Mula-mula, inflasi besar-besaran terjadi. Utang negara terus menumpuk tanpa kepastian dan mekanisme pembayaran yang jelas. Akhirnya, devaluasi mata uang yang parah tak terhindar lagi.

Usaha terakhir Mobutu mempertahankan kepemimpinannya adalah mengusir etnik Tutsi, sebuah etnik yang sangat keras melakukan pemberontakan, untuk keluar dari Zaire. Tapi para pemberontak itu berhasil bertahan. Dengan dukungan presiden Uganda Yoweri Museveni dan Menteri Pertahanan Rwanda Paul Kagame, mereka terus melakukan perlawanan. Pasukan pemberontak yang dipimpin Laurent-Désiré Kabila kemudian melakukan long-march menuju Kinshasa pada Maret 1997.

Saat itu fisik Mobutu sangat lemah akibat kanker prostat yang memaksanya menjalani pengobatan di Swiss. Pasukan militer yang loyal kepadanya tak bisa berbuat banyak melawan pemberontak. Pemerintahan sang diktator korup akhirnya berhasil dijatuhkan. Kabila didaulat menjadi presiden baru dan nama Zaire kembali diubah menjadi Republik Demokratik kongo.

Di tengah gerogotan kanker, Mobutu diasingkan ke Togo. Namun ia diusir beberapa hari kemudian karena Presiden Togo Gnassingbé Eyadéma tak mau menampungnya. Sejak Mei 1997 Mobutu lebih banyak menghabiskan hari-harinya di Rabat, Maroko sebelum kanker prostat merenggut nyawanya pada 7 September 1997, tepat hari ini 23 tahun lalu.

==========

Tyson Tirta adalah alumnus Program Studi Ilmu Sejarah UI dan master bidang sejarah dari Kingston University, London. Menulis tesis tentang masa kekuasaan Inggris di Jawa.

Baca juga artikel terkait KONGO atau tulisan menarik lainnya Tyson Tirta
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Tyson Tirta
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight