Di Luar Paradise Papers, Berapa Banyak Harta Keluarga Soeharto?

Oleh: Yantina Debora - 8 November 2017
Dibaca Normal 5 menit
Selama memimpin Indonesia, Soeharto berhasil membangun kerajaan bisnis dan menimbun pundi-pundi dolar di dalam dan luar negeri.
tirto.id - Setahun setelah muncul Panama Papers yang mengungkap investasi para pesohor dunia di negara surga pajak Panama, kini muncul Paradise Papers yang mengungkap rincian kepemilikan investasi dan skema penghindaran pajak di Bermuda.

Jika jutaan dokumen Panama Papers yang bocor itu berasal dari perusahaan penyedia layanan hukum offshore bernama Mossack Fonseca, maka Paradise Papers berasal dari perusahaan Appleby. Surat kabar Jerman Süddeutsche Zeitung adalah yang pertama kali memperoleh bocoran dokumen tersebut, yang kemudian dibagi ke International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ).

“Mereka [Mossack Fonseca dan Appleby] sama-sama firma hukum yang membantu klien mereka untuk membuka perusahaan cangkang di luar negeri. Jadi, kalau mau beli sesuatu di luar negeri, Anda tidak mau pakai nama Anda langsung, Anda bikin perusahaan cangkang atau shell company. Makin rahasia, makin mahal tarifnya,” papar salah satu anggota pendiri ICIJ Andreas Harsono kepada Antara.

Para pesohor dunia yang disebut dalam Paradise Papers di antaranya Ratu Elizabeth II, vokalis U2 Bono, hingga Madonna. Beberapa nama pesohor di Indonesia seperti Prabowo dan dua anak Soeharto, yakni Hutomo Mandala Putra (Tommy) dan Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek), turut disebut dalam dokumen tersebut.

Baca juga: Mengenal Nusantara Energy & Prabowo yang Termuat di Paradise Papers

Hutomo Mandala Putra disebut menjadi pemimpin Grup Humpuss serta menjadi direktur dan komisaris di Asia Market Investments Ltd., sebuah perusahaan terdaftar di Bermuda pada 1997 dan tutup tahun 2000. Tommy juga menjadi salah satu pemegang saham di perusahaan mobil sport Italia Lamborghini, menurut data Securities and Exchange Commission.

Pada 1997, menurut laporan Appleby, terdapat perusahaan patungan di Bermuda yang terdiri dari anak perusahaan Humpuss dan NLD, sebuah perusahaan periklanan Australia. Perusahaan ini menjalankan proyek pemasangan iklan reklame di jalanan Victoria, Filipina, Malaysia, Myanmar, dan Cina. Namun perusahaan ini ditutup pada 2003.

Baca juga: Kongsi Dagang Soeharto dan Junta Militer Myanmar

Sedangkan Mamiek disebut dalam dokumen itu menjadi wakil presiden Golden Spike Pasiriaman Ltd dan pemilik Golden Spike South Sumatera Ltd. Berdasarkan laporan ICIJ, kedua perusahaan itu terdaftar di Bermuda pada 1990-an tetapi kini sudah ditutup. Munculnya nama anak Soeharto kemudian memunculkan pertanyaan lama soal harta keluarga Cendana.

Harta Keluarga Soeharto

Berdasarkan hasil investigasi Time yang diterbitkan pada 1999, Soeharto telah membangun kerajaan bisnis dan menimbun miliaran dolar AS di dalam maupun di luar negeri. Aset Soeharto di luar negeri termasuk taman berburu senilai 4 juta dolar AS di Selandia Baru dan saham di kapal pesiar senilai 4 juta dolar AS yang ditambatkan di dekat Darwin, Australia.

Tak hanya aset, miliaran dolar uang Soeharto disimpan di bank Swiss. Hal ini diketahui saat Soeharto lengser, ia pun bergerak cepat untuk mengamankan harta kekayaannya dengan mentransfer 9 miliar dolar AS dari bank Swiss ke akun bank Austria.

Baca juga: Memahami Istilah-Istilah Kunci dalam Panama dan Paradise Papers

Menurut laporan Badan Pertanahan Nasional yang dikutip Time, di dalam negeri Soeharto mengendalikan 3,6 juta hektare lahan yasan (real estate) dan 100.000 meter persegi ruangan kantor di Jakarta. Dalam laporan New York Times, aset Soeharto diperkirakan mencapai 30 miliar dolar AS. Akan tetapi, Soeharto membantah laporan itu. Menurutnya, ia hanya memiliki 19 ha tanah di Indonesia serta tabungan sebesar 2,4 juta dolar AS.

Laporan The Economist menyebut total harta pribadi Soeharto sebesar 16 miliar dolar AS karena telah dibagi-bagi kepada istri, enam anak, saudara tiri, hingga cucu laki-laki Soeharto. Berdasarkan lembaga Transparency International, harta Soeharto mencapai 15-35 miliar dolar AS.

Harta Soeharto memang mengalir ke anak-anaknya. Mereka membantu dalam menimbun dolar di dalam dan di luar negeri. Berdasarkan laporan Time, anak-anak Soeharto memiliki ekuitas di sekitar 564 perusahaan, dan memiliki hubungan dengan ratusan perusahaan luar negeri lain yang tersebar dari Amerika Serikat, Uzbekistan, Belanda, Nigeria, dan Vanuatu.

Anak bungsu Soeharto, Tommy, memiliki 75 persen saham di lapangan golf lengkap dengan 22 apartemen mewah di Ascot, Inggris. Di Indonesia, ia membangun proyek mobil nasional atau mobil Timor yang berasosiasi dengan Kia Motors asal Korea Selatan. Di Jakarta, Tommy membangun sirkuit mobil di areal seluas 425 ha dengan biaya 50 juta dolar AS, menurut laporan New York Times.

Baca juga: Dosa dan Jasa Soeharto untuk Indonesia

Sedangkan kakak Tommy, Bambang Trihatmodjo, memiliki rumah peristirahatan mewah senilai 8 juta dolar AS di Singapura dan sebuah rumah seharga 12 juta dolar AS di sebuah lingkungan eksklusif di Los Angeles yang tak jauh dari rumah Sigit Harjoyudanto (putra kedua Soeharto) senilai 9 juta dolar AS. Forbes tahun 2007 menobatkan Bambang sebagai orang terkaya ke-33 di Indonesia. Total harta yang dimilikinya 200 juta dolar AS.

Para putri Soeharto tak kalah tajir. Siti Hardijanti Rukmana alias Tutut dikabarkan memiliki sejumlah pesawat seperti Boeing 737, Canadian Challenger 601, BAC - 111, McDonnell Douglas DC-10, dan pesawat dari Royal Squadron.

Dari Mana Kekayaan Keluarga Soeharto?

Sebelum menjadi orang nomor satu di Indonesia, Soeharto dan istrinya, Siti Hartinah (Ibu Tien), hidup sederhana di sebuah rumah di daerah Menteng, Jakarta Pusat. Saat itu Soeharto masih menggunakan mobil Ford Galaxy. Keinginannya untuk menimbun sejumlah uang mulai kentara pada 1950-an. Ia terlibat dalam penyelundupan gula dan kegiatan di luar militer di Jawa Tengah. Hal ini sempat membuatnya kehilangan kedudukan sebagai panglima Kodam Diponegoro pada 1959.

Tak berhenti mengumpulkan dolar, tujuh tahun berselang atau pada 1966 bisnis keluarga Soeharto mulai terbentuk. Ketika resmi menjabat presiden, Soeharto mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 8 untuk mengambil dua konglomerasi yang dikuasai Sukarno bernilai aset 2 miliar dolar AS.

Soeharto berkuasa atas PT Pilot Project Berdikari yang dikelola Achmad Tirtosudiro, seorang pensiunan jenderal. Perusahaan ini menjadi salah satu motor utama kerajaan bisnis Soeharto. Ia kian berjaya bersama kroninya Liem Sioe Liong dan The Kian Seng, yang lebih dikenal sebagai Mohammad “Bob” Hasan. Soeharto juga mulai memberikan hak monopoli untuk impor, penggilingan, dan distribusi gandum serta tepung kepada PT Bogasari Flour Mills yang dikuasai oleh Kelompok Salim milik Liem.


Untuk menutupi segala aksinya, Soeharto membangun yayasan amal untuk membiayai rumah sakit, masjid, hingga sekolah. Menurut George Junus Aditjondro, pengajar sosiologi di Universitas Newcastle, Australia, ada sekitar 79 yayasan yang dikuasai oleh Soeharto dan keluarga serta kroninya.

“Yayasan-yayasan tersebut membeli berbagai saham, mendirikan berbagai perusahaan, meminjamkan uang kepada para pengusaha,” kata Adnan Buyung Nasution, seorang pengacara hak asasi manusia, seperti dilaporkan Time.

Baca juga: Cinta dan Benci untuk Soeharto

Pada 1978, yayasan Soeharto berhasil menguasai 60 persen saham Bank Duta. Secara perlahan, kepemilikan Soeharto bertambah hingga 87 persen saham bank tersebut. Dana yayasan Soeharto kemudian diinvestasikan ke berbagai perusahaan swasta yang didirikan anggota keluarga Soeharto dan kroninya.

Salah satu mesin penghasil uang utama bagi Soeharto adalah PT Nusantara Ampera Bakti, atau Nusamba, yang didirikan pada 1981 oleh tiga yayasan Soeharto dengan modal sekitar 1,5 juta dolar AS bersama Bob Hasan dan Sigit Suharto (masing-masing memperoleh saham 10 persen).

Perusahaan ini kemudian membuka jaringan 30 anak perusahaan di bidang keuangan, energi, pulp dan kertas, baja, serta otomotif. Jantung Nusamba terletak pada saham sebesar 4,7 persen di Freeport Indonesia, sebuah perusahaan penambang emas AS di Papua.

Baca juga: Freeport di Papua ialah Warisan daripada Soeharto

Melihat kesuksesan ayahnya, anak-anak Soeharto yang beranjak gede mulai terjun berbisnis. Dalam laporan Time, perusahaan Perta Oil Marketing dan Permindo Oil Trading milik Tommy dan Bambang menjadi perusahaan penyalur minyak bagi Pertamina pada 1980-an. Dua perusahaan ini menerima komisi sekitar 30-35 sen dolar per barrel. Selain itu keluarga Soeharto mendapatkan kontrak-kontrak Pertamina untuk asuransi, keamanan, suplai makanan, dan jasa-jasa lain. Totalnya mencapai 170 kontrak.

Selain itu, Bambang menguasai Badan Urusan Logistis, lembaga monopoli pangan yang mengurusi tata niaga beras. Ia mendapat keuntungan 3-5 miliar dolar AS dari program pemerintah untuk menstabilkan harga beras. Bambang juga menguasai Satelindo yang menurut harga pasar bernilai 2,3 miliar dolar AS pada 1995. Sedangkan Tutut juga menguasai telekomunikasi, perbankan, perkebunan, penggilingan tepung terigu, konstruksi, kehutanan, serta penyulingan dan perdagangan gula.

Infografik Harta Harto


Pundi-pundi dolar keluarga Soeharto tak hanya bersumber dari kontrak-kontrak pemerintah, melainkan melalui perampasan lahan rakyat. Misalnya, peternakan sapi di Jawa Barat, yang dibangun setelah merampas tanah lebih dari 751 ha yang dihuni oleh lima desa. Pada 1996, perusahaan Tommy merampas tanah penduduk desa di Bali seluas 650 ha untuk resort. Perusahaan ini sebenarnya hanya memperoleh izin untuk 130 ha, yang kemudian diperluas secara ilegal.

Pada 2016, nama Tommy Soeharto, Bambang, dan Tutut berada dalam daftar "150 Orang Terkaya Asia" yang dirilis The Globe Asia.

Penghasilan Tommy didapat dari menjalankan Humpuss Group, pemain utama logistik energi dengan PT Humpuss Intermoda. Ia juga memiliki properti di bawah naungan KG Property, yang mengembangkan superblok Kota Mangkuluhur di Semanggi, Jakarta Pusat, dan kompleks apartemen Jayanti City.

Sedangkan Bambang Trihatmodjo berada di urutan ke-124 dengan total kekayaan 240 juta dolar AS dan Tutut menempati urutan ke-132 dengan total kekayaan 190 juta dolar AS.

Kekayaannya itu diperoleh dari Citra Marga Nusaphala Persada, operator jalan tol yang paling menguntungkan, meski akhirnya dilepas ke putrinya, Danty Indriastuty Purnamasari.

Siti Rukmana juga membangun perusahaan patungan Citra Lamtoro dengan San Miguel Corp dari Filipina untuk mengakuisisi kepemilikan saham tak langsung South Luzon Tollway Corporation (SLTC) dan Manila Toll Expressway Systems Inc. CMNP, yang menjadi induk perusahaan Citra Lamtoro, juga menjadi bagian dalam proyek jalan Tol Cikampek-Palimanan, sebuah bagian dari jalan raya Trans-Jawa.

Soeharto vs Time

Laporan mendalam Time soal kekayaan Soeharto kemudian menuai masalah. Melalui pengacaranya, The Smiling General itu melayangkan gugatan perdata di PN Jakarta Pusat setelah tak ada tanggapan dari dua somasi yang dilayangkan kuasa hukum Soeharto kepada Time Asia Inc.

Dasar gugatan Soeharto adalah pemberitaan Majalah Time edisi Asia pada 24 Mei 1999 Vol. 153 No. 20 dengan judul sampul SUHARTO INC. How Indonesia’s longtime boss built a family fortune, yang dianggap tendensius, insinuatif, dan provokatif. Namun, PN Jakarta Pusat pada 2000 menolak seluruh tuntutan dari Penggugat atas pijakan bahwa pemberitaan Time tak memenuhi unsur perbuatan melawan hukum berdasarkan pasal 1365 dan 1372 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

Baca juga: Arsip Rahasia AS: Soeharto Tahu Pembantaian 65

Tak menyerah pada keputusan itu, Soeharto melakukan upaya banding. Namun, Pengadilan Tinggi Jakarta pada 2001 menguatkan putusan PN Jakarta Pusat. Pada 2007, Mahkamah Agung memutuskan majalah Time telah melakukan fitnah sehingga harus dihukum dengan ganti rugi sebesar Rp1 triliun dan memasang iklan permintaan maaf di pelbagai media Indonesia, termasuk di tiga edisi internasional Majalah Time.

Dua tahun kemudian, keputusan kasasi dibatalkan. Mahkamah Agung menyatakan Time tidak perlu membayar ganti rugi Rp1 triliun kepada keluarga Soeharto. Pada tahun yang sama, Bank Dunia dan PBB menyebut Soeharto sebagai pemimpin paling korup di dunia.

“Pada akhirnya, satu hal paling transparan di Indonesia adalah korupsi,” kata seorang pengacara Amerika yang sudah lama bekerja di Indonesia kepada Time.

Baca juga artikel terkait PARADISE PAPERS atau tulisan menarik lainnya Yantina Debora
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Yantina Debora
Penulis: Yantina Debora
Editor: Windu Jusuf
* Data diambil dari 20 top media online yang dimonitor secara live