Di Balik Strategi Jorjoran Biaya Iklan Vivo Hingga Apple

Infografik Strategi Promosi Perusahaan Teknologi
Vivo menjadi sponsor piala dunia FIFA 2018. FOTO/Vivo Philippines
Oleh: Ahmad Zaenudin - 11 Juni 2017
Dibaca Normal 2 menit
Banyak perusahaan teknologi memanfaatkan beragam cara untuk memperkenalkan produk mereka pada khalayak. Caranya dari yang paling berbiaya murah hingga besar-besaran.
tirto.id - Vivo, produsen ponsel pintar asal Cina merangkul FIFA sebagai sponsor resmi gelaran Piala Dunia 2018 di Rusia. Seperti dikutip dari Forbes, Vivo diperkirakan merogoh 60 juta Euro pada FIFA untuk ajang sepakbola bergengsi dan terakbar itu.

Strategi Vivo menjadi sponsor resmi Piala Dunia tentu saja agar mereka dikenal dunia. Sebagaimana dikutip dari The Verge, Piala Dunia adalah gelaran yang selalu dinanti dan dilihat banyak orang. Pada Piala Dunia 2014, sebanyak 3,2 miliar orang menonton pertandingan selama sebulan. Pada pertandingan final, disaksikan lebih dari satu miliar orang. Langkah Vivo sebuah keputusan berani dibandingkan Huawei, Samsung, bahkan Apple.

Namun upaya Vivo menjadi sponsor resmi Piala Dunia, bukanlah hal yang aneh di dunia bisnis perusahaan teknologi. Perusahaan teknologi dunia umumnya tak pelit menggelontorkan dana promosi besar-besaran. Vivo juga sudah menggelar promosi dengan menempatkan produk mereka di film-film Hollywood. Captain America Civil War misalnya, film yang dipakai Vivo sebagai sarana promosi. Di film tersebut, beberapa adagen Captain America, terlihat menggunakan ponsel pintar besutan Vivo varian XPlay. Selain itu, ada pula adegan Tony Stark yang menggunakan ponsel pintar futuristik (tidak ada di dunia) dengan merek Vivo.

Pemilihan film Captain America Civil War jelas suatu langkah jitu bagi Vivo. Concave Brand Tracking, sebuah firma riset pasar, seperti dikutip dari IT Wire, mengungkapkan bahwa munculnya sebuah merek di film tersebut, jauh lebih baik dibandingkan film yang sama atau lansiran layar lebar Marvel lainnya. Selain Vivo, Microsoft pun melakukan langkah yang serupa. Dalam film Doctor Strange, produk Surface Pro dan Skype, beberapa kali mejeng dalam adegan film besutan Marvel.





Menempatkan merek dalam sebuah adegan film jelas menguras dompet cukup dalam bagi perusahaan-perusahaan seperti Vivo maupun Microsoft tapi dianggap lebih efektif dari berpromosi di TV. New York Film Academy, mencatat 66 persen penonton TV maupun video streaming, cenderung meloncati iklan yang tayang saat mereka menonton. Sedangkan dalam film tidak mungkin terjadi. Film berjalan linear tanpa jeda dan mengharuskan penontonnya, melihat secara rinci apa yang disajikan di layar lebar bioskop. Sehingga tak mengherankan kue promosi di film sangat besar, pada 2014 nilai pasar penempatan produk di dalam film mencapai US$73,27 miliar.

Selain Piala Dunia dan film, salah satu strategi ikonik yang sering dilakukan perusahaan teknologi bisa melalui kegiatan olahraga yang banyak mengundang penonton seperti gelaran Super Bowl. Super Bowl, merupakan pertandingan final sepakbola ala Amerika Serikat yang mempertandingkan dua tim terbaik dari masing-masing divisi yang diselenggarakan di akhir turnamen. Secara sederhana, Super Bowl bisa dikatakan mirip seperti gelaran final Piala Dunia yang diselenggarakan FIFA .Siaran langsung Super Bowl merupakan salah satu acara dengan tingkat penonton tertinggi di Amerika Serikat.

Google sempat memasang iklan produk anyar Google Home, pada siaran langsung gelaran Super Bowl. Namun, bila menilik sejarah, iklan paling ikonik dalam gelaran tersebut adalah iklan dengan tajuk “1984” yang memperkenalkan produk Apple. Pada gelaran Super Bowl di 1984, Apple mengiklankan komputer Machintosh pada publik. Dalam iklannya, Apple menggebrak dengan tagline yang cukup tegas, “mengapa tahun 1984 tidak akan (terlihat) seperti tahun 1984.” Iklan ikonik tersebut, dikutip dari Business Insider, dibuat oleh Apple dengan menghabiskan uang senilai $650.000 kala itu.

Untuk biaya iklan di gelaran Super Bowl dari Sport Illustrated, di 2017 ini, Fox sebagai stasiun TV yang menayangkan gelaran itu membebankan perusahaan yang ingin beriklan dengan harga antara US$5 juta hingga US$5,5 juta untuk 30 detik penayangan. Angka tersebut, jelas berlipat-lipat dibandingkan biaya yang dibebankan di awal penyelenggaraan Super Bowl pada 1967.

Selain cara-cara tersebut, perusahaan teknologi menyewa selebritis untuk menjadi duta merek. Produsen ponsel pintar OPPO yang juga produk Cina, cukup aktif melakukan strategi ini. Artis seperti Chelsea Islan, Raisa, Isyana Sarasvati, beberapa selebritis yang digaet untuk mendompleng produk OPPO.

Namun di balik pengeluaran dana yang besar-besaran pada akhirnya konsumen yang harus menanggung. Produsen memasukkan elemen biaya iklan pada produk yang dibeli konsumen. Produk iPhone 6 Plus misalnya, sebagaimana dikutip dari Business Insider, biaya manufaktur produk itu hanya berada di kisaran US$242,5. Namun, Apple membanderol iPhone 6 Plus kepada konsumen seharga US$694.

Selisih antara harga produksi dan harga jual, diyakini telah memasukkan unsur biaya iklan. Selain tentu saja terdapat pula biaya riset dan keuntungan Apple. Pada 2015, seperti dikutip dari Cult of Mac, Apple menggelontorkan US$1,8 miliar untuk biaya promosi. Intinya apa yang dilakukan Vivo, OPPO, Microsoft, Apple dan lainnya akan terbayarkan oleh para konsumen.

Baca juga artikel terkait APPLE atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Ahmad Zaenudin
Penulis: Ahmad Zaenudin

Fotografer:Suhendra
DarkLight