Di Balik "Pulpen Ajaib" Jokowi Saat Debat

Oleh: Widia Primastika - 21 Februari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Aktivitas Jokowi memainkan pulpen bisa jadi bentuk kecemasan karena grogi. Wajar-wajar saja, banyak orang mengalaminya.
tirto.id - Debat calon presiden telah berlangsung pada Minggu, 17 Februari 2019. Selama debat berlangsung, Jokowi terlihat memegang sebuah pulpen dan memainkannya. Karena pulpen itulah Jokowi diserang kubu lawan. Mereka menuduh Jokowi menggunakan earpiece dan repeater. Jokowi menampik tudingan tersebut dan menyebutnya fitnah.

Moeldoko sebagai Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) turut memberi penjelasan. Ia mengatakan pulpen tersebut adalah saran TKN. "Kenapa beliau menggunakan pulpen, [kami] yang arahkan," kata Moeldoko, Selasa (19/2/2019), seperti dikutip Merdeka.

Menurut Moeldoko, Jokowi dalam debat sebelumnya kerap memegang lengan baju. "Ini yang kita cermati, akhirnya jangan-jangan seperti itu. Syaratnya harus ada yang dipegang, itu. Ini saran dari beberapa kita menyarankan kepada beliau. Dan [saran itu] diikuti," lanjut Moeldoko, masih dalam berita Merdeka.

Kecemasan Saat Bicara di Depan Publik

Aktivitas Jokowi memainkan pulpen atau memegang lengan baju bisa jadi merupakan bentuk kecemasan ketika tampil di ruang publik. Gerakan-gerakan tak wajar yang muncul seperti penanda rasa gugup tak hanya dialami Jokowi, tapi juga cucu dari Ratu Elizabeth II, Pangeran Harry.

Ketika mewawancarai Barack Obama yang disiarkan BBC pada akhir 2017, Harry terlihat kerap memainkan pulpen yang ia pegang. Tak jarang ia mengalihkan pandangan ke pulpennya. Obama, mantan presiden yang terkenal cakap tampil di depan publik, tampak lebih tenang.


Gestur semacam itu tak hanya ditunjukkan Harry dan Jokowi, tapi juga penyanyi Adele. Dalam sebuah acara yang dipandu oleh Fredrik Skavlan, Adele sering meremas tangannya. Bahkan, beberapa kali ia tertangkap kamera sedang menghentakkan kakinya.

Seperti dikutip The Telegraph, dalam sebuah wawancara dengan Q Magazine, Adele mengakui dirinya mengalami “anxiety attack” ketika tampil di depan khalayak yang besar.

“Saya benci berada dalam sebuah festival dan mengalami serangan kecemasan dan kemudian tidak naik panggung,” ungkap Adele kepada Q Magazine seperti dikutip The Telegraph.

Bahkan, Adele pernah menolak tawaran untuk manggung di London O2 Arena yang memiliki kapasitas 23.000 orang karena ketakutannya terhadap audiens yang besar. Adele tak ingin penampilannya rusak karena masalah kecemasan itu.

Elizabeth Kuhnke dalam bukunya yang berjudul Body Language for Dummies (2007) mengatakan bahwa cara kita berdiri, duduk, gerakan dan ekspresi diri kita, serta tindakan yang kita lakukan bisa menjadi gambaran siapa diri kita. Tanpa perlu ditanya, orang bisa menangkap apabila kita ada dalam keadaan gugup, hanya dengan melihat gerakan mengotak-atik kuku jarinya, memegang kepala, wajah, leher, atau dadanya.

“Saat Anda merasakan emosi yang bertentangan, Anda dapat melakukan gerakan yang tidak ada hubungannya dengan tujuan Anda,” tulis Kuhnke dalam bukunya.

Kuhnke menyampaikan bahwa perilaku tersebut dilakukan untuk mengalihkan perhatian dan mendapatkan perasaan nyaman, meskipun hanya sementara. Terkadang kita bisa menghentikan gerakan-gerakan liar itu ketika sadar. Namun, tanpa disadari, kita bisa mengulangi gerakan itu lagi.


Ada beberapa contoh gerakan yang biasa dilakukan orang dalam kondisi cemas, seperti mengetuk-ngetukkan jari, menghentak-hentakkan kaki, mencari segelas air meskipun tidak haus. Ada pula gerakan lain yang kerap menjadi pengalih grogi, misalnya mengotak-atik benda yang ada di sekitar kita: menarik daun telinga diri sendiri, merapikan pakaian, membelai dagu, atau memainkan rambut.

Gerakan itu biasa muncul saat kita harus tampil di publik maupun pertemuan individu seperti wawancara kerja, atau misalnya saat melamar kekasih. Masalahnya, aktivitas yang tidak kita sadari tersebut terkadang mengganggu orang lain yang ada di sekitar kita.

Seorang mantan agen dan supervisor Federal Bereau of Investigation (FBI) Joe Navarro dalam artikelnya yang berjudul “Body Language of the Hands” di Psychology Today menyatakan bahwa gerakan tangan layak mendapat perhatian untuk membantu kita memahami pikiran dan perasaan orang lain.

Saat bekerja, Navarro kerap menggunakan bahasa tangan untuk merasakan sesuatu yang salah pada orang yang sedang berinteraksi dengannya. Bahkan, menurutnya, gerakan tangan lebih mampu “berbicara” ketimbang kata-kata.

Saat kita merasa nyaman, darah akan mengalir ke tangan, dan membuat tangan kita menjadi lebih hangat dan lentur. Berbeda ketika sedang stres, tangan kita akan terasa lebih dingin dan kaku. Saat seseorang sedang stres, kata Navarro, tanpa disadari ia akan sering menggosok tangan sambil meremasnya.

Selain tangan, Business Insider pernah membahas tentang gerakan tubuh yang muncul ketika Anda sedang grogi. Artikel itu merujuk dari buku yang ditulis oleh Joe Navarro berjudul What Every BODY is saying (2008).

Navarro menulis ada gerakan lain yang biasa dilakukan dalam kondisi cemas, misalnya memegang wajah, berkedip dalam frekuensi berlebih, menggerakkan bibir, memainkan rambut, hingga sering menguap.

Infografik Mengatasi Grogi Bicara di Publik
Infografik Mengatasi Grogi Bicara di Publik


Bagaimana Cara Mengantisipasi Grogi?

Situsweb Psychology Today dalam artikel berjudul “How to Conquer the Fear of Public Speaking” menyebut 1 dari 4 orang melaporkan kecemasan saat mempresentasikan ide dan informasi di depan audiens.


Bagaimana mengatasinya? Artikel itu menyebut beberapa cara. Untuk bisa masuk ke dalam keadaan tenang, berbagai teknik relaksasi bisa dilakukan untuk mengurangi peningkatan aktivitas fisiologis yang diproduksi tubuh secara otomatis. Lakukan teknik relaksasi yang bisa mengendalikan pernapasan, menurunkan detak jantung, dan mengurangi ketegangan otot.

Saat berpidato, gunakan cara yang mudah untuk memulainya. Teknik relaksasi memang tak mampu bertahan lama untuk menangkis rasa gugup. Oleh karena itu, Anda perlu meyakinkan diri bahwa Anda bisa melakukannya. Pikiran negatif akan membuat Anda semakin gugup.

Untuk menghindari rasa grogi, ubah fokus dari kinerja ke komunikasi. Ketika berfokus pada kinerja, Anda akan merasa diadili. Maka, bentuklah situasi agar audiens berpikir manfaat yang didapat dari gagasan yang Anda berikan.

Jangan lupa latihan. Semakin siap, Anda bisa mengikis rasa khawatir itu, sehingga Anda tak terlihat gugup. Semakin tinggi persiapan, Anda akan semakin fokus pada pesan yang akan disampaikan.

Baca juga artikel terkait DEBAT CAPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya Widia Primastika
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Widia Primastika
Editor: Maulida Sri Handayani