Di Agats, Papua, Mimpi Elon Musk jadi Nyata

CEO Tesla, Elon Musk, Saat memberi keterangan mobil Model Y di studio desain perusahaan di Hawthorne, California. Musk akan menghadapi pemegang saham pembuat mobil listrik selama pertemuan tahunan perusahaan. AP / Jae C. Hong,
Oleh: Ahmad Zaenudin - 30 Agustus 2019
Dibaca Normal 4 menit
Elon Musk ingin menyelamatkan dunia melalui mobil listrik.
tirto.id - “Jika seseorang membuat mobil listrik lebih baik daripada Tesla, dan mobil itu jauh lebih baik daripada milik kami sehingga kami tidak bisa menjual produk kami, kami tentu akan bangkrut. Tapi, saya pikir, itu tetap sangat baik bagi dunia ini,” demikian ucap Elon Musk dalam wawancaranya dengan Leslie Stahl dari CNN.

Kendati juga dikenal sebagai sosok yang merevolusi dunia teknologi, Elon Musk punya identitas tersendiri dalam setiap temuannya. Tengok saja: dari mulai menjadi salah seorang pendiri PayPal--nenek moyang Gopay dan OVO--menahkodai Tesla, SpaceX, hingga SolarCity (anak usaha Tesla). Semuanya punya satu kesamaan: teknologi yang ramah lingkungan.

Via SpaceX, Musk ingin roket-roketnya dapat digunakan berulang-ulang. Sementara dengan Tesla dan SolarCity, ia mengajak warga dunia secara perlahan menanggalkan energi fosil yang tak baik bagi Bumi. Caranya: mengganti mobil berbahan bakar bensin dengan mobil listrik, serta memanfaatkan cahaya matahari atau sumber ramah lingkungan lain untuk menghasilkan listrik yang dibutuhkan.

“Poin penting dari lahirnya Tesla adalah untuk mengakselerasi kendaraan elektrik dan transportasi yang ramah lingkungan,” tegas Musk. “Kami berupaya untuk menolong lingkungan (yang saat ini sedang sekarat).”


Mobil listrik, yang terus dianggap Musk mampu menolong lingkungan, memang bukan bualan. Pabrikan otomotif pesaing serta lembaga independen telah membuktikan. Renault, misalnya, sebagaimana diwartakan MIT Technology Review dalam riset mandirinya, menyebut bahwa sedan Fluence versi elektrik jauh lebih ramah lingkungan dibandingkan versi bensin.

Pada versi bensin, sedan Fluence menghasilkan karbon dioksida hingga 30 ton selepas dikendarai sejauh 15 ribu kilometer. Sementara itu, Fluence elektrik, alias Fluence Z.E, hanya menghasilkan tak lebih dari 20 ton karbon dioksida dalam jarak yang sama.

Seperti yang juga dilansir The Guardian, dalam perjalanan sejauh 100 kilometer, mobil berbahan bakar minyak membutuhkan energi sebesar 26 megajoules untuk menghidupkan mobil. Selain itu juga dibutuhkan energi tambahan sebesar 142 megajoules untuk menggerakannya. Di sisi lain, mobil listrik, yang listriknya dihasilkan pembangkit tenaga minyak, membutuhkan energi sebesar 74 megajoules untuk hidup dan energi tambahan sebesar 38 megajoules untuk bergerak.

Mobil berbahan bakar bensin secara rata-rata menghasilkan 125 gram karbon dioksida per kilometer. Sementara mobil listrik memiliki hitungan yang berbeda-beda, tergantung dari sumber apa listrik dihasilkan. Jika listrik dihasilkan dari bensin, mobil listrik menyumbang 91 gram karbon dioksida pada tiap kilometernya. Namun, jika listrik dihasilkan melalui energi nuklir, mobil elektrik hanya menghasilkan 2 gram karbon dioksida ke udara.


Umumnya berbagai negara memiliki sumber listrik yang berbeda-beda. Di Inggris, misalnya, listrik dihasilkan memanfaatkan angin. Di Perancis, listrik lebih banyak dihasilkan melalui fusi nuklir. Sementara di Indonesia, listrik dapat dihasilkan melalui tenaga uap, angin, hingga bensin.

Sayangnya, usaha Musk agar warga dunia turut mengelektrifikasikan kendaraan mereka belum dapat terwujud. Kendati sejauh ini Tesla telah menjual lebih dari 500 ribu mobil listrik, mobil berbahan bakar bensin masih jadi pilihan utama. Data Statista menyebut, per 2017, 76 persen dari total penjualan mobil di seluruh dunia masih berbahan bakar bensin. Hanya 1 persen mobil listrik yang terjual. Sementara pada 2030, mobil bensin juga diproyeksi masih akan menguasai penjualan, yakni sebesar 47 persen.

Hal tersebut tentunya membuat Musk gelisah. Dalam wawancaranya dengan Kara Swisher dari Vox, Musk bersikukuh jika mobil listrik “sangat penting untuk masa depan dunia.” Ia juga a sesumbar bahwa masalah ini jauh lebih penting dibandingkan “isu partai politik, ras, dan kepercayaan.” Dan jika masalah lingkungan tidak diselesaikan, bagi Musk “kita semua terkutuk.”

Mimpi Musk Hadir di Agats

Musk berhak mengutuk keadaan. Namun, yang mungkin ia belum tahu, bahwa di belahan dunia lain yang berjarak lebih dari 11.500 kilometer dari tempat tinggal si "Tony Stark" itu, impian mengenai jalanan dipenuhi kendaraan listrik telah terwujud. Dan tempat itu adalah Agats di Kabupaten Asmat, Papua.

Agats merupakan distrik yang menjadi ibukota Asmat. Mila Tommaseo, dalam paper Anthropometrical Study of the Asmat (Irian Jaya) (PDF), yang terbit pada Anthropologischer Anzeiger edisi September 1992, menyebut bahwa orang Asmat merupakan masyarakat yang menggunakan bahasa Non-Austronesian, bagian dari Asmat-Sempam-Kamoro.

Wilayah Asmat, dalam perhitungan yang dilakukan pada 1953, berpenduduk 35 ribu jiwa. Sementara itu, dalam sensus penduduk yang dibuat oleh Pemerintah Indonesia tahun 1971, Asmat memiliki 40 ribu jiwa penduduk. Kini, menurut Bupati Asmat, Elisa Kambu, Asmat memiliki penduduk sebanyak 31 ribu jiwa, yang tersebar di 23 distrik dan 224 kampung.

Secara geografis, Asmat memiliki luas wilayah sekitar 31 ribu kilometer persegi, memanjang dari Laut Arafura di bagian Selatan hingga pegunungan di arah sebaliknya. Wilayah Asmat, tulis Tommaseo, “memiliki aliran sungai besar dan berliku, dan daerah itu mengalami banjir berkala. Karena itu, rumah-rumah tradisional Asmat dibangun di atas tiang atau di pohon.”

Singkat cerita, Asmat, dan tentu saja di ibukota Agats, melakukan kehidupan dengan cara “terbang,” tak menginjak tanah.


Untuk hidup dan bermasyarakat, warga Agats menciptakan jembatan, yang landasan dan tiang pancangnya terbuat dari kayu besi. Kayu Besi yang dimaksud adalah Merbau atau Ipil (Intsia Bijuga). Dan selain digunakan untuk jembatan, kayu Besi di Agats digunakan pula untuk membangun rumah.

Kayu besi tersebut merupakan kayu khas yang tumbuh di daerah Indo-Pasifik, khususnya Maluku dan Papua, hingga ke Tanzania dan Madagaskar. Di Indonesia, kayu besi merujuk pada Ulin alias Eusideroxylon Zwageri Teijsm. Namun, kayu jenis ini tumbuh di Jawa, Kalimantan, dan Sumatera.

“Tuhan itu adil, kita hidup di rawa-rawa dan tidak lupa Tuhan kasih kayu begini,” cetus salah seorang warga Agats. “Semakin terendam air, kayunya semakin kuat,” tambahnya.

Karena mengandalkan lapisan-lapisan kayu, warga Agats hanya dimungkinkan untuk berjalan kaki, baik dari rumah ke rumah atau ke kantor-kantor pemerintahan. Kendaraan bermotor dilarang ada di lingkungan Agats karena memiliki efek getar yang tinggi sehingga dapat membahayakan fondasi jembatan-jembatan di sana.



Namun, menurut Elisa Kambu, Agats perlahan berkembang. Katanya, “dulu kayu saja. Orang jalan saja (untuk berinteraksi dengan masyarakat). Tapi, waktu itu kota juga belum luas. Kini berbeda. Aktivitas jalan kaki juga sudah tidak bisa, terlalu jauh.”

Sebagaimana dituturkan Johanis Gabriel Fofid, salah seorang warga Agats. Sejak tahun 2006, Bupati Agats kala itu, Yuvensius Alfonsius Biakai, berinisiatif mendatangkan motor listrik dari Surabaya. Dan karena motor listrik tidak menghasilkan efek getar yang tinggi selayaknya motor bensin, ia juga menyetujui warganya memiliki kendaraan ini. Persetujuan tersebut didukung pula dengan upaya mengganti jembatan utama Agats memakai tiang pancang beton.

13 tahun berlalu, kurang lebih sekitar 5.000 motor listrik telah berlalu-lalang di sepanjang jembatan Agats, lengkap dengan sistem penomoran ala Dinas Perhubungan Agats. Motor-motor listrik dengan banyak varian dan berasal dari Cina itu mayoritas dibeli di Surabaya. Harganya tak berbeda jauh dengan motor bensin, merentang dari Rp10 juta hingga Rp14 juta.


Untuk dapat digunakan, motor-motor listrik diisi daya saban malam, hingga 8 jam. Setelahnya, motor dapat digunakan seharian. Karena area terbatas, motor-motor yang lalu-lalang di Agats hanya berkecepatan sekitar 20-40an kilometer per jam.

Persoalannya kemudian, perawatan motor listrik terbilang mahal. Untuk mengganti dinamo yang rusak, misalnya, bisa menghabiskan uang hingga Rp2 juta. Ditambah dengan wilayah Agats yang sulit dijangkau, maka sekadar untuk mengganti ban--luar dan dalam--juga perlu uang hingga Rp1 juta. Lainnya, listrik di Agats juga masih belum stabil sepenuhnya. Di perkampungan baru yang ada di sana, listrik kemudian diberdayakan melalui sel surya.

Kendati demikian, dengan mengelaborasi pemikiran Monique Borgerhoff Mulder dalam papernya berjudul “Adaptation and Evolutionary Approaches to Anthropology,” sikap warga Agats memilih menggunakan motor listrik sesungguhnya adalah bentuk dari "history of the trait": suatu bentuk sikap manusia yang lahir dan dibentuk oleh seleksi alam. Bukan atas kehendak bebas mereka.

Maka dari itu, Elisa Kambu patut berbangga hati: “Kalau di Jakarta (motor listrik) masih wacana. Kita sudah jalan." Dan Elon Musk mestinya melihat: di Agats, mimpinya jadi nyata.

Baca juga artikel terkait ELON MUSK atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Mild Report)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Eddward S Kennedy
DarkLight