Kapan Harga Mobil Listrik Menjadi Lebih Murah?

Infografik Mobil Listrik di Indonesia
Ilustrasi kendaraan listrik. FOTO/Istockphoto
Oleh: Dio Dananjaya - 12 Agustus 2019
Dibaca Normal 3 menit
Mahalnya harga mobil listrik menimbulkan sejumlah pertanyaan, salah satunya mungkinkah ada penurunan harga?
tirto.id - Peraturan Presiden (Perpres) terkait mobil listrik akhirnya diteken Presiden Joko Widodo. Rancangan regulasi ini diharapkan segera terbit dan dapat mengakselerasi industri mobil listrik. Aturan baru ini diharapkan mampu menekan harga mobil listrik, sehingga memacu konsumen untuk membeli mobil yang lebih ramah lingkungan.

Selama ini, harga mobil listrik di tanah air memang masih mahal karena mayoritas komponen mobil listrik saat ini masih bergantung dari luar negeri, karena bahan baku yang tak tersedia di Indonesia. Selain biaya komponen yang tinggi, ada pula masalah pajak yang dianggap menghambat penetrasi mobil listrik di Indonesia.

Pemerintah bersama instansi/lembaga terkait dan pengusaha dikabarkan telah siap mendorong penjualan mobil listik menjadi lebih banyak lagi. Salah satunya melalui beragam aturan yang lebih "ramah" untuk industri mobil listrik.

Terkait pengembangan mobil listrik, Indonesia sebenarnya telah memiliki road map yang menargetkan pada tahun 2025, kendaraan listrik akan meraih 20 persen pangsa pasar dari penjualan mobil nasional. Menyikapi rencana ini, sejumlah produsen otomotif ternama juga sudah melakukan investasi besar-besaran di Tanah Air.

Menteri Perindustrian RI, Airlangga Hartarto, mengatakan saat ini dua pabrikan besar yaitu Toyota dan Hyundai akan berinvestasi di sektor kendaraan listrik dengan nilai total mencapai Rp50 Triliun untuk 5 tahun yang akan datang. Besarnya investasi yang dilakukan produsen otomotif, salah satunya disebabkan karena pengembangan teknologi yang dipicu oleh elektrifikasi, konektivitas, dan autonomous driving.

“Saya sudah mendapat informasi untuk komponen penunjang seperti baterai juga akan ada investasi baru. Sehingga saya optimis bahwa dalam waktu 5 tahun yang akan datang saya menargetkan akan ada Rp100 Triliun investasi baru di sektor otomotif,” kata Airlangga di gelaran GIIAS 2019 Juli lalu.


Dilansir dari Automotive News Europe, sebuah survei yang dilakukan harian bisnis Nikkan Kogyo menempatkan perusahaan otomotif di empat urutan teratas dalam jumlah terbesar pengeluaran untuk penelitian dan pengembangan (R&D).

Menurut survei tersebut, pengeluaran R&D terbesar biasanya dilakukan oleh perusahaan elektronik seperti Sony, Panasonic, atau Toshiba. Namun, pada tahun ini, investor terbesar asal Jepang ialah Toyota yang menganggarkan untuk penelitian dan pengembangan senilai 1,1 triliun yen atau setara Rp 147 triliun pada tahun fiskal 2019.

Sementara di urutan kedua ada Honda yang mengalokasikan anggaran sebesar 860 miliar yen atau sekitar Rp115 triliun, ketiga Nissan dengan 550 miliar yen (Rp73 triliun) dan Denso sebesar 520 miliar yen (Rp69 triliun).

Pasar Mobil Dunia Turun

Mobil listrik dipercaya akan menyamai bahkan melampaui penjualan mobil dengan mesin bakar internal. Namun, untuk saat ini tantangan memasarkan mobil listrik begitu terasa, bukan hanya karena faktor harga yang masih terbilang mahal. Pasalnya pasar mobil di seluruh dunia saat ini tengah mengalami tren yang stagnan.

Sebagai gambaran, untuk saat ini hanya ada 1 dari 250 mobil di jalan yang mengusung penggerak dari baterai listrik. Secara global, penjualan mobil listrik hanya meraih 2,1 persen dari sekitar 2 juta kendaraan penumpang. Promosi mobil listrik yang gencar di saat yang sama harus melawan penurunan penjualan mobil yang makin meluas.

President of Global Forecasting LMC Automotive, Jeff Schuster, mengatakan, pasar otomotif yang telah matang seperti Eropa Barat, AS, Jepang dan Korea kemungkinan akan mengalami penurunan permintaan selama lima atau tujuh tahun ke depan. Artinya, peluang pertumbuhan industri global akan bergantung pada pasar negara berkembang.

“Risiko penjualan mobil secara global semakin meningkat, dan ketidakpastian tetap tinggi. Saat ini banyak dari negara-negara berkembang sedang dalam penurunan, dan itu risiko bagi pasar global jangka panjang,” kata Schuster kepada Automotive News Europe.

Ia memprediksi penjualan kendaraan ringan secara global akan turun pada tahun 2019, karena gesekan perdagangan dan tarif terutama dengan Uni Eropa. Pada saat yang sama, aturan emisi yang ketat di Eropa dan Cina, membuat produsen mobil lebih mengandalkan peluang penjualan kendaraan elektrifikasi.


Meski pasar mobil listrik masih sangat sedikit, akan tetapi potensi pasar di negara berkembang memberikan gambaran cerah mengenai industri elektrifikasi ke depannya. Laman Quartz misalnya menunjukkan dua laporan yang memprediksi peningkatan jumlah mobil listrik di dunia.

Pertama ‘Outlook Electric Vehicle 2019’ dalam Bloomberg New Energy Finance (BNEF) yang memproyeksi jumlah kendaraan listrik akan melonjak pada tahun 2040 menjadi 548 juta unit, atau setara 31 persen dari total penjualan kendaraan penumpang. Kemudian Exxon Mobil yang memaparkan jika jumlah EV hanya mencapai 162 juta unit pada 2040, atau lebih rendah 70 persen dari proyeksi sebelumnya.



Ada Peluang Jadi Lebih Murah

Jumlah penjualan mobil listrik dibanding dengan mobil dengan mesin bakar internal (ICE) barangkali masih jauh dari kata ideal. Namun, ada daya tarik yang bisa dipertimbangkan konsumen, yaitu menurunnya harga jual mobil listrik. Sebab BNEF menganalisa mulai tahun 2022, banderol mobil listrik akan jauh menurun dibandingkan sekarang.

Nathaniel Bullard, periset dari BNEF, mengatakan bahwa pihaknya telah mencatat perbedaan antara harga EV dan ICE yang semakin mengecil tiap tahunnya. “Titik saat kendaraan listrik menjadi lebih murah daripada kendaraan dengan mesin bakar internal, akan menjadi momen penting bagi pasar EV,” ujarnya dikutip dari The Driven.

Figur angka yang dikumpulkan BNEF juga memperlihatkan bahwa setelah 2022, besar kemungkinan jika harga EV akan lebih murah atau setara dengan ICE. Alasan di balik laporan ini adalah karena penurunan harga baterai.

Seperti diketahui, selama bertahun-tahun nilai baterai berharga sekitar setengah dari total biaya mobil listrik. Persentase harga baterai tahun ini saja disebut makin mengecil, sekitar sepertiga dari total biaya. Malah prediksi BNEF, pada 2025 harga baterai akan berada di bawah 25 persen

Selain harga baterai, menurunnya biaya komponen lain seperti sasis dan bodi turut menyumbang semakin terjangkaunya harga EV. Laporan BNEF malah mencatat ada kemungkinan kendaraan ICE jadi lebih mahal karena harus mengambil langkah-langkah untuk memenuhi target emisi yang lebih ketat.

Bertambahnya permintaan pasar mobil listrik secara tak langsung akan turut meningkatkan skala produksinya. Hasilnya memberi efek domino pada drivetrain listrik, motor inverter, hingga perlengkapan elektronik yang disebut bakal lebih murah murah 20 sampai 30 persen dari harga sekarang.

Baca juga artikel terkait MOBIL LISTRIK atau tulisan menarik lainnya Dio Dananjaya
(tirto.id - Otomotif)


Penulis: Dio Dananjaya
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight