Detail Laporan Awal KNKT Soal Lion Air JT 610

Oleh: Rio Apinino - 28 November 2018
Dibaca Normal 2 menit
KNKT merilis laporan awal soal Lion Air JT 610 yang jatuh bulan lalu. Ditemukan beberapa kerusakan teknis.
tirto.id - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) merilis laporan awal (preliminary report) soal Lion Air JT 610 yang jatuh satu bulan lalu pada Rabu (28/11/2018) siang.

Laporan ini didasarkan atas investigasi KNKT serta pihak lain yang berkompeten seperti National Transportation Safety Board Amerika, Transport Safety Investigation Bureau (TSIB) Singapura, serta Australian Transport Safety Bureau (ATSB).

Dalam dokumen resmi yang diterima reporter Tirto, KNKT menekankan bahwa laporan ini "tidak menyertakan analisis dan kesimpulan." Tujuan satu-satunya laporan ini adalah agar otoritas terkait dan maskapai dapat meningkatkan aspek keselamatan masing-masing. Dengan demikian, tulis mereka, "laporan ini dapat menyesatkan jika digunakan untuk tujuan lain."

Dokumen ini terdiri dari 68 halaman yang terbagi dalam beberapa bab. Bagian yang paling penting adalah "findings" yang terdapat pada halaman 22.

Dalam catatan kaki, disebutkan bahwa "findings" adalah pernyataan dari semua kondisi, peristiwa, atau keadaan yang signifikan dalam urutan kecelakaan." Antara satu kondisi dan kondisi lain tidak selalu menunjukkan hubungan sebab-akibat, tetapi "biasanya penting untuk memahami apa yang terjadi."

Isi dari bab ini sebetulnya sudah sering beredar dalam satu bulan terakhir, namun untuk kali ini lebih kuat karena sudah diverifikasi.

Bermasalah Sejak Bali-Jakarta


Misalnya soal kerusakan pada sensor Angle of Attack (AoA). Laporan ini menyebut bahwa AoA pesawat bermasalah sejak dari penerbangan sebelumnya dengan rute Denpasar-Jakarta, 28 Oktober 2018 malam.

Beberapa waktu lalu Boeing, produsen pesawat, bahkan merilis petunjuk teknis untuk awak pesawat apa yang harus dilakukan jika terjadi masalah pada sensor AoA—yang mengindikasikan bahwa masalah memang sudah ada sejak dari pabrikan.

AoA atau sudut serang adalah sudut antara sayap pesawat dan aliran udara yang melewati sayap. Jika sudut terlalu besar, maka sayap bisa kehilangan daya angkat, apalagi jika penerbang/pilot terlambat memperbaiki situasi ini.


Apa akibatnya? Laporan, berdasarkan Flight Data Recorder (FDR) mencatat, sebelum hingga selama penerbangan dari Denpasar ke Jakarta itu terjadi stick shaker atau kontrol di kokpit yang bergetar. Pada ketinggian 400 kaki, kecepatan pesawat jadi berubah-ubah. Hidung pesawat pun turut secara otomatis sebelum diatur kembali oleh pilot.

Proses anjlok dari ketinggian cukup drastis: 1 menit 4 detik setelah lepas landas mencapai ketinggian 480 meter. Dalam tempo 20 detik, pesawat turun jadi 410 meter. Lalu pilot menarik tuas mesin hingga 453 km/jam dan pesawat kembali naik. Selang 2,3 menit kemudian ketinggian pesawat berkisar 1700 meter.

Dan, lagi-lagi, Lion Air PK-LQP anjlok drastis. Ketinggian pesawat turun hingga 300 meter dalam tempo 25 detik.

Investigator KNKT Subkomite Penerbangan Nurcahyo Utomo mengatakan seharusnya sejak awal Lion Air tak meneruskan penerbangan.

"Dengan kondisi adanya kerusakan sensor Angle of Attack seperti itu harusnya pesawat kembali ke bandara asal, bukan meneruskan penerbangan," kata Nurcahyo, seperti dikutip dari Antara.

Beruntung akhirnya Lion Air PK-LQP itu mendarat pukul 22.56 WIB atau setelah terbang 1 jam 36 menit.

Setelah itu, pilot memberitahu engineer soal masalah yang terjadi selama perjalanan. Pilot juga melaporkannya lewat sistem pelaporan elektronik bernama A-SHOR. Tes menyimpulkan masalah terselesaikan meski berdasarkan Aircraft Flight Maintenance Log (AFML) pesawat ini mengalami enam masalah yang semuanya terkait dengan kecepatan dan ketinggian sejak 26 Oktober 2018.

Masalah Rute Penerbangan Jakarta-Pangkal Pinang


Lion Air JT 610 kembali berangkat ke Pangkal Pinang. Sensor AoA ternyata mengalami masalah yang sama: "Digital Flight Data Recorder (DFDR) mencatat perbedaan antara AoA kiri dan kanan [sayap] sekitar 20 derajat dan berlanjut hingga akhir rekaman."

Hidung pesawat naik turun. 24 kali dalam 11 menit.

Stick shaker juga kembali terjadi sesaat sebelum lepas landas.

Infografik HL Indepth Peta Penerbangan Lion Air


Di atas pesawat, pilot Bhavye Suneja, seorang warga India, lapor ke petugas pemandu lalu lintas penerbangan soal "flight control problem." Komunikasi terjadi ketika pesawat berada di ketinggian 900 kaki.

Pesawat itu hilang kontak 13 menit setelah lepas landas pada 06.20 pada koordinat 05 46.15 S - 107 07.16 R KMA. Titik itu persis di perairan Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat.

Setelah laporan ini dirilis, KNKT dan tim akan terus melakukan investigasi. Salah satu kunci agar apa yang terjadi semakin terang adalah data pada Cockpit Voice Recorder (CVR) yang sayangkan sampai saat ini belum ditemukan.

Baca juga artikel terkait LION AIR JATUH atau tulisan menarik lainnya Rio Apinino
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Ringkang Gumiwang
Penulis: Rio Apinino
Editor: Jay Akbar
Dari Sejawat
Infografik Instagram