Derita Romusa Klender dan Terbunuhnya Kepala Laboratorium Eijkman

dr. Achmad Mochtar. wikipedia/public domain
Oleh: Petrik Matanasi - 6 Mei 2020
Dibaca Normal 2 menit
Kepala Laboratorium Eijkman dibunuh atas tuduhan telah meracun para romusa di Klender lewat vaksin.
Di desa Klender, tentara Jepang membangun kamp khusus untuk orang-orang yang mereka juluki Pahlawan Pekerja. Para pekerja paksa itu dikenal dengan sebutan romusa. Mereka divaksinasi agar tidak sakit dan terus bermanfaat bagi militer Jepang. Mereka juga tentu saja tidak digaji dan asupan makan yang sangat morat-marit.

Suatu hari di pertengahan tahun 1944, vaksin penyakit tifus dan penyakit kolera buatan Bo'eki Kenkyujo (nama Jepang untuk Institut Pasteur di Bandung) tiba di Klender. Kedua vaksin itu segera disuntikkan kepada para romusa. Delapan hari kemudian, sekitar 90 orang romusa asal Pekalongan dan Semarang merintih kesakitan.

Menurut Aiko Kurasawa dalam artikel yang tayang di Tempo (29/06/2015), pihak militer Jepang kemudian menghubungi rumah sakit yang kini bernama Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo untuk minta bantuan dokter. Diperkirakan ada ratusan bahkan ribuan romusa yang menderita akibat pemberian vaksin yang ternyata beracun.

Para pasien segera ditangani sejumlah dokter, bahkan Profesor Kenji Tanaka yang mengajar di Sekolah Tabib alias Ikadai Gakku di Jakarta pun turun tangan. Namun beberapa hari setelah kejadian, para dokter sipil dilarang masuk kamp Klender dan pemeriksaan hanya dilakukan oleh pihak militer Jepang.

Menurut catatan Tempo (29/03/1975), para dokter dan analis di Lembaga Eijkman kemudian dilibatkan. Dokter Bahder Djohan meminta dokter Soetomo Tjokronegoro (pimpinan bagian anatomi) untuk menyayat bagian badan yang disuntik vaksin tersebut. Setelah diperiksa oleh Jatman (analis bakteriologi), disimpulkan bahwa kematian massal itu disebabkan oleh tetanus toksin yang tercampur pada vaksin kolera dan vaksin disentri.

Namun celaka, militer Jepang malah menuduh Lembaga Eijkman sebagai biang keladi.

“Cerita keterlibatan Laboratorium Eijkman diciptakan oleh bagian medis Angkatan Darat ke-16 dan Kempeitai,” tulis Aiko Kurosawa. Lewat Letnan Nakamura, dokter Angkatan Darat Jepang dari satuan pencegahan wabah, dalam laporan rahasianya menunjuk kepala Laboratorium Eijkman Profesor Dokter Achmad Mochtar dan rekannya harus bertanggungjawab atas kejadian itu.

Vaksin maut yang dipakai di Klender itu memang sebagian sempat disimpan di Laboratorium Eijkman. Hal inilah yang kemudian menjadi sasaran empuk militer Jepang untuk menjadikan lembaga tersebut sebagai kambing hitam.

Menurut Jatman, tak ada bukti nyata bahwa dokter Achmad Mochtar dan bawahannya memasukan racun ke vaksin-vaksin itu. Sementara itu, Institut Pasteur yang membuat vaksin, toksin dan antitoksin di Bandung, bebas dari ancaman pengadilan ala fasis Jepang itu. Botol-botol vaksin bikinan Institut Pasteur Bandung itu tak dihiraukan militer Jepang.


Eksekusi dan Dugaan Pelaku

Achmad Mochtar (1894-1945) adalah dokter lulusan STOVIA dan doktor lulusan Universitas Amsterdam. Sebelum tragedi kematian romusa Klender, ahli bakteri ini megajar juga di Sekolah Tabib Jakarta. Dia adalah orang Indonesia pertama yang menjadi kepala Laboratorium Eijkman. Menurut Kevin Baird dan Sangkot Marzuki dalam War Crimes in Japan-Occupied Indonesia: A Case of Murder by Medicine (2015), Achmad Mochtar ditangkap pada 7 Oktober 1944 oleh aparat fasis Jepang.

Selain Achmad Mochtar, Jepang juga menangkap Wakil Kepala Laboratorium Eijkman Joehana Wiradikarta, Kepala Bagian Bakteriologi M. Ali Hanafiah, Kepala Bagian Kimia Soetarman, analis Jatman dan Subekti, serta mantri laboran Moehtar.

Di luar orang-orang Laboratorium Eijkman, militer Jepang juga menangkap dokter Asikin Widjajakusuma dan Soeleiman Siregar dari Rumah Sakit Umum Pusat. Sementara dari Djawatan Kesehatan Kota terdapat dokter Marzoeki, Marah Achmad Arif, dan Soeleiman.

“Berhari-hari dan bermingggu-minggu saya diperiksa terus-menerus dengan ancaman-ancaman seperti tamparan, pukulan dan lain-lain siksaan,” ujar Jatman dalam catatannya yang ditulis pada 1970 seperti dikutip Tempo (29/03/1975).

“Surat pengakuan sudah disiapkan dan saya diminta supaya menandatangani. Pernyataan itu bertentangan dengan hasil pemeriksaan yang saya lakukan tempo hari. Dan yang paling berat kalau saya tandatangani berarti saya mendorong Achmad Mochtar ke liang kubur,” imbuhnya.




Meski Jatman tidak menandatangani, namun nyawa Achmad Mochtar tetap terancam karena laporan Nakamura menjadi pedoman utama penyelesaian kasus vaksin tragedi Klender. Intinya bagi militer fasis Jepang, dokter Achmad Mochtar tetap salah. Mereka kemudian mengancam akan membunuh kolega atau keluarga yang bersangkutan. Achmad Mochtar pun terpaksa mengaku bersalah dan akhirnya kasus vaksin di Klender tertutupi.

“Mochtar telah dieksekusi pada pukul 3 sore 13 Juli 1945,” tulis Kevin Baird dan Sangkot Marzuki. Achmad Mochtar dibunuh di Ancol dan dimakamkan di Ereveld Ancol.

Dalam tulisannya, Aiko Kurasawa mengisahkan soal perampokan di Bank Teigin, Jepang, pada 26 Januari 1948. Si perampok mengaku sebagai ahli vaksin bernama Shigeru Mitsui. Setelah para karyawan ditipunya untuk divaksin, uang dikasir ia sikat. Namun, orang yang jadi tersangka dan kemudian dihukum adalah seorang seniman.

Menurut Aiko Kurosawa, Shigeru Mitsui mengaku pernah membunuh ratusan orang di Sumatra dengan vaksin. Dia sudah bekerja di Institut Pasteur (Bo'eki Kenkyujo) di Bandung dua bulan sebelum tragedi romusa Klender.

Baca juga artikel terkait EIJKMAN INSTITUT atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight