Debat Pilkada Solo: Bajo vs Gibran Miskin Solusi Konkret

Oleh: Zakki Amali - 7 November 2020
Dibaca Normal 2 menit
Kedua kandidat dinilai minim pengalaman dan tak siap berikan solusi konkret atas masalah perkotaan di Solo.
tirto.id - Pemilihan kepala daerah memasuki tahap akhir. Mendekati pencoblosan pada 9 Desember, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Surakarta menggelar debat kandidat.

Dari 270 daerah yang menggelar pilkada, ini kali pertama stasiun televisi swasta nasional menayangkan debat kandidat. Solo dianggap punya daya tarik nasional karena kampung halaman Presiden Joko Widodo sekaligus putra tertuanya Gibran Rakabuming Raka maju pilkada.

Pandemi Corona bukan jadi penghalang bagi pilkada, termasuk saat debat kandidat Solo antara Bagyo Wahyono-FX Supardjo (Bajo) dan Gibran Rakabuming Raka-Teguh Prakosa.

Dalam amatan reporter Tirto dari lokasi debat di The Sunan Hotel Solo, ruangan diisi 50 orang dengan jarak kursi antarorang sekitar satu meter. Tepuk tangan dan yel-yel massa pendukung hilang dari lokasi seperti debat pada umumnya, karena keduanya tanpa massa. Di lobi hotel hanya ada polisi berpakaian sipil di lobil hotel.

Di akhir debat, para kandidat buru-buru meninggalkan lokasi. Sigit Prakoso, ketua tim pemenangan Bajo bilang kondisi kandidat tidak memungkinkan untuk wawancara. Sedangkan Gibran menyebut penilaian atas performa debat diserahkan kepada masyarakat.

“Ya masalah [debat] memuaskan atau tidak yang menilai biar warga. Ini saya dan Pak Teguh mau istirahat. Besok mau blusukan lagi,” kata Gibran.

Isu Milenial dan Misregulasi

Debat pilkada berjalan selama hampir dua jam pada sesi puncak penonton televisi (prime time). Gibran dan Teguh mengenakan pakaian senada, baju lengan panjang putih dan celana hitam. Bajo memilih pakaian serba hitam dan berpeci.

Bagyo sempat menyentil Gibran dalam sesi pertanyaan, “Saya hanya pingin tanya ke Mas Gibran, jenengan jargonnya milenial, apa yang pernah dilakukan untuk Kota Solo?”

“Kita akan bangun creative hub. Kita ajarin hard skill [...] soft skill. Saya yakin anak-anak muda mampu membuat ekosistem usaha,” kata Gibran yang kini berusia 33 tahun.

Tak cukup program kerja Gibran, Bagyo mengejar peristiwa masa lampau. Gibran lalu memaparkan pengalamannya menjalankan usaha selama 10 tahun terakhir dan banyak bisnis yang dikelola serta menciptakan lapangan kerja bagi banyak orang yang dianggap bentuk kontribusi bagi bangsa.

“Sekarang saya nyempung ke politik, tujuannya biar saya bisa bermanfaat untuk orang yang lebih banyak lagi [...] mungkin kontribusi saya belum banyak, tapi Insyaallah ke depan saya bisa lebih lagi,” kata Gibran.


Dalam sesi berikutnya, giliran Gibran kritik lawannya yang berencana bangun perumahan atau rusunawa untuk warga miskin di bantaran sungai. Menurutnya banyak kota sudah bersihkan bantaran sungai dari rumah karena area sempadan terlarang untuk bangunan sesuai regulasi. Bantaran Sungai Bengawan Solo di Surakarta juga sudah dibersihkan dari hunian semasa Jokowi memimpin dan penerusnya FX Rudy Hadyatmo.

Bagyo tetap pada pendiriannya, karena potensi lahan di perkotaan minim. Solo hanya punya luas wilayah 44 kilometer persegi.

“Andaikata rusun terlalu tinggi [bisa perumahan] ditambahkan di bantara sungai. Sungai diberi talud. Di pinggiran bisa dibuat rumah," imbuh Suparjo, calon wakil wali kota Solo.

Dalam isu minoritas, Gibran dapat pertanyaan terkait solusi kesejahteraan apa bagi disabilitas netra yang belum diterima sepenuhnya oleh masyarakat, sehingga lahan pekerjaan terbatas, kebanyakan jadi tukang pijat.

Dia berjanji bakal beri prioritas kepada mereka, terutama saat pandemi tengah tren pariwisata kesehatan (wellness tourism). Disabilitas netra akan diberdayakan sebagai tukang pijat dan diberi sertifikat.

“Makin terbawah dan terpuruk diprioritaskan. Saat pandemi kita melihat peluang, sektor pariwisata wellness tourism, mereka bisa berpartisipasi sebagai pemijat,” kata Gibran.

Di sesi berikutnya, Gibran kepada Bagyo bertanya soal cara menaikkan pendapatan asli daerah (PAD) saat pandemi Corona.

Bagyo punya program pariwisata dimulai denan renovasi bangunan Keraton Surakarta, hadirkan hiburan untuk orang tua seperti ketoprak dan keroncong. Sektor ekonomi fokus di pasar tradisional, industri kerajinan dan kuliner.

Program Tak Konkret

Kedua pasangan calon menjelang debat saling mengklaim telah belajar materi. Jokowi, sebagai ayah, meminta Gibran agar menjalani debat secara tenang. Beberapa jam sebelum debat, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo ke Solo untuk beri dukungan ke Gibran. Sedangkan Bajo mengakui punya tim ahli lulusan universitas Amerika Serikat sebagai mentor debat.

Namun, menurut dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UNS Solo, Didik Gunawan Suharto mengatakan, debat pada akhirnya hanya berfungsi sebagai ajang sosialisasi dan kampanye kandidat. Jawaban mereka terkesan normatif dan jauh dari solusi konkret, katanya.


Kurangnya greget debat, kata Didik, juga berkaitan faktor teknis seperti waktu debat terbatas. Namun masalah utamanya adalah miskinnya program konkret yang ditawarkan kandidat dipicu minimnya pengalaman sebagai administrator pemerintahan.

“Kurangnya pengalaman calon terkait penanganan masalah di lapangan, akses data dan dukungan tim ahli minim. Itu membuat debat normatif,” ujar Didik kepada reporter Tirto.

Ia melanjutkan, setelah debat perlu dilihat ada atau tidak pengaruh perebutan suara 400 ribuan pemilih di Solo. “Sejauh mana efektivitas debat pilkada dalam mempengaruhi pemilih? Ini tantangannya,” katanya.

Baca juga artikel terkait PILWAKOT SOLO 2020 atau tulisan menarik lainnya Zakki Amali
(tirto.id - Politik)

Reporter: Irwan Syambudi & Zakki Amali
Penulis: Zakki Amali
Editor: Rio Apinino
DarkLight