Menuju konten utama

Daftar Loyalis Jokowi yang Kecewa dengan Putusan MK

Loyalis Jokowi merasa kecewa dengan putusan MK karena dianggap memuluskan Gibran jadi cawapres. 

Daftar Loyalis Jokowi yang Kecewa dengan Putusan MK
Presiden Joko Widodo menyampaikan pidato saat ground breaking kompleks perkantoran Bank Indonesia di Ibu Kota Nusantara, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Kamis (2/11/2023). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/YU

tirto.id - Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait uji materi usia minimal capres-cawapres pada Senin, 16 Oktober 2023 membuat sederet loyalis Presiden Joko Widodo (Jokowi) kecewa.

MK dalam keputusan itu mengubah klausul “berusia paling rendah 40 (empat puluh) tahun” menjadi “berusia paling rendah 40 (empat puluh) tahun atau pernah/sedang menduduki jabatan yang dipilih melalui pemilihan umum termasuk pemilihan kepala daerah.”

Keputusan MK tersebut menuai komentar negatif dari berbagai pihak. Pasalnya, tidak sedikit yang beranggapan bahwa keputusan uji materi itu tidak lain merupakan karpet merah yang sengaja dipersiapkan agar Gibran bisa maju sebagai cawapres.

Dengan keputusan itu, batu sandungan utama putra sulung Presiden Jokowi terkait usia sudah tersingkir, Gibran yang saat ini masih berusia 36 tahun namun sedang menjabat sebagai Wali Kota Surakarta bisa bertarung dalam Pilpres 2024.

Ketua MK yang merupakan paman dari Gibran dan ipar dari Presiden Jokowi lantas dilaporkan oleh sejumlah pihak atas dugaan pelanggaran kode etik.

Tidak hanya itu, polemik putusan MK ini juga memantik pengajuan penggunaan hak angket DPR RI hingga wacana pemakzulan Presiden Jokowi.

Daftar Loyalis Jokowi yang Kecewa dengan Putusan MK

Kekecewaan atas putusan MK juga datang dari para loyalis Presiden Jokowi yang selama ini mendukung pemerintahannya. Mereka adalah Gunawan Muhammad, Butet Kartaredjasa, Denny Siregar, Panda Nababan, Adian Napitupulu, dan Andi Widjajanto.

1. Goenawan Muhammad

Budayawan sekaligus pendiri Majalah Tempo, Goenawan Muhammad menangis saat mengungkapkan kekecewaannya kepada Presiden Jokowi dalam acara Rosi yang tayang di Kompas TV.

Menurut Goenawan, kemarahannya kepada Jokowi adalah karena tidak adilnya cara Gibran naik ke atas, bukan karena Gibrannya, bukan karena umurnya, tapi karena tidak fair.

Dia menambahkan, ketika hal itu rusak, sistem di kehakiman terutama tingkat Mahkamah Konstitusi, itu berbahaya sekali. Sebab, kata dia, ketika kita memerlukan MK sebagai wasit yang tidak memihak, orang tidak percaya dan itu berbahaya sekali.

Goenawan dengan berlinang air mata menumpahkan kekhawatirannya terhadap masa depan bangsa Indonesia yang akan dihuni oleh anak dan cucunya nanti.

“Memangnya saya tega? Negeri ini nanti akan dihuni oleh cucu saya anak saya mengalami kekacauan? Emangnya saya tega?” ucapnya.

Dia lantas mengenang, ayahnya yang meninggal dunia karena ditembak oleh tentara penjajah Belanda, di mana sanga ayah memiliki harapan pada bangsa ini. Oleh karena itu, Goenawan bilang dia harus ikut lari, mau ikut lagi, tapi dia tidak bisa sepenuhnya.

2. Butet Kartaredjasa

Seniman Butet Kartaredjasa yang selama ini mendukung Jokowi kecewa dengan adanya putusan MK yang terlihat jelas menguntungkan Gibran. Dia mengungkapkan putusan MK itu telah meruntuhkan nilai dari Jokowi di matanya.

“Sedih, sedih banget. Ini awal bencana moral. Merontokkan legacy Pak Jokowi sebagai role model pemimpin yang baik,” ucapnya dikutip dari YouTube Kompas.

Mengenai majunya Gibran sebagai cawapres, Butet mempertanyakan kapabilitas Gibran. Butet meragukan pengalaman yang dimiliki Gibran seperti yang tercantum dalam putusan MK pada 16 Oktober lalu.

“Berpengalaman selama 2 tahun? 2 tahun kok pengalaman. Setidaknya menyelesaikan tugas dan kewajiban yang 5 tahun dong,” kata Butet.

3. Denny Siregar

Denny Siregar mengungkapkan kekecewaannya kepada Jokowi, orang yang selama ini dia percaya dan bela supaya bisa memimpin Indonesia, malah melakukan hal yang bertentangan dengan konstitusi.

“Saya awalnya menyangkal, lalu saya marah, kemudian saya mencoba menghibur diri, kemudian depresi, dan akhirnya ketika MK mengetok palu yang meloloskan yang membuat Gibran punya peluang jadi cawapres, saya sudah pada tahap menerima semua,” ujarnya di YouTube 2045 TV.

Denny lalu menjelaskan bahwa dia marah bukan kepada personal Jokowi atau pun Gibran, tetapi dia marah karena betapa bobroknya sistem hukum di Indonesia sehingga MK yang seharusnya menjadi penjaga hukum, begitu rapuh sehingga bisa diatur oleh kekuasaan.

“Bau amis ada ‘campur tangan’ orang kuat untuk meloloskan Gibran jadi cawapres ini menyengat banget, dan merusak nurani banyak orang,” ungkapnya.

“Betapa malunya ketika hukum seperti diinjak-injak hanya untuk meloloskan seseorang yang merupakan anggota keluarga dari Ketua Mahkamah,” lanjutnya.

Itulah mengapa Denny bilang bahwa dia muak dan sudah habis suara untuk mengingatkan Jokowi untuk mengingatkan tentang hal ini. Kata Denny, dia terus diserang dan dicaci karena dianggap menyebarkan kebencian pada Jokowi.

4. Panda Nababan

Politisi senior PDIP, Panda Nababan, mengungkapkan bahwa dia tidak habis pikir dengan Gibran yang dianggapnya tidak loyal dan berbohong.

Panda pada Rabu, 11 November 2023 mengatakan bahwa dia mengakui majunya Gibran sebagai cawapres di luar logika dan akal sehatnya.

Panda mengaku belum pernah menemukan manusia Indonesia yang semudah itu berbohong dan tidak merasa bersalah. Dia merujuk pada perkataan Gibran yang tidak bisa dipegang karena pada awalnya mengatakan akan loyal kepada Megawati tapi malah berbalik arah.

Padahal, sebelum Gibran maju sebagai cawapres, Panda berulang kali mengungkapkan bahwa dia percaya Jokowi tetap tegak lurus dengan PDIP dan percaya dia akan mendukung Ganjar dalam Pilpres 2024.

5. Adian Napitupulu

Anggota DPR RI dari fraksi PDIP, Adian Napitupulu juga secara terang-terangan menunjukkan kekecewaannya kepada Jokowi. Padahal, menurut Adian, dia adalah salah satu orang yang mendukung penuh Jokowi.

“Saya sedih ketika kemudian Gibran ke sana, saya salah satu yang mendukung Jokowi habis-habisan dari tahun 2012, dari saat dia pindah dari Solo ke Jakarta,” ucap Adian Napitupulu dikutip dari postingan video dalam akun Instagram pribadinya @adian_napitupulu.

“Kalau saya ketemu Presiden Jokowi, saya pengin nanya, kenapa sih? Kenapa gitu loh? Apa salah kita? Apa yang tidak menyenangkan dari yang kita lakukan? Yang membuat kamu seperti ini?” tuturnya.

Adian mengungkapkan bahwa dia dulunya pernah ditawari untuk menduduki posisi menteri di Kabinet Kerja Jokowi, tapi dia menolak.

Dia juga menambahkan bahwa dia tidak meminta apa pun dari Jokowi agar menjaga dia tetap menjadi Presiden yang dalam bayangan seperti dulu yaitu baik, benar, lurus dan sebagainya.

6. Andi Widjajanto

Politikus PDIP sekaligus mantan Gubernur Lemhanas, Andi Widjajanto, mengekspresikan kekecewaannya dengan mengatakan bahwa Jokowi sedang menabur garam pada demokrasi sehingga cuaca demokrasi menjadi mendung.

“Kalau sekarang menabur garam, sehingga agak mendung dikit ini demokrasi kita,” ucapnya dalam tayangan YouTube Akbar Faizal Uncensored pada 2 November 2023,

Dia juga mengungkapkan bahwa dirinya tetap di pihak PDIP. Sementara yang harus ditanyakan, menurutnya, adalah posisi Jokowi yang saat ini secara mengejutkan tidak merah lagi, merujuk warna dasar PDIP.

“Saya tetap merah di garis itu, sekarang Pak Jokowi, Mas Gibran, Mas Kaesang yang mestinya merah, memutuskan tidak merah,” kata Andi Widjajanto dikutip dari akun YouTube Katadata Indonesia.

“Di sana kenapa tidak merah tiba-tiba, yang ditanyakan harusnya di sana, bukan saya yang harus menjawab,” ucapnya.

Baca juga artikel terkait JOKOWI atau tulisan lainnya dari Balqis Fallahnda

tirto.id - Politik
Kontributor: Balqis Fallahnda
Penulis: Balqis Fallahnda
Editor: Alexander Haryanto