tirto.id - Pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVII Jawa Tengah 2026 yang berlangsung pada 25-30 Oktober diwarnai sejumlah insiden atlet cedera dan meninggal dunia.
Berdasarkan data Panitia Besar (PB) Porprov hingga Kamis (29/10/2026), tercatat 2 atlet meninggal, 157 menjalani rawat jalan, 14 atlet harus menjalani observasi, dan 22 lainnya mengalami cedera serius hingga perlu dirujuk ke rumah sakit.
Dua atlet Porprov Jateng 2026 yang meninggal dunia adalah atlet selam asal Kabupaten Jepara, Syabilla Rizkia Putri Raharja, dan atlet pencak silat asal Kota Semarang, Ayudiah Rivana Tridiandinata.
Rentetan kejadian ini mendorong KONI Jawa Tengah dan panitia Porprov melakukan evaluasi terhadap prosedur keselamatan, kesiapan tenaga medis, serta penanganan kondisi darurat selama kompetisi berlangsung.
Porprov XVII Jawa Tengah 2026 diikuti 7.993 atlet dan 1.910 ofisial dari 35 kabupaten/kota. Para peserta bersaing dalam 58 cabang olahraga dengan total 810 nomor pertandingan.
Ajang olahraga empat tahunan tersebut dibuka oleh Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi di Stadion Jatidiri, Kota Semarang, pada Minggu (25/10/2026).
Pertandingan berlangsung di sejumlah daerah dengan kawasan Semarang Raya sebagai pusat penyelenggaraan. Porprov dijadwalkan berakhir pada Jumat (30/10/2026), dengan upacara penutupan di Kabupaten Kendal.
Atlet Meninggal di Porprov Jateng 2026
Berikut data atlet yang meninggal di Porprov Jateng 2026 per 29 Oktober:
1. Syabilla Rizkia Putri Raharja: meninggal pada 25 Oktober 2026
Atlet selam asal Kabupaten Jepara, Syabilla Rizkia Putri Raharja (22), meninggal dunia saat mengikuti perlombaan cabang olahraga selam laut atau Open Water Finswimming (OWF) nomor 3.000 meter di kawasan Pantai Awann Costa, Semarang Barat, Kota Semarang, Minggu (25/10/2026).Peristiwa tersebut bermula ketika Syabilla memulai perlombaan sekitar pukul 09.00 WIB. Setelah menyelesaikan dua putaran, seorang saksi yang merupakan motoris perlombaan melihat korban melambaikan tangan. Namun, Syabilla tetap melanjutkan pertandingan.
Ketika memasuki putaran ketiga, korban dilaporkan mulai tenggelam. Tim penyelamat kemudian memberikan pertolongan dan mengevakuasinya ke daratan dalam kondisi tidak sadarkan diri. Tim medis dari Semarang dan Jepara sempat melakukan resusitasi sebelum membawa Syabilla ke Rumah Sakit Keluarga Sehat Semarang.
Meski telah mendapatkan penanganan medis, nyawa Syabilla tidak tertolong. Dokter menyatakan korban meninggal dunia sekitar pukul 10.00 WIB. Hasil pemeriksaan medis sementara yang disampaikan kepolisian menunjukkan adanya kandungan air dalam jumlah banyak di paru-paru korban. Namun, penyebab pasti kematiannya masih didalami melalui penyelidikan.
Sebelum mengikuti nomor selam laut tersebut, Syabilla telah bertanding dalam nomor selam kolam di kompleks GOR Jatidiri Semarang. Dari pertandingan itu, ia berhasil menyumbangkan dua medali emas untuk Kabupaten Jepara, masing-masing dari nomor 100 meter dan 200 meter.
Syabilla bukan satu-satunya atlet yang mengalami masalah ketika mengikuti perlombaan selam laut di perairan utara Kota Semarang.
Ketua KONI Jawa Tengah Sudjarwanto menjelaskan terdapat dua atlet lain yang juga mengalami kelelahan dalam perlombaan nomor selam laut sejauh 3 kilometer tersebut. Keduanya berasal dari Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Magelang.
"Salah satunya mengaku sempat disengat ubur-ubur, sehingga juga berdampak terhadap kondisi saat lomba," katanya dikutip Antara, Senin (26/10/2026).
Kejadian tersebut kemudian menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara, terutama terkait pengawasan kondisi atlet dan kesiapan tim penyelamat dalam perlombaan di perairan terbuka.
2. Ayudiah Rivana Tridiandinata: meninggal pada 28 Oktober 2026
Atlet pencak silat kontingen Kota Semarang, Ayudiah Rivana Tridiandinata (19), juga meninggal dunia ketika menjalani perawatan di RS Primaya Semarang. Ayudiah sebelumnya mengalami patah tulang pada jari tengah saat mengikuti pertandingan Porprov Jateng 2026 pada Senin (26/10).Atlet yang bertanding di kelas A dengan kategori berat badan 45–50 kilogram tersebut kemudian dirujuk ke RS Primaya Semarang untuk mendapatkan penanganan medis. Ia menjalani operasi pada Selasa (27/10) akibat cedera yang dialaminya.
Namun, pada Rabu (28/10) sekitar pukul 05.30 WIB, petugas rumah sakit mendapati Ayudiah dalam kondisi tidak sadar, tidak bernapas, dan tidak memiliki denyut jantung ketika hendak membangunkannya.
Direktur RS Primaya Semarang, Aditya Nugraha, mengatakan pihak rumah sakit belum dapat memastikan penyebab kematian atlet tersebut. Ia menjelaskan bahwa operasi yang dijalani Ayudiah bukan termasuk operasi mayor dan pasien sempat sadar setelah tindakan medis sebelum menjalani perawatan di kamar.
Polrestabes Semarang kemudian melakukan penyelidikan dengan meminta klarifikasi kepada pihak rumah sakit dan tenaga medis yang menangani korban. Kepolisian juga menyarankan keluarga melakukan autopsi untuk mengetahui penyebab kematian, tetapi permintaan tersebut ditolak keluarga.
Data Atlet Cedera di Porprov Jateng 2026
Berdasarkan keterangan Ketua Seksi Kesehatan PB Porprov Jateng, Dr. Elhamangto Zuhdan, hingga Kamis (29/10/2026), terdapat sejumlah kasus cedera yang ditangani tim kesehatan selama penyelenggaraan Porprov.
Berikut rincian data penanganan atlet:
- Rawat jalan: 157 atlet
- Observasi: 14 atlet
- Cedera serius dan dirujuk ke rumah sakit: 22 atlet
Cedera yang ditangani di antaranya patah tulang hidung hingga perdarahan pada bagian wajah akibat benturan selama pertandingan.
Selain dua atlet yang meninggal dunia, insiden lain terjadi pada atlet pencak silat asal Kabupaten Blora. Atlet tersebut dilaporkan mengalami kejang setelah terkena benturan di bagian kepala ketika bertanding pada Selasa (27/10/2026).
Kejadian ini turut menjadi perhatian panitia karena benturan kepala dalam pertandingan olahraga kontak fisik berpotensi menimbulkan kondisi darurat yang membutuhkan penanganan medis segera.
Insiden cedera juga terjadi pada atlet dari cabang olahraga yang relatif tidak melibatkan kontak fisik, yakni catur. Menurut Elhamangto, salah seorang atlet catur mengalami vulnus lacerasi atau luka robek di bagian kepala hingga membutuhkan perawatan medis.
Namun, cedera tersebut bukan disebabkan aktivitas pertandingan. Atlet bersangkutan dilaporkan terjatuh ketika berada di toilet sehingga mengalami luka pada bagian kepala.
Evaluasi Keselamatan usai Dua Atlet Meninggal Dunia
Menyusul dua insiden kematian atlet dan berbagai kasus cedera, KONI Jawa Tengah bersama PB Porprov melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan pertandingan.
Sekretaris Umum KONI Jawa Tengah Budi Santoso mengatakan evaluasi dilakukan bersama panitia besar Porprov, delegasi teknik, dan pengurus cabang olahraga pada Rabu (28/10/2026) malam.
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah penerapan standar operasional prosedur (SOP) keselamatan pada setiap cabang olahraga.
"Keselamatan atlet itu diutamakan. Wasit dan juri yang menentukan penghentian pertandingan harus sesuai prosedur," katanya.
Ia juga menekankan pentingnya kewenangan wasit dan juri untuk menghentikan pertandingan apabila kondisi atlet dinilai sudah tidak memungkinkan untuk melanjutkan kompetisi.
Sebelumnya, KONI Jateng telah melakukan evaluasi khusus terhadap cabang olahraga selam dengan menambah tenaga medis dan kapal penyelamat, termasuk meminta bantuan Polairud Polda Jawa Tengah. Pemeriksaan kesehatan atlet sebelum pertandingan juga akan diperketat.
Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir juga meminta seluruh penyelenggara kompetisi olahraga mengutamakan keselamatan atlet, mulai dari kesiapan tim medis, pengawasan pertandingan, hingga kecepatan penanganan ketika terjadi kondisi darurat.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id


































