COVID-19 Bermutasi, Efektifkah Vaksin yang Kita Punya Saat ini?

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 29 Desember 2020
Dibaca Normal 2 menit
Corona bermutasi ketika vaksin tengah diupayakan, termasuk oleh Indonesia. Lalu bagaimana selanjutnya? Apakah vaksin tetap efektif?
tirto.id - Dunia kini menghadapi COVID-19 yang bermutasi. Virus yang pertama kali diidentifikasi di Inggris pada September 2020 lalu ini, yang disebut SARS-CoV-2 VUI 202012/01, diprediksi sanggup menular lebih cepat dari varian sebelumnya.

Cepatnya penularan varian baru COVID-19 ini terekam dalam data Office for National Statistics (ONS) Inggris yang diolah Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN). Jumlah kasus positif untuk reagen ORF1ab dan N meningkat drastis dari hanya 28% di London per 18 November menjadi 62 persen per 9 Desember. Kasus di Inggris timur juga naik dari hanya 23 persen menjadi 59 persen, sementara Inggris Tenggara dari hanya 28 persen menjadi 43 persen.

Tak hanya di Inggris, per Desember ini sudah ada 11 negara yang melaporkan kemunculan virus yang mirip varian baru ini. Berbagai negara termasuk Indonesia lantas menutup pintu masuk bagi warga Inggris ke wilayah masing-masing.

COVID-19 varian baru ini muncul ketika vaksin tengah diupayakan berbagai lembaga dan negara. Vaksinasi jadi solusi permanen untuk menghilangkan Corona dan segala dampaknya. Lalu, ketika pangkal masalah bermutasi, apakah obat yang tengah dikembangkan--dan telah diaplikasikan di beberapa tempat--tetap efektif?

Menurut pakar biologi dari Universitas Arizona Amerika Serikat Michael Worobey, vaksin yang ada saat ini--baik yang sudah atau masih dikembangkan--masih dapat digunakan tapi efektivitasnya berkurang. Misalnya, jika menghadapi varian sebelumnya vaksin Pfizer dan Moderna memiliki efektivitas 95 persen, maka terhadap SARS-CoV-2 VUI bisa turun menjadi 80-85 persen.

Pendeknya, kata Michael seperti dikutip dari CNN, “efeknya moderat, belum suatu hal yang dramatis.”


Juru Bicara Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito mengatakan keberhasilan imunisasi tergantung pada seberapa cocok vaksin dengan karakteristik virus yang beredar. “Selama virus yang beredar tidak berubah drastis,” kata Wiku dalam diskusi bertajuk Mutasi Virus Corona, Bagaimana Mengantisipasinya?, Kamis (24/12/2020), “maka itu (vaksin) bisa menciptakan herd immunity.”

Herd immunity adalah istilah di mana suatu kelompok kebal terhadap virus tertentu. Virus jadi sulit menemukan inang dan akhirnya hilang.

Guru Besar Ilmu Mikrobiologi Klinik sekaligus Ketua Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio menjelaskan mutasi COVID-19 yang dimaksud terjadi pada receptor-binding domain (RBD). Mutasi pada bagian ini belum mengubah struktur maupun sifat antigen yang merupakan sasaran vaksin. Atas dasar itu Amin yakin mutasi virus “sejauh ini belum mengganggu kinerja vaksin.”

Itu pula yang menurutnya menjadi alasan mengapa masyarakat belum perlu khawatir, katanya dalam diskusi yang sama.

Menristek/BRIN Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro juga mengatakan dalam konteks Indonesia mutasi ini “tak mengganggu pengembangan vaksin.” Meski demikian, dalam diskusi yang sama ia mengatakan pemerintah tetap memantau perkembangan terkini. “Jadi suatu saat, ketika terjadi mutasi [dan] karakter virusnya berubah, perlu modifikasi terhadap vaksin.”

Modifikasi vaksin ini wajar, katanya. Bambang memberi contoh vaksin flu yang diperbarui tiap 2-3 tahun sekali.


Tetap Waspada

Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Ede Surya Darmawan menjelaskan virus sudah pasti bermutasi karena sifatnya yang tidak stabil. Jika mutasi terjadi terlalu banyak sampai mengubah sifat, perilaku, dan struktur virus, maka bukan tak mungkin vaksin yang tersedia saat ini bisa tak efektif.

“Kalau mutasinya jauh banget, vaksin yang ada bisa tidak lagi efektif. Sifat virus berubah, kelakuan berubah, tingkat efektivitas [vaksin] berubah. Ya, itu bisa semua,” ucap Ede kepada reporter Tirto, Senin (28/12/2020).

Bagi pemerintah, ia berharap mutasi Corona ini tidak dijadikan alasan untuk segera melakukan imunisasi menggunakan vaksin yang belum selesai uji klinis maupun pemeriksaan oleh BPOM. Ia bilang penelitian terhadap virus harus dilakukan tuntas demi alasan keamanan.

Sementara untuk masyarakat, ia meminta tetap waspada. Ede bilang sampai vaksin tersedia merata dan sesuai standar keamanan, masyarakat harus tetap patuh protokol, dari mulai memakai masker, menjaga jarak, hingga rajin mencuci tangan.

Dengan menerapkan 3M, ia yakin penyebaran virus dapat dicegah sehingga memberi waktu lebih banyak bagi para peneliti virus untuk menyelesaikan vaksin yang efektif dan aman.

Baca juga artikel terkait VAKSIN COVID-19 atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Rio Apinino
DarkLight