tirto.id - Ada banyak contoh naskah drama sekolah yang menarik untuk acara perpisahan siswa. Contoh drama sekolah dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan acara.
Bagi sekolah, acara perpisahan adalah momen melepas siswa kelas akhir. Sementara itu, acara perpisahan menjadi momentum siswa untuk menunjukkan rasa terima kasih kepada sekolah, khususnya untuk para guru yang sudah membimbing belajar selama bertahun-tahun.
Tak hanya itu, program ini juga menjadi kesempatan terakhir siswa dalam menciptakan kenangan indah bersama kawan-kawan. Meskipun mengalami banyak kesulitan, masa sekolah tetap harus ditutup dengan kenangan yang indah.
Contoh Naskah Drama Sekolah 1
Di sisi lain, terdapat banyak pilihan untuk meramaikan acara perpisahan sekolah, salah satunya adalah dengan pertunjukan drama.Berikut ini beberapa contoh naskah drama yang bagus untuk tugas sekolah hingga perpisahan sekolah:
Contoh Drama Sekolah: Temanku Sayang Temanku Malang "Ken Kembalilah Seperti Dulu"
Oleh Elsa Pebriyanti1. Pemeran:
- Ken
- Pak Guru
- Jo
- Dave
- Dio
- Mei
- Dea
- Rin
2. Scene 1
Latar Tempat: Ruang KelasDi pagi yang cerah, di suatu sekolah anak-anak seperti biasa telah berkumpul di dalam kelas, mereka sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, ada yang sedang asyik mengobrol bersama teman-temannya, ada yang bahkan sibuk
menyalin PR temannya karena tak sempat mengerjakan PR nya di malam hari, di tengah-tengah keributan datanglah guru kelas,
Guru : “Selamat pagi…..”
Secara serentak murid-murid pun menyudahi semua aktivitas mereka secara terburu-buru, dan menjawab salam gurunya,
Murid : “Selamat pagi……”
Guru : “Ken tidak terlihat? Kemana lagi dia?”
Pak guru bertanya dengan penuh rasa heran karena akhir-akhir ini Ken sering kali terlambat dan tidak masuk kelas.
Mei : “Halaaah… Sudah biasa Pak!”
Rin : “Alasannya pasti sama”
Dave : “Jika tidak terlambat pasti bolos lagi!”
Semua murid pun tertawa dengan apa yang dikatakan dave, dan Pa Guru pun mencoba menenangkan para siswa dan bersiap memulai pelajaran.
Guru : “Sudah anak-anak!! Kita mulai pelajaran hari ini”
Pada saat Pak Guru sedang menuliskan materi pembelajaran di papan tulis, Ken masuk diam-diam dengan langkah yang sangat perlahan.
Ken : “Sssssttt….”
Ken melangkah ke bangku tempat duduknya sambil meletakkan telunjuk tangan ke mulutnya. Murid-murid yang lain saling memandang dan heran melihat tingkah Ken. Setelah Ken duduk di bangkunya, Jo sebagai teman dekat Ken pun bertanya pada Ken.
Jo : “Kemana saja kau?”
Ken : “Ssssttt.... Aku kesiangan, aku main game sampai larut malam haha”
Jo : “Kau sudah gila!!”
Mei : “Hei Ken… Kau terlambat!!”
Ken : “Ssssttt….. Banyak bicara kau Mei!!!”
Ken tak sadar bahwa suaranya terlalu kencang sehingga Pak Guru mendengar suaranya.
Guru : “Ken? Sejak kapan kau masuk kelas?”
Ken : “Sejak tadi”
Guru : “Mengapa kau tidak mengucapkan salam?”
Ken : “Tidak penting!!”
Guru : “Kemana saja Kau dua hari ini tidak masuk kelas?”
Ken : “Itu bukan urusanmu Pak!!”
Rin dan Dea pun berdiri seketika melihat jawaban Ken yang terlihat tak sopan ketika menjawab pertanyaan dari gurunya, sambil menunjuk muka Ken dengan penuh kemarahan Rin dan Dea pun berkata, Rin : “Kau tak sopan Ken!!”
Dea : “Kau keterlaluan Ken!!”
Contoh Naskah Drama: Ketulusan
Pengorbanan seorang guru tidak hanya ada pada materi dan kesulitan finansial, tapi juga dalam mendidik siswanya guru mempunyai beban moral, tanggung jawab hingga akhirnya melahirkan ketulusan dalam hatinya.Bagaimanapun keadaannya, bagaimanapun siswanya, seorang guru tetap mendidik tanpa mengharapkan materi yang tidak terlalu berarti, pengharapan tertingginya ada pada masa depan siswanya. Itulah yang dinamakan ketulusan seorang guru. Mari kita saksikan pengorbanan seorang guru yang bukan hanya dari segi materi:
Scene 1
(suasana kelas)Guru : Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Murid : Wa’alaikumussalam wr.wb
(Guru menerangkan pembelajaran)
Guru : Sudah dicatat semuanya?
Murid (all) : Sudah pak
Guru : Selanjutnya akan bapak jelaskan. Mohon lihat kedepan anak-anak
Murid : (Ngobrol sendiri, ada yang ngobrolin drakor, ada yang selfie main hp, ada yang ghibah, dan hanya satu orang yang mendengarkan)
Guru : (Menghela nafas namun tetap menjelaskan materi) lanjut menerangkan materi
Guru : Cukup sekian dari bapak terimakasih, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Murid : Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
Begitulah suasana kelas ketika pak Nanang mengajar. Murid gaduh, ngobrol sendiri, namun pak Nanang tetap menjelaskan meskipun yang menyimak hanya satu orang. Baginya tak mengapa jika tak didengar, asal dia tulus dalam menyampaikan.
Scene 2
(Suasana rumah sakit)Dokter : Pak, ini tentang kesehatan bapak, terpaksa saya sampaikan kesehatan bapak yang kian hari kian memburuk. saya harap jangan terlalu memaksakan diri. Saya berharap bapak untuk lebih banyak istirahat mulai sekarang, penyakit Thalasemia yang bapak derita ini sangat tidak dianjurkan untuk terlalu banyak kelelahan.
Guru : Baik Dok.. Tapi saya masih bisa bertahan kan? Dokter kan tau, saya seorang guru. hanya ilmu yang bisa saya bagikan ke orang lain. Saya ingin tetap bisa terus mengajar murid-murid saya.
Dokter : Bisa Pak, tapi untuk kedepannya saya harap jangan terlalu memaksakan diri ya Pak, karena kian hari hemoglobin Bapak semakin rendah. Dan mohon untuk tetap rajin cuci darah sesuai dengan jadwal yang ditentukan.
Guru : Baik Dokter terima kasih banyak. Saya pastikan kedepannya untuk datang cuci darah sesuai jadwal dan tidak kelelahan.
Ternyata pak Nanang menderita penyakit bawaan lahir. Thalassemia yang dideritanya mengharuskan untuk selalu cuci darah dan kontrol ke dokter. Sebuah keajaiban pak Nanang masih bisa bertahan sampai sejauh ini.
Simak contoh naskah drama selengkapnya DI SINI.
Contoh Naskah Drama Perpisahan Sekolah
Sebagaimana telah disebutkan, pertunjukan drama menjadi hiburan yang ditampilkan dalam acara perpisahan sekolah.
Berikut ini contoh drama sekolah yang cocok untuk perpisahan siswa tingkat akhir:
Contoh Judul Drama Sekolah: Hadiah Perpisahan
1. Pemeran:
- Rudi
- Dimas
- Ayu
- Sinta
- Vina (sebagai ibu guru)
2. Setting
- Latar tempat: sekolah
3. Isi Drama:
SDN 1 Pangalaran baru saja selesai menggelar ujian sekolah. Rudi, Dimas, Ayu, dan Sinta adalah siswa kelas 6. Mereka sedang duduk bersama di depan kelas.Rudi: Tidak terasa kita akan berpisah sebentar lagi. Kalian sudah memutuskan ingin sekolah di SMP mana?
Dimas: Aku ingin sekolah di SMPN 2 Kedungkali yang unggulan itu. Kurasa nilaiku cukup bagus, pasti bisa masuk ke sana.
Ayu: Beberapa bulan lalu aku sudah mendaftar ke sekolah swasta, di SMP Harapan Bangsa.
Sinta: Sama, aku juga memilih sekolah swasta di SMP Brawijaya karena terkenal bagus.
Rudi: Wah, berarti kita tidak ada yang satu sekolah lagi, ya? Aku rencananya ingin masuk SMPN 5 Kemadang karena paling dekat dengan rumah.
Sinta: (Wajahnya mulai muram) Aku jadi sedih karena kita akan jarang bertemu.
Ayu: (Menepuk-nepuk pundak Sinta) Tidak apa-apa. Kita masih bisa saling mengobrol di telepon atau berkumpul setiap hari Minggu.
Dimas: Kalau aku, lebih sedih lagi karena akan berpisah dengan wali kelas kita, Bu Vina.
Rudi: Betul juga. Bu Vina sangat baik pada kita. Kapan lagi kita dapat guru sebaik Bu Vina.
Ayu: Iya, kuharap guru-guru di SMP-ku nanti bisa sebaik Bu Vina.
Sinta: (Wajahnya bersemangat) Teman-teman, aku punya ide, bagaimana kalau kita memberikan hadiah kepada Bu Vina?
Rudi: (Terlihat bingung) Hadiah? Bu Vina ulang tahun?
Sinta: Bukan ulang tahun, tapi hadiah dari kita sebagai tanda terima kasih.
Ayu: Wah, ide bagus itu!
Dimas: (Berkata ragu-ragu) Tapi, aku tidak punya banyak uang buat membelikan Bu Vina hadiah.
Sinta: (Berkata pada Dimas) Tidak masalah. Kita bisa patungan uang untuk membeli satu barang saja.
Rudi: Kita ajak teman-teman sekelas lainnya saja. Terus kita bicarakan mau membeli barang apa.
Ayu: Setuju!
Rudi, Dimas, Ayu, dan Sinta kembali masuk ke kelas untuk mendiskusikan hadiah untuk Bu Vina bersama teman-teman yang lain.
Keesokan harinya di sekolah, Rudi, Dimas, Ayu, dan Sinta menemui Bu Vina. Mereka sudah membeli barang yang akan dihadiahkan untuk ibu guru tercinta mereka.
Rudi: (Membawa kotak hadiah) Bu Vina, ini adalah hadiah dari saya dan teman-teman untuk Bu Vina.
Ayu: Kami ingin berterima kasih karena Bu Vina sudah menjadi guru yang sangat baik bagi kami.
Vina: (Tersenyum dan menerima kotak hadiah) Ya ampun, kalian tidak perlu repot-repot memberi hadiah seperti ini. Justru ibu yang seharusnya berterima kasih karena kalian telah menjadi murid-murid yang pintar dan membanggakan.
Sinta: Ayo, dibuka kadonya, Bu!
Dimas: Semoga Bu Vina suka, ya!
[Bu Vina membuka kado dari murid-muridnya yang ternyata berisi tas]
Vina: (Terharu) Ini hadiah perpisahan yang bagus sekali. Ibu akan pakai saat mengajar di sekolah. Terima kasih, ya!
[Bu Vina kemudian memeluk muridnya satu per satu]
Vina: Ibu doakan kalian menjadi anak-anak yang pintar. Bertemu guru-guru yang baik serta mendapat banyak teman di SMP nanti.
Rudi, Dimas, Ayu, Sinta: Terima kasih, Bu!
Tamat.
Contoh Drama Perpisahan Sekolah tentang Pendidikan
1. Karakter:
- Protagonis (baik) : Andi
- Antagonis (jahat) : Rini
- Tritagonis : Yanto
- Figuran : Susi
2. Latar
- Tempat: Di dalam ruang kelas XI IPA 1
- Waktu/kejadian : siang hari
3. Naskah:
Di jam istirahat siang ini, Agus terlihat berbeda dari biasanya. Jika lonceng berbunyi tanda istirahat telah dimulai, biasanya Agus langsung mengajak Andi dan Yanto untuk keluar kelas. Tapi tidak dengan hari ini, sehingga hal ini membuat Andi dan Yanto heran dan menghampiri Agus yang sedang tertunduk lesu.Andi : Hei Gus. Apa kamu nggak laper? Ayo ke kantin.
Agus : Nggak usah deh, aku di kelas aja
Andi : Kamu kenapa? Biasanya kamu paling senang kalo diajak ke kantin.
Agus : Aku sedang memikirkan sesuatu ndi.
Yanto : Mikir apa sih? Serius amat. Sini cerita sama Kita
Agus : Nggak ah ndi, aku malu sama kalian
Andi : Ya ampun, ngapain sih pake malu segala. Kita kan udah berteman lama, sekelas juga udah sejak SMP. Masa masih malu juga.
Agus : Hhhhhmmm. Sepertinya aku mau berhenti sekolah aja deh.
Yanto : Kamu ini ngomong apa Guuus. Kenapa harus berhenti sekolah begitu?
Agus : Aku kasihan melihat orang tuaku, tiap hari bekerja dari pagi hingga malam untuk mendapatkan sesuap nasi untukku dan adikku.
Andi : Bukannya kamu juga sudah membantu dengan berjualan koran tiap pagi?
Agus : Iya. Tapi masih belum cukup lah ndi. Kamu kan tahu sendiri adikku ada lima, perempuan semua. Otomatis uangku hanya cukup untuk sedikit menambah uang jajan kami.
Teks naskah lengkap dapat dilihat DI SINI (Hlm 32 - 39).
Penulis: Erika Erilia
Editor: Beni Jo & Yulaika Ramadhani
Penyelaras: Syamsul Dwi Maarif
Masuk tirto.id







































