5 April 1975

Chiang Kai-shek: Diktator Cina Nasionalis yang Keok Melawan Komunis

Infografik Mozaik Chiang Kai Shek
Chiang Kai Shek. tirto.id/Deadnnauval.
Oleh: Ign. L. Adhi Bhaskara - 5 April 2019
Dibaca Normal 3 menit
Jatuhnya Chiang Kai-shek adalah bukti bagaimana korupsi kaum nasionalis dan kebijakan populis orang komunis memengaruhi hasil perang sipil.
tirto.id - Hari-hari di bulan Oktober 1948 mungkin menjadi hari-hari terakhir optimisme Chiang Kai-shek. Sebelumnya ia tetap yakin bahwa kaum nasionalis di Partai Kuomintang (KMT) masih mampu bertahan dan menang dalam perang sipil melawan kubu komunis Cina. Sayang beribu sayang, optimisme Chiang pada akhirnya berujung semu.

Seperti ditulis Harold M. Tanner dalam Where Chiang Kai-Shek Lost China: The Liao-Shen Campaign (2015), optimisme tetap ada dalam diri Chiang meski pada Jumat, 15 Oktober 1948 ia mengetahui bahwa pihak komunis telah sepenuhnya mengalahkan Jenderal Fan Hanjie yang memimpin kubu nasionalis di kota Jinzhou.

Menanggapi jatuhnya Jinzhou, dalam buku hariannya Chiang menuliskan: “Musuh tidak sekuat itu, harusnya akan mudah untuk memulihkan [Jinzhou]” (hlm. 251).

Namun sejarah membuktikan bahwa optimisme Chiang adalah delusi. Jatuhnya Jinzhou menjadi salah satu dari rangkaian awal kekalahan Chiang terhadap Mao Zedong dan Partai Komunis Cina yang kelak mendirikan Republik Rakyat Cina. Pada hari yang sama, Chiang melarikan diri ke Shenyang bersama jenderal Du Yuning.

Pada akhir 1948 Chiang mulai menyadari bahwa pihak nasionalis dalam posisi yang terdesak. “Berbagai laporan kekalahan perang berdatangan layaknya salju yang jatuh,” tulis Chiang seperti dikutip Jay Taylor dalam The Generalissimo: Chiang Kai-shek and the Struggle for Modern China (2009: 397). “Cina bagian Utara dan wilayah di bawah tembok berada di ambang kehancuran.”

Ia menyimpulkan, seiring dengan runtuhnya jalur kereta api antara Kaifeng dan Chengchow, bahwa negara Cina yang ia pimpin telah berada di ujung senja. “Negara ini sudah mati,” sebutnya. Namun ia tetap bangga akan pemerintahannya.

Di tengah segala kekacuan yang timbul akibat perang sipil tersebut, ia mengklaim bahwa dirinya tidak pernah bersantai satu hari pun. Keberhasilan membangun rel kereta dari Zhejiang ke Jiangxi serta sejumlah bendungan, menurutnya, adalah salah satu bukti keberhasilan pemerintahannya. “Kita harus memiliki suatu pencapaian [...] Tidak peduli dalam keadaan apapun,” simpul Chiang. “Saya tidak merasa bersalah. Saya mencoba yang terbaik.”


Diktator Keras Kepala dan Perang Sipil Cina

Seperti dilansir Encyclopaedia Britannica, Chiang lahir pada 31 Oktober 1887, di provinsi Chekiang dan memiliki nama resmi Chiang Chung-cheng. Keluarganya merupakan keluarga pedagang dan petani yang cukup sejahtera.

Karier Chiang dimulai dari pendidikan yang ia jalani di Akademi Militer Paoting di Cina bagian utara dan kemudian berpindah ke Jepang dari 1906 hingga 1911. Pada 1911, ketika mendengar kemunculan gerakan revolusi di Cina, Chiang kembali ke tanah kelahirannya dan turut berperan dalam perang yang menjungkalkan Dinasti Qing.

Ia kemudian membantu kubu Republikan Cina dan gerakan revolusi lainnya pada 1931 hingga 1916 untuk melawan presiden baru Cina, Yuan Shikai. Pada 1915 hingga 1916 Shikai memproklamasikan diri sebagai kaisar baru Cina.

Chiang kemudian bergabung dengan KMT pada 1918 setelah hampir dua tahun menghilang dari publik dan disinyalir bergabung dengan Qing Bang, sebuah kelompok rahasia yang terlibat dalam praktik manipulasi keuangan.

Dilaporkan BBC, Chiang kemudian diangkat Sun Yat-sen, pemimpin KMT, sebagai komandan Sekolah Militer Whampoa di Canton pada 1924, di mana ia kemudian membangun tentara Nasionalis. Pada saat Sun wafat pada 1925, ia menjadi pemimpin KMT. Ia adalah tokoh yang menginisiasi Ekspedisi Utara yang menyatukan kembali sebagian besar Cina di bawah Pemerintah Nasional yang berbasis di Nanjing. Setelah kejatuhan Dinasti Qing, Cina memang banyak terpecah dalam kekuasaan para panglima milisi lokal.

Sejak kematian Sun, tensi antara kaum komunis Cina, yang kala itu memang telah masuk dalam KMT pasca-Dinasti Qing, dengan kaum konservatif di partai tersebut meningkat. Menurut Jay Taylor, Chiang kemudian menempatkan kaum komunis sebagai musuh yang harus dibasmi setelah ada upaya pihak komunis dalam partai untuk menyingkirkan dirinya (hlm. 64).


Masih menurut Taylor, pada 6 April 1927, Komite Pengawas KMT secara menyeluruh sepakat untuk mengeluarkan para komunis dari partai tersebut dan membentuk grup koordinasi khusus bernama Komite Pembasmian Shanghai untuk melakukan aksi tersebut. Perang sipil antara komunis dan nasionalis kemudian dimulai pada 12 April tahun yang sama setelah KMT memburu dan membunuh ratusan orang komunis.

Menurut Chen Lifu, sekretaris rahasia Chiang kala itu, pembasmian ini dilakukan KMT dengan cara yang sadis. “Itu merupakan cara yang haus darah untuk menghilangkan musuh di dalam [KMT]. Saya harus mengakui bahwa banyak orang tidak bersalah terbunuh,” sebut Chen puluhan tahun kemudian (hlm. 68).

Tragedi ini kemudian mengawali perang sipil yang mendera Cina sepanjang 22 tahun.

Kekalahan dari Komunis dan Mao Zedong

Kembali ke akhir 1948, tanda-tanda kekalahan KMT dan Chiang terhadap kubu komunis menjadi semakin nyata setelah jenderal komunis Lin Biao berhasil membekuk pasukan KMT yang dipimpin Liao Yaoxiang pada 27 Oktober.

Taylor mencatat, melalui jatuhnya Jinzhou serta pemberontakan dan kekalahan sejumlah pasukan kubu Nasionalis di Changchun dan dibasminya pasukan Liao, Chiang telah kehilangan total 32 divisi militer sejak 15 Oktober. “Ini merupakan kekalahan terbesar dan rasa malu terbesar dalam hidup saya,” sebut Chiang (hlm. 261).

Apa yang menyebabkan kekalahan tersebut? Ada banyak faktor. Namun Chiang menyebutkan dalam catatan pribadinya bahwa peran para jenderalnya yang tidak kompeten dan terlibat dalam praktik korupsi merupakan salah satu hal utama yang menyebabkan kekalahan KMT.

Mengutip wawancara jurnalis Jerman Gunther Stein dengan panglima sipil provinsi Shanxi, Yan Xishan, dalam buku The Challenge of Red China (1945), Aris Teon menuliskan, salah satu alasan utama mengapa komunis memiliki kekuatan luar biasa di Cina kala itu adalah karena banyak orang mengikuti mereka.

“Dan alasan mengapa mereka mengikuti [pihak komunis] adalah karena pemerintahan kita, pemerintahan nasionalis, buruk,” sebutnya.




Korupsi memang menjadi musuh besar KMT dalam melawan komunis Cina dan Chiang sadar akan hal ini. Masih oleh Teon, mengutip Llyod E. Eastman dalam The Abortive Revolution: China Under Nationalist Rule, 1927-1937 (1974), Chiang mengakui bahwa korupsi telah menjadi praktik umum di kalangan pejabat pemerintahan dan membuat pemerintahan “menjadi busuk.”

Kubu Komunis yang dipimpin Mao Zedong, sebaliknya, berusaha memenangkan hati rakyat kecil, utamanya buruh tani, yang berujung pada semakin populernya Partai Komunis Cina.

Selain korupsi, sebab kekalahan KMT boleh jadi karena kejelian atau kelicikan strategi Mao dalam menghimpun kekuatan pasukan komunis. Robert M. Kaplan dalam esainya di Foreign Policy menuliskan, Mao menggunakan strategi yang kerap dituduhkan pihak Barat kepada Chiang: menghindari perang besar-besaran dengan Jepang untuk mengumpulkan kekuatan mereka agar dapat digunakan melawan kubu Nasionalis.

Sebaliknya, Chiang kehilangan banyak pasukan. Setelah perang dengan Jepang yang berlangsung selama 14 tahun, sebanyak 80.000 prajurit Cina terbunuh dan terluka dan sekitar 90 persen di antaranya merupakan pasukan Chiang. Sebagai catatan, semasa kepemimpinan Chiang, Jepang memang juga menjadi ancaman sejak melakukan invasi ke Cina pada 1931.

Pada 1949 komunis memenangkan pertempuran sipil tersebut dan mendirikan Republik Rakyat Cina, sementara Chiang dan sisa kekuatan KMT terpaksa mengungsi ke Pulau Formosa (Taiwan). Di sana, Chiang mendirikan pemerintahan Republik Cina yang ia pimpin selama 25 tahun. Pemerintahan inilah yang tetap diakui oleh negara-negara Barat sebagai pemerintahan resmi Cina hingga Chiang meninggal pada 5 April 1975, tepat hari ini 44 tahun lalu.

Baca juga artikel terkait SEJARAH DUNIA atau tulisan menarik lainnya Ign. L. Adhi Bhaskara
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Ign. L. Adhi Bhaskara
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight