Pandemi COVID-19

CFD Sebaiknya Ditiadakan Saja karena Tak Ada Urgensinya, Pak Anies

Oleh: Riyan Setiawan - 26 Juni 2020
Dibaca Normal 2 menit
Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Ede Surya Darmawan menilai selama pandemi COVID-19 ini, tidak ada urgensinya Pemprov DKI tetap menyelenggarakan CFD, apalagi di 32 titik.
tirto.id - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI sepakat membagi 32 lokasi alternatif sebagai pengganti Hari Bebas Berkendara Bermotor (HBKB) atau Car Free Day (CFD) yang semula diselenggarakan di sepanjang Jalan Sudirman-Thamrin, Jakarta Pusat.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Syafrin Liputo menerangkan dari 32 titik tersebut, terdapat 7 lokasi yang memang rutin digunakan sebagai tempat HBKB Wilayah. Kemudian ditambah 25 ruas jalan yang dioptimalkan sebagai ruang bagi publik yang ingin berolahraga.

Namun, kata Syafrin, kegiatan tersebut dibatasi hanya tiga jam saja, mulai pukul 06.00 hingga 09.00 WIB. Puluhan lokasi itu pun masih dalam masa uji coba.

“Untuk itu kami mengimbau kepada warga jangan lagi datang ke Sudirman-Thamrin sehingga membuat kerumunan," kata dia kepada wartawan, Kamis (25/6/2020).

Syafrin menjabarkan puluhan tempat yang akan digunakan sebagai pengganti CFD di kawasan Sudirman-Thamrin sebagai berikut:

Tujuh lokasi yang rutin digunakan untuk CFD Wilayah, yaitu: Jalan Suryo Pranoto, Jalan Gajah Mada, Jalan Hayam Wuruk, Jalan Pemuda, Jalan Layang Non Tol (JLNT) Antasari, Jalan Percetakan Negara 2, dan Sisi Danau Sunter Selatan.

Kemudian untuk kategori lokasi jalan untuk olahraga, yakni Jalan Pejagalan Raya, Jalan Paseban Raya, Jalan Zamrud Raya, Jalan Pramuka Sari I, Jalan Danau Tornado, Jalan Amir Hamzah, Sisi Inpeksi Kali Sunter Rawa Badak Selatan, Jalan Kelapa Hibrida Sukapura, Jalan Pulau Maju Bersama, Jalan Benyamin Sueb, dan Jalan Arteri Pegangsaan Dua,

Selanjutnya di Jalan RA Fadillah, Jalan Inspeksi Kanal Banjir Barat (KBT), Jalan Raden Inten, Jalan Bina Marga, Jalan Sultan Iskandar Muda - Arteri Pondok Indah, Jalan Tebet Barat Dalam Raya, Jalan Kesehatan Raya, Jalan Cipete Raya, Jalan Puri Harum, Jalan Puri Ayu, Jalan Puri Elok, Jalan Puri Molek, Jalan Puri Ayu 1, dan Jalan Puri Molek 1.

“Untuk warga langsung mendatangi lokasi-lokasi yang sudah kami tetapkan di 5 wilayah tadi yang dekat dengan rumahnya dan dapat berolahraga di sana baik sepeda maupun joging,” kata dia.


Pembagian lokasi itu, kata Syafrin, dilakukan setelah Dishub DKI melakukan evaluasi bersama pihak terkait untuk menghentikan sementara kegiatan CFD di sepanjang jalan Sudirman-Thamrin pada Minggu 28 Juni 2020 nanti.

Pasalnya, berdasarkan data yang ia catat, kurang lebih ada 40.155 pengunjung yang meramaikan CFD di kawasan Sudirman-Thamrin. Dari sejumlah pengunjung tersebut, terdapat 21.342 pejalan kaki dan 18.813 pesepeda.

Menurut dia, jumlah tersebut cukup banyak, apalagi masih terdapat banyak orang yang tak terhitung masuk ke dalam gedung-gedung di sepanjang jalan yang digunakan untuk CFD.

“Oleh sebab itu, untuk menghindari kepadatan, maka tentu di masa transisi ini kita harus sebar keinginan warga untuk beraktivitas olahraga. Dan dari situ, kita harapkan upaya kita bersama untuk menekan angka positif lebih baik ke depan,” kata dia.

Infografk Responsif
Infografk Skedul 1 Pelonggaran PSBB di Jakarta. tirto.id/Sabit


Tidak Ada Urgensinya

Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Ede Surya Darmawan memandang selama masa pandemi COVID-19 ini, tidak ada urgensinya Pemprov DKI tetap menyelenggarakan CFD, apalagi di 32 titik.

Sebab akan tetap mengundang keramaian dari warga sekitar berkumpul untuk melakukan olahraga, kata Ede Surya.

Hal tersebut dikhawatirkan malah akan menambah kluster baru di 32 titik tersebut karena banyak orang yang berkerumun. Apalagi, kata dia, setiap hari bertambah lebih dari 100 kasus positif COVID-19.

“Idealnya selama COVID-19 ini warga olahraga di rumah masing-masing saja,” kata dia kepada reporter Tirto, Kamis (25/6/2020).

Jika CFD tetap diselenggarakan di 32 titik, dia meminta agar Pemprov DKI tetap menerapkan protokol kesehatan. Seperti membatasi jumlah pengunjung maksimal 50 persen dari kapasitas, jaga jarak, dan menyediakan saluran air untuk cuci tangan.

“Pengunjung juga harus membawa masker dan hand sanitizer untuk melindungi diri dari virus Corona," ucap dia.

Anggota DPRD DKI dari Komisi E Ahmad Idris mengatakan sebaiknya kegiatan CFD di 32 titik itu dibatalkan saja. Dia juga menilai saat ini tidak ada urgensinya kegiatan tersebut untuk diselenggarakan.

Ketua Fraksi PSI itu pun dengan tegas menyatakan "Menolak kegiatan CFD, baik yang diselenggarakan di kawasan Sudirman-Thamrin, maupun di 32 titik," kata dia kepada reporter Tirto, Kamis (25/6/2020).

Selain itu, dengan diselenggarakan CFD yang disebar di 32 titik, menurutnya malah akan menambah beban Pemprov DKI untuk mengawasi kegiatan tersebut.


Dalam melakukan pengawasan di tingkat masyarakat, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saja sampai menerjunkan 2.000 Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk membantu petugas selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi. Anies bahkan mengaku jumlah tersebut masih kurang untuk mengawasi 11 juta penduduk Jakarta.

“CFD malah tambah membebankan petugas, apalagi sekarang bukan fokus di Sudirman-Thamrin, tapi di 32 lokasi," ucap Idris.

Oleh karena itu, Idris pun menyarankan agar Pemprov DKI tidak menyelenggarakan CFD dan meminta masyarakat untuk berolahraga di rumah, kantor, maupun lingkungan sekitar.

Sementara petugas difokuskan untuk mengawasi di tempat-tempat yang menimbulkan keramaian, seperti pasar tradisional, mal, fasilitas umum, dan sebagainya.

“Olahraga itu kan bisa dilakukan di rumah, pemerintah bisa menggunakan materi edukasi dan sosialisasi di rumah, tidak berkumpul," kata dia.

Reporter Tirto coba menghubungi Kembali Kepala Dishub Syafrin Liputo melalui telpon dan pesan singkat. Tetapi, dia hanya mengirimkan 32 Kawasan khusus pesepeda di 5 wilayah yang lokasinya bersamaan dengan diselenggarakannya HBKB dan tidak menjawab apa urgensi dari CFD itu.


Baca juga artikel terkait VIRUS CORONA atau tulisan menarik lainnya Riyan Setiawan
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Riyan Setiawan
Penulis: Riyan Setiawan
Editor: Abdul Aziz
DarkLight