tirto.id - Pandjaitan salah seorang warga yang tinggal dekat dengan lokasi kejadian penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, di Jalan Salemba I–Talang, Senen, Jakarta Pusat, menceritakan kejadian yang terjadi pada Kamis (12/3/2026) lalu.
Dia menuturkan kejadian penyiraman oleh orang tak dikenal (OTK) terhadap Andrie itu terjadi pada sekira pukul 23.30 WIB. Saat itu, Pandjaitan tengah berada di rumahnya.
Pandjaitan kemudian mendengar teriakan yang sangat kencang. Dia mengaku belum pernah mendengar teriakan seperti itu.
“Waktu saya di rumah, saya dengar suara orang teriak, jerit-jerit, seperti orang dibunuh,” kata Pandjaitan saat ditemui Tirto di lokasi pada Minggu (15/3/2026).
“Aduh, sadis. Saya belum pernah dengar teriakan orang seperti itu. Saya pikir itu tadinya begal,” lanjutnya.
Karena tidak berani keluar rumah, Pandjaitan lalu menelepon seorang tetangganya untuk bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Dia lalu mendapatkan kabar bahwa teriakan itu berasal dari salah seorang anggota KontraS.
“Waduh, langsung saya kaget. Aduh saya bilang, saya udah tahu [KontraS] karena saya kan sering membaca, saya tahu,” ucapnya.
Sesaat setelah kejadian, dia menyebut aparat kepolisian langsung datang memadati tempat kejadian perkara (TKP).
Sebagai warga setempat, Pandjaitan mengaku resah dan takut dengan adanya kejadian teror seperti itu. Menurutnya, apabila pelaku memiliki permasalahan dengan korban, seharusnya bisa diselesaikan dengan jalan lain selain teror.
“Ini kan udah kriminalitaslah. Keterlaluan. Kalau memang kita berani, kita ngomong,” pungkasnya.
Sebagai informasi, Andrie Yunus mendapat serangan berupa siraman air keras pada Kamis (12/3/2026) di kawasan Jalan Salemba I–Talang, Senen, Jakarta Pusat.
Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya, mendesak aparat penegak hukum segera mengusut tuntas serangan penyiraman air keras terhadap Andrie. Dimas menilai serangan tersebut merupakan bentuk teror terhadap kerja-kerja pembela hak asasi manusia (HAM).
Dimas menjelaskan bahwa saat itu Andrie baru saja selesai melakukan perekaman siniar di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) dengan tema “Remiliterisasi dan Judicial Review UU TNI”.
Andrie sempat meninggalkan kantor KontraS pada sore hari untuk menghadiri pertemuan di kantor Center of Economic and Law Studies (Celios). Setelah itu, ia menuju kantor YLBHI dan melakukan perekaman siniar hingga sekitar pukul 23.00 WIB.
Usai kegiatan itu, Andrie mengendarai sepeda motor menuju rumah kontrakannya melalui Jalan Talang. Di lokasi itulah, dua orang tak dikenal yang berboncengan dengan sepeda motor mendekatinya dari arah berlawanan. Cairan tersebut mengenai wajah, mata, dada, serta kedua tangan Andrie. Korban langsung berteriak kesakitan dan terjatuh dari motornya.
Penulis: Naufal Majid
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id


































