Menuju konten utama
Bahasa Indonesia

Cara Membaca Puisi dengan Ekspresif dan Kreatif

Pelajari cara membaca puisi dengan ekspresif dan kreatif agar penyampaian makna dan emosi puisi terasa lebih hidup dan menarik. Temukan panduannya di sini.

Cara Membaca Puisi dengan Ekspresif dan Kreatif
Ilustrasi Cara Membaca Puisi yang baik dan benar. foto/Istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Cara membaca puisi adalah salah satu kegiatan untuk mengapresiasi karya sastra. Kegiatan ini sebaiknya dilakukan dengan ekspresif agar makna puisi lebih hidup. Pembaca perlu menunjukkan perasaan dan imajinasi saat melafalkan setiap baitnya.

Agar makna puisi tersampaikan dengan baik, pembaca perlu memahami isi dan pesan yang ingin penyair sampaikan. Cara baca puisi yang efektif juga melibatkan perhatian pada nada, intonasi, serta gerak tubuh yang mendukung suasana puisi. Dengan cara itu, audiens dapat merasakan emosi yang terkandung dalam puisi secara lebih mendalam.

Setiap orang memiliki gaya tersendiri dalam membaca puisi. Cara membaca puisi dengan baik dan benar memungkinkan setiap individu mengekspresikan keunikan dan keindahan puisi secara optimal. Perbedaan gaya justru memperkaya makna dan menampilkan interpretasi yang beragam.

Cara Membaca Puisi yang Baik dan Benar

Cara membaca puisi yang baik dan benar diperlukan agar audiens ikut memahami makna yang dibacakan. Oleh karena itu, pembaca puisi sebisa mungkin menerapkan cara membaca puisi dengan ekspresif dan kreatif.

Menurut Aulia dan Gumilar dalam Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia (2021) ada enam hal yang harus diperhatikan untuk membaca puisi dengan ekspresif dan kreatif. Berikut enam cara membaca puisi yang baik dan benar:

1. Perhatikan Ekspresi atau Mimik Wajah

Membaca puisi dengan ekspresif dan kreatif dapat dicapai dengan memperhatikan mimik wajah. Pastikan ekspresi atau mimik wajah saat membaca puisi sesuai dengan isi dan nada puisi yang dibacakan.

Misalnya, pada saat puisi berisi pesan duka maka pembaca dapat memberikan ekspresi sedih.

2. Pastikan Gerakan Tubuh Sesuai dengan Isi Puisi

Gerakan tubuh juga mendukung penampilan membaca puisi yang ekspresif dan kreatif. Pastikan gerakan tubuh dapat menggambarkan penjiwaan dan pemaknaan isi puisi.

Gerakan tubuh bisa berupa lambaian tangan, hentakan kaki, gerakan badan, atau kepala.

3. Perhatikan Lafal atau Artikulasi

Lafal atau artikulasi sangat penting untuk membaca puisi dengan baik dan benar. Lafal adalah kejelasan pengucapan setiap kata dalam huruf vokal maupun konsonan.

Lafal atau artikulasi yang tepat dalam membaca puisi bisa dicapai dengan latihan. Selain itu, melihat contoh tokoh sastrawan dalam membaca puisi juga dapat membantu melatih artikulasi.

4. Pastikan Penekanan Tepat

Penekanan dalam membaca puisi penting untuk memperjelas makna kata yang dibaca. Penekanan merujuk pada pemberian nada khusus dalam suatu ucapan.

Penekanan dapat menunjukkan bahwa suatu kata yang dibaca dengan lebih ditekan memiliki makna yang lebih dalam daripada kata-kata lain.

5. Perhatikan Jeda dan Tempo

Jeda dan tempo perlu diperhatikan saat membaca puisi dengan ekspresif dan kreatif. Jeda dan tempo membantu audiens memahami maksud puisi yang dibacakan.

Jeda dan tempo bisa diatur per kata, per kalimat, bahkan setiap bait atau baris. Pastikan jeda dan tempo tidak mengubah isi makna puisi.

6. Perhatikan Intonasi

Intonasi adalah tinggi rendahnya nada. Intonasi dalam membaca puisi dengan baik dan benar juga perlu diperhatikan. Hal ini karena penggunaan intonasi yang salah bisa mengubah makna kalimat.

Cara Memahami Makna Puisi

Makna puisi memang terkadang sulit dipahami, sehingga penting untuk memahami puisi. Hal ini karena puisi sering kali menggunakan kiasan untuk menggambarkan sesuatu.

Oleh karena itu, diperlukan cara khusus untuk memahami makna puisi. Menurut Erwan Rachmat dalam Explore Bahasa Indonesia Jilid 2 (2019) setidaknya ada tiga cara yang bisa dilakukan untuk memahami makna puisi.

Ketiga cara memahami makna puisi tersebut antara lain:

1. Mengidentifikasi Makna Judul Puisi

Menurut Rachmat, judul puisi adalah tanda pengenal dari puisi itu sendiri. Judul puisi dapat menggambarkan sekaligus mewakili keseluruhan isi puisi.

Memahami makna judul puisi bisa dilakukan dengan menguraikannya menjadi beberapa definisi.

2. Mengidentifikasi Kata-Kata Kunci

Puisi mengandung beberapa kata kunci yang menjadi pokok utama puisi tersebut. Kata-kata kunci tersebut bisa berupa kiasan maupun maupun makna yang sebenarnya.

Menemukan kata-kata kunci bisa dilakukan dengan menelaah kata yang sering diucapkan dalam setiap bait. Bisa juga dengan menemukan kata yang berkaitan dengan judul puisi.

3. Menentukan Makna Keseluruhan Isi Puisi Secara Utuh

Menemukan makna utuh berarti menemukan pemahaman atas keseluruhan isi puisi, baik secara lugas maupun kiasan. Makna utuh ini bisa ditemukan setelah judul dan kata kunci berhasil diidentifikasi.

Bagaimana Sifat Amanat dalam Puisi

Amanat dalam puisi merupakan pesan yang ingin disampaikan penyair kepada pembaca. Pesan ini bisa berupa nasihat, ajakan, atau kritik terhadap keadaan sosial. Meski singkat, amanat menjadi ruh yang menghidupkan makna di balik setiap larik.

Sifat amanat dalam puisi umumnya tersirat dan menuntut pembaca untuk menafsirkan maknanya. Penyair sering menyembunyikan pesan di balik simbol, metafora, dan diksi yang padat. Karena itu, pemahaman amanat bergantung pada kepekaan dan pengalaman masing-masing pembaca.

Amanat juga memiliki hubungan erat dengan tema dan isi puisi. Melalui tema, pembaca dapat menelusuri arah pesan yang hendak ditegaskan penyair, seperti:

  • Moral, misalnya ajakan berbuat baik atau menolak keserakahan.
  • Sosial, seperti kritik terhadap ketidakadilan.
  • Religius, berupa seruan mendekatkan diri pada Tuhan.

Ingin mendapatkan lebih banyak materi pembelajaran Bahasa Indonesia maupun pelajaran lainnya? Ikuti informasi terbaru seputar materi ajar dan kebutuhan belajar di sini.

Kumpulan Artikel Materi Ajar

Baca juga artikel terkait MATERI AJAR atau tulisan lainnya dari Yonada Nancy

tirto.id - Edusains
Penulis: Yonada Nancy
Editor: Dhita Koesno
Penyelaras: Satrio Dwi Haryono