Cara Korban Kebakaran di Tebet Tetap 'Hidup'

Oleh: Riyan Setiawan - 11 Juli 2019
Dibaca Normal 1 menit
Korban kebakaran di Tebet tentu bersedih. Tapi itu sedikit terobati dengan bicara ke warga terdampak lain.
tirto.id - Bencana selalu menyisakan rasa pilu. Tapi para korban kadang tak mau terus meratapi nasib. Mereka menggali-gali apa yang bisa membuat tetap 'hidup', atau setidaknya agar tak begitu bersedih.

Itulah yang dilakukan warga korban kebakaran dengan skala relatif besar di Jl. Lebak Swadaya I Kampung Bali Matraman RT 12 RW 07, Tebet, Jakarta Selatan. Kebakaran terjadi pada Rabu (10/7/2019) kemarin. Salah satu saksi mata, Firdaus Prasalondah (17), mengatakan titik api berawal dari kontrakan seorang perempuan bernama Papat dan anaknya Aldo.

Kontrakan yang kini tinggal menyisakan reruntuhan dan abu bekas barang-barang terbakar itu milik Supono. Bau gosong masih tercium saat saya datang ke sana, Kamis (11/7/2019). Para warga masih mencari-cari barang yang sekiranya masih dapat diselamatkan.

Firdaus bercerita, kira-kira pukul 11.00, saat ia asyik bermain gawai di rumahnya, ia mencium bau benda terbakar. "Kejadian waktu itu lagi di rumah, santai main HP. Terus mencium bau kebakar. Terus keluar. Ternyata api sudah lumayan besar," katanya dengan raut sedih. "Warga datang. Siram pakai air seadanya dari keran, tapi sekarang sudah hangus [kerannya]. Susah memadamkan dan menyiraminya. Soalnya di atas [lantai dua]."

Firdaus sempat masuk ke dalam rumah, mengambil barang-barang yang dianggap berharga. Yang bisa diselamatkan hanya surat-surat. Rumahnya, yang persis di sebelah kanan kontrakan, kini sudah rata dengan tanah.


Saat rumahnya dilalap si jago merah, kira-kira satu jam setelah api pertama kali muncul, Firdaus mendapat informasi untuk mengungsi ke SDN 05 Manggarai, Jl. Swadaya 1, yang letaknya sekitar 300 meter dari lokasi kejadian. Di sana dia dan warga terdampak mendirikan tenda dan makan roti.

Bantuan-bantuan ini datang dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi DKI Jakarta, Dinas Sosial Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dan Dinas Lingkungan Hidup. Selain makanan, juga disediakan toilet portabel.

Firdaus menghalau rasa sedih dengan cara mengobrol dengan sesama warga. "Senang juga datang dari keluarga ayah dan ibu, bisa kumpul bareng."

Mengobrol juga jadi cara melepas stres Jumadi, salah satu pengungsi di Masjid Nurul Huda yang letaknya sekitar 200 meter dari lokasi kejadian. Selain itu, rokok juga tak lepas dari tangannya.

"Semalaman di posko ngobrol sampai pagi, menenangkan diri. Yang bisa ketawa, ya ketawa."

Tadi pagi Jumadi datang ke rumahnya yang telah hangus terbakar. "Buat menghilangkan sedih lagi, saya bersihin aja barang-barang yang sudah jadi abu. Hitung-hitung kenangan," ujarnya.


Dewi Yanti (17) pun mencoba tak larut dalam kesedihan dengan bicara ke warga lain, terutama yang seumuran. Yang membuatnya bahagia juga keluarga dari Tasikmalaya datang berkunjung.

Posisi rumah Dewi satu deret dengan kontrakan sumber api. Saat terjadi kebakaran, Dewi tengah tidur lelap, tak sadar kobaran api akan membakar rumahnya. Barang-barang yang bisa diselamatkan hanya seunit sepeda motor dan beberapa surat berharga. Tak ada yang lain. "Buku-buku dan perlengkapan terbakar, padahal mau tahun ajaran baru," katanya.

"Berharap ada bantuan, kalau [rumah] masih bisa dibangun ya bersyukur," harap Dewi, dan tentu saja jadi harapan korban kebakaran lain.

Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (Damkar dan PB) DKI Jakarta mengatakan karena kejadian ini 784 orang dari 224 Kartu Keluarga (KK) mengungsi di beberapa tempat. Nominal kerugian karena kebakaran mencapai Rp2 miliar.

Baca juga artikel terkait KEBAKARAN atau tulisan menarik lainnya Riyan Setiawan
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Riyan Setiawan
Penulis: Riyan Setiawan
Editor: Rio Apinino