Bule-bule Melawan Republik

Oleh: Petrik Matanasi - 24 Juli 2016
Dibaca Normal 4 menit
Setelah sengketa Indonesia Belanda berakhir, beberapa orang Belanda masih berusaha menentang Republik Indonesia dengan berbagai cara. Setelah APRA Westerling gagal, NIGO bergerak melawan. Salah satunya dengan membantu DI/TII Kartosuwiryo.
tirto.id - Setelah pengembalian kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949, Belanda harus angkat kaki dari Indonesia. Tentara Kolonial Hindia Belanda alias Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL) pun dibubarkan dan anggotanya boleh masuk Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS) yang belakangan jadi Tentara Nasional Indonesia (TNI) lagi. Namun, seperti kesepakatan Konferensi Meja Bundar (KMB), perusahaan-perusahaan milik Belanda masih boleh beroperasi di Indonesia. Temasuk perusahaan tempat Leon Nicolaas Hubert Jungschlager bekerja.

Pria kelahiran Maastricht Limburg, Negeri Belanda, 1904 ini tinggal di Jalan Pegangsaan 33, Jakarta. Jabatannya di perusahaan pelayaran Belanda atau Koninklijk Packetvaart Maaatschappij (KPM) sebagai Kepala bagian Nautika. Sejak muda, sebagai pegawai KPM dia pernah tinggal di beberapa kota pelabuhan di Indonesia. Jelang pecahnya Perang Pasifik pada 1941, Jungschlager masuk jawatan penerbangan militer Belanda di Surabaya. Februari 1942, Jungschlager ikut menyingkir ke Australia, lalu dilatih sebagai penerbang di Amerika.

Jungschlager tak hanya jadi penerbang. Dia juga bergabung di jaringan intelijen Belanda di Indonesia, Netherlands Forces Intelligence Service (NEFIS). Menurut data yang dihimpun oleh R. Soenario dalam Proses Jungschlager (1955), sekitar November 1945, Jungschlager datang ke Jakarta sebagai Letnan Satu Angkatan Laut yang diperbantukan di NEFIS. Tahun berikutnya, pangkatnya naik jadi Kapten. Dia bekerja langsung di bawah komando Letnan Jenderal Spoor dan Admiral Pigke. Setelah Pengakuan Kedaulatan, Jungschlager bertahan di KPM Indonesia.

Kawan Seperjuangan Jungschlager

Jungschlager tidak sendiri. Ada bekas Kapten Schmidt yang sejak lama bergabung di KNIL. Pria keturunan Jerman ini sempat diragukan loyalitasnya kepada Belanda. Nyatanya, Schmidt sangat loyal pada Belanda. Ada juga Manoch yang bekas Serdadu Milisi di bawah KNIL yang ikut dikalahkan Jepang di 1942. Manoch dan Schmidt Sudah saling kenal sejak 1940. Setelah Perang Dunia II selesai, Manoch yang berdarah Indo Belanda ini, pernah dilatih di Filipina dan menjadi Polisi Militer Belanda. Dia dianggap dekat Kapten Raymond Westerling, bahkan pernah jadi supirnya.

Menurut laporan intel Supardi dalam bukunya Westerling (1983), Jungschluger berhubungan juga dengan Westerling dan lainnya. Termasuk dengan seorang wanita bernama Carla Wolff yang ikut memimpin Organisasi Gerilya Hindia Belanda atau Nederlandsch Indies Guerilla Organisatie (NIGO) yang melibatkan Jungschluger, Schmidt dan lainnya. Menurut novel yang ditulis Musa Dahlan berjudul Rampok, nama Carla Wolff dikaitkan dengan Harta Nakamura. Carla yang menjanda di zaman pendudukan Jepang kemudian memilih menjadi gundik dari perwira Jepang cerdas bernama Kapten Nakamura.

Selain orang-orang Belanda atau Indo, beberapa orang pribumi juga dilibatkan dalam menentang Republik. Mereka biasanya orang-orang yang sebelumnya pernah bekerja dengan Belanda. Menurut Sunario, Lodewyk Jacob Tomasoa mendapat perintah dari perwira Belanda seperti Letnan D.C. Prins, untuk membuat peta Bandung yang berisikan posisi pos TNI di Bandung. Tomasoa merupakan mantan KNIL bagian intelijen, dengan pangat terakhir Sersan. Tomasoa masih berhubungan dengan Prins meneruskan peta itu pada Letnan Hinter. Dari Hinter, peta itu diberikan pada Letnan Titalay. Kemungkinan peta ini dipegang orang-orangnya Westerling yang bergerak dalam Peristiwa Angkatan Perang Radu Adil (APRA).

Dengan katebelece dari Moorselaar, Tomasoa bisa menyambung hidup dengan bekerja di onderneming (perkebunan) Dramaga dengan posisi sebagai kepala teknik. Di situlah Tomasoa mulai terlibat dengan NIGO. Kepala Onderneming, Motman merupakan salah satu pimpinan NIGO di Dramaga. Dramaga merupakan tempat penyimpanan senjata, amunisi, bahan makanan, dan lain-lainnya untuk gerilyawan NIGO. Banyak orang tertangkap menyebut jika Jungschlager adalah pimpinan tertinggi NIGO.

Melawan Republik Indonesia

Akhir tahun 1949, Jungschlager mengerahkan segala upayanya untuk memperkuat gerakan bawah tanah. Sebagai pemuka perusahaan pelayaran terpenting di Indonesia ketika itu, Jungschluger tentu bisa memperoleh banyak bantuan dari orang-orang Belanda yang tidak menguasai Indonesia.

Keuangan NIGO terkumpul dari sumbangan beberapa pihak yang anti Republik Indonesia. Seperti Kepala Perkebunan Karet Serpong, Seynja. Dia pernah menyerahkan uang sumbangan kepada bekas Inspektur Teerling yang menjadi kepala gerombolan. Di antara uang yang diberikan itu, terdapat uang palsu dari Belanda.

Dengan uang itu, Jungschluger menyediakan dan mengirim senjata, pakaian, makanan dan lainnya untuk gerakan gerombolan bersenjata seperti NIGO, White Eagle, Nederland zal Herrrijzen (NZH).

Sekitar 15 Januari 1950, Motman dapat perintah dari Jungschlager untuk mengirim 3 peti peluru dan 6 peti makanan ke daerah selatan Bogor. Maret 1950, Jungschlager menerima uang sebesar Rp125.000 untuk diserahkan kepada Brouwer dan Hadji Achmad. Keduanya orang NIGO. Selain uang itu, 164 pucuk senapan juga diterima untuk diberikan kepada Kolonel Thompson.

Pertengahan Maret 1950, Jungschlager ke Dramaga dengan sedan Pontiac. Dia meminta dan menerima uang dari Motman sebesar Rp120.000. Uang itu dipecah lagi kemudian, Rp100.000 untuk para gerombolan untuk beroperasi. Sedang, Rp20.000 diberikan pada Ki Achmad dari Semarang. Jungschlager juga menerima 164 senjata api, sebanyak 12 di antaranya adalah senapan mesin ringan Tommy Gun. Separuh dari senjata itu lalu diserahkan pada Kolonel Thompson. Jungschlager datang bersama Lammers van Buuren dan sopirnya Ernst Parre untuk mengambil 8 mortir 2 inci dan 3 peti pistol Canada (MKI).

Jungschlager juga memberikan uang sebesar Rp60.000 kepada Motman. Motman berhubungan dengan Mayor van Buren yang yang tinggal di Bogor. Pertengahan Mei 1950, Motman mengambil alat-alat komunikasi di rumah Mayor van Buren. Motman lalu menyerahkan pada Kapten Schmidt di Cidaun.

NIGO pernah berencana menyerang TNI di Garut, Bandung dan Jakarta. Schmidt akan menjadi komandan operasi NIGO tersebut. Basis NIGO nantinya adalah Jakarta. Sementara itu, Manoch, akan kebagian perintah untuk menghancurkan gedung kabinet Presiden di Jalan Merdeka Utara dengan bom. Rupanya, Manoch tidak berani memasuki gedung tersebut, karena dijaga ketat oleh pasukan pengawal presiden yang dipimpin Mangil.

Untuk memenuhi kebutuhan gerilya NIGO, rencananya bantuan peluru, senjata dan lainnya akan dijatuhkan dari pesawat terbang dengan parasut. Nampaknya, NIGO beroperasi di Palembang dan Jambi. NIGO berusaha menyelundupkan dan membagi senjata musuh Republik. Senjata itu didatangkan dari pasar gelap Singapura. Senjata-senjata itu dimuat dengan kapal-kapal General Motor yang biasa dipakai untuk membuang kotoran ke laut, melewati Tangerang atau Cilincing.

Ada juga senjata yang mereka dapat dari gudang Misi Militer Belanda yang masih bertugas di Indonesia. Suatu kali, Kapten De Jong dan Van Wieringen memerintahkan pengiriman makanan dan obat-obatan dalam jumlah besar dibawa ke Kebayoran dengan menggunakan truk Misi Militer Belanda untuk NIGO.



Kelompok lain yang dibina Jungschlager adalah NZH yang menghimpun bekas lurah atau kepala kampung di zaman pendudukan tentara Belanda. Para lurah atau kepala kampung itu dulunya mendukung pemerintahan federal yang berusaha diterapkan NICA pimpinan van Mook. Gerakan NZH nampak seperti gerakan legal .

Sebagai orang penting di NIGO, Motman, rupanya punya hubungan dengan jaringan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di sekitar Bogor. Baik dengan atau tanpa sepengetahuan Imam Besar DI/TII Sukarmaji Marijan Kartosuwiryo. Tak menutup kemungkinan ada saling bantu di antara mereka. Karena musuh mereka kala itu setidaknya sama, Republik Indonesia. Bahkan ada mantan Inspektur Polisi Belanda, yang satu sikap dengan Jungschluger, bernama van Kleef juga ikut DI/TII.

Jungschlager dan Manoch kadang melakukan pertemuan-pertemuan di gua-gua sekitar Gunung Salak antara 1950-1951. Pada November 1950, Kapten Schmidt datang ke Serpong, ditemani Manoch yang menyetir mobil Schmidt. Manoch mengaku pernah melakukan infiltrasi ke kantor kejaksaan, kejaksaan agung dan instansi pemerintah lainnya. Itu semua atas perintah Schmidt.

Bicara soal area gerilya, terdapat 3 kekuatan NIGO. Pertama, Batalyon 178 di bawah pimpinan van Kleef dan Zainal Abidin, yang beroperasi di daerah Garut. Kedua Batalyon 781 di bawah pimpinan Kolonel Tompson dan Katamsi, yang beroperasi di daerah Cirebon. Ketiga, Batalyon 871 di bawah pimpinan Kapten Schmidt, Sungkawa dan Subrata. Daerah operasinya lebih luas dibanding yang lain, yakni Jakarta, Bandung, Cianjur dan Sukabumi.

Awal Juni 1950, Manoch bertemu Jungschlager lagi di rumah Motman, untuk merencanakan perubahan gerakan NIGO, dengan fokus untuk menyerang Garut dan Jakarta. Motman rupanya ingin akan mengundurkan diri karena ada urusan keluarga. Dramaga tempat Jungschluger memimpin gerakan harus dipindah ke Jakarta. Haji Achmad bahkan diperbantukan pada Anak Agung Gede Made di Sumatera. Sementara Schmidt memimpin sebagian daerah Jawa Barat.

November 1950, Motman yang tidak tenang merasa harus berangkat ke Australia. Begitu juga dengan Peters dan Moorselaar. Jungschlager dan lainnya masih lanjut. Gerakan ini tidak membesar. Jungschlager akhirnya ditahan sejak Januari 1954.

Awal 1955, ia diadili karena membantu DI/TII dengan senjata, uang dan perlengkapan militer lainnya. Dia dituntut hukuman mati, tetapi sebelum vonis dijatuhkan, Jungschlager meninggal dunia pada 19 April 1956. Manoch juga ditemukan meninggal di dalam tahanan. Schmidt sendiri juga tertangkap dan diadili.

Tidak banyak yang mengetahui perjalanan orang-orang bule yang ingin melakukan pemberontakan di awal dekade tahun 1950an itu. Namun, kiprah mereka terekam dalam perjalanan sejarah Indonesia.

Baca juga artikel terkait HUMANIORA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti