tirto.id - Chief Operating Officer Grup Djarum Victor Hartono membagikan kisah di balik akuisisi PT Griya Mie Sejati, pemilik waralaba kuliner legendaris Bakmi GM. Dalam forum Meet the Leaders di Universitas Paramadina, Sabtu (26/7/2025), pembelian bisnis tersebut dimulai dari proses penawaran (bidding) yang diikuti oleh sejumlah perusahaan.
“Jadi, tahun lalu itu, kita enggak ada rencana apa-apa, enggak begitu kenal keluarganya juga. Hanya kenal dengar-dengar. Knok knok knok knok, ‘Hei, kita dari keluarga Bakmi Gajah Mada, kita lagi mau exit’,” ujar Victor menceritakan momen tersebut.
Victor menuturkan, Grup Djarum kemudian mengikuti proses bidding bersama dua pihak lainnya, dan akhirnya keluar sebagai pemenang. Bagi Victor, keputusan menjual Bakmi GM bukan hanya soal bisnis, melainkan solusi yang damai dan rasional dalam konteks bisnis keluarga.
Terlebih, keluarga pemilik Bakmi GM yang kala itu terdiri atas delapan orang dengan rentang usia 70 hingga 80 tahun, telah menjalankan bisnis tersebut sejak usia belasan tahun dan mulai kelelahan secara fisik.
“Sudah ngebantuin orang tuanya bikin bakmi dari belasan tahun. Jadi sudah capek bikin bakimi 60-70 tahun, katanya. 'Ini kita bantuin bikin bakmi dari umur 12 tahun, now saya sudah umur 80, sudah enggak kuat bikin bakmi lagi'. Keturunannya? Ada tapi enggak semua enggak mau,” katanya.
Dalam paparannya, Victor menjelaskan bahwa dinamika bisnis keluarga memang kerap memunculkan tantangan, mulai dari ketimpangan visi hingga tarik-menarik pembagian dividen dan kepemimpinan. “Ini pokoknya solusi kan. Paling enggak rukun lah,” ujarnya.
Victor menyebut empat pola umum yang biasanya ditempuh keluarga dalam menyikapi bisnis: menyerahkan kepemimpinan pada satu penerus, membagi bisnis, tetap bersatu, atau menjual.
“Keluarga yang punya kecap Bango. Ini teman sekolah mama saya keluarganya itu. Akhirnya mereka bilang. Kita mau jual ke Unilever. Keluarga Bakmi Gajah Mada mirip,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya perencanaan jangka panjang dan meritokrasi dalam menjaga keberlanjutan bisnis keluarga. Sebagai generasi ketiga keluarga Hartono, Victor mengaku telah merancang arah hidupnya sejak dini.
Pengalaman keluarganya menghadapi keruntuhan industri minyak kacang dan pabrik mercon pada masa lalu, menurutnya, membuat mereka lebih waspada dan sadar akan pentingnya diversifikasi dan regenerasi yang sehat.
“Saya termasuk yang sudah ngerti dari kecil, dan juga apa yang mau eksekusi sudah ada planning jangka panjang. Saya eksekusi sampai saya pensiun nanti, kasih estafetnya ke generasi berikutnya. Saya retire tapi saya sudah maksimalkan hidup saya buat keluarga saya umur negara saya buat dunia,” pungkas Victor.
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id






































