10 Juni 1996

B.M. Diah, Wartawan-Aktivis Penyelamat Draf Proklamasi

Burhanuddin Mohammad Diah. tirto.id/Nauval
Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 10 Juni 2020
Dibaca Normal 3 menit
B.M. Diah adalah jurnalis yang juga lincah sebagai aktivis politik semasa pendudukan Jepang. Menyelamatkan draf proklamasi ketika tak seorang pun menghiraukan.
Dini hari 17 Agustus 1945 adalah saat sibuk dan menegangkan bagi kelompok-kelompok pemuda di Jakarta. Sukarno-Hatta yang sempat mereka “amankan” ke Rengasdengklok dipulangkan ke Jakarta. Kedua pemimpin Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) ini bergegas melobi pihak Jepang dan mempersiapkan proklamasi di rumah dinas Laksamana Maeda Tadashi.

Sementara para tetua rapat, Sukarni dan Sayuti Melik (eksponen Asrama Menteng 31), berkeliling ke pos-pos kelompok pemuda di seantero Jakarta. Mereka mengabarkan bahwa proklamasi akan dilaksanakan esok hari. Karena itu sebisa mungkin keadaan harus kondusif sampai esok hari dan tak boleh ada keributan yang tak perlu dengan tentara Jepang. Setelah semua urusan koordinasi keamanan diselesaikan, Sukarni menuju Asrama Prapatan 10 dan Sayuti Melik langsung menuju rumah Laksamana Maeda.

Rupanya, di asrama itu banyak aktivis lintas kelompok sedang berkumpul merencanakan upacara proklamsi di Lapangan Ikada (sekarang Monas). Kumpulan ini bahkan merancang teks proklamasi versi mereka sendiri. Begitu beres, Sukarni dan beberapa pemuda lain sebagai wakil kelompok diutus meninjau rapat persiapan proklamasi di rumah Laksamana Maeda. Termasuk dalam rombongan itu adalah wartawan Burhanuddin Mohammad Diah.


B.M. Diah ikut menunggu di ruang tengah rumah Laksamana Maeda manakala Sukarno, Hatta, dan Achmad Soebardjo menyusun draf teks proklamasi. Setelah draf itu disetujui para wakil pemuda dan anggota PPKI yang hadir, Sukarno meminta Sayuti Melik mengetiknya. Diah ikut menemani Sayuti mengetik.

Setelah naskah ketikan itu ditandatangani Sukarno dan Hatta, Sayuti membuang begitu saja draf proklamasi tersebut. Tak seorang pun menaruh peduli pada draf tulisan tangan Sukarno itu, toh sudah ada naskah ketik yang lebih resmi dan diteken langsung Sukarno-Hatta. Tapi, Diah mengambilnya.

"Naluri saya sebagai wartawan mengambil itu untuk diumumkan lewat suratkabar," aku Diah di kemudian hari sebagaimana dikutip Kompas (20/5/1992).

Insting itu tak salah. Tepat sebelum semua orang bubar Bung Hatta memberi tugas khusus kepada Diah.

“Saudara yang bekerja di Kantor Domei, kawatkan sedapat-dapatnya berita Proklamasi itu ke seluruh dunia yang dapat dicapai,” demikian pesan Hatta sebagaimana tersua dalam memoar Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi (2010: 93).

Diah langsung bergegas. Ia bikin semacam konsep pariwara untuk menyebarluaskan teks proklamasi itu. Di sebalik draf yang diambilnya ia menulis, "Berita istimewa, berita Istimewa. Pada hari ini, tanggal 17 bulan 8, 1945 di Djakarta telah dioemoemkan proklamasi kemerdekaan Indonesia jang boenjinya: Proklamasi, Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan, kemerdekaan Indonesia. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan dllnja, diselenggarakan dengan tjara saksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnya. Djakarta, 17-8-1945.”

Ia lalu membawanya ke percetakan Siliwangi untuk diperbanyak dan disebarluaskan melalui media massa dan radio. Draf proklamasi itu tetap ia simpan sebelum akhirnya ia serahkan kepada Presiden Soeharto pada 1992.


Si Yatim Piatu Jadi Wartawan

Ia lahir dengan nama Burhanuddin pada 7 April 1917 di Kotaraja (kini Banda Aceh). Nama belakang Mohammad Diah ia ambil dari ayahnya yang wafat seminggu setelah kelahirannya. Malang tak dapat ditolak, bungsu dari delapan bersaudara ini juga ditinggal mati ibunya saat usianya hampir delapan tahun.

Meski yatim piatu di usia sangat belia, Diah termasuk maju dalam dalam pendidikan. Ia menempuh pendidikan pertamanya di HIS Kotaraja dan kemudian MULO di Medan. Diah lalu hijrah ke Bandung untuk mendalami jurnalistik di Ksatrian instituut atau lebih dikenal dengan Middelbaar National Handels Collegium (semacam sekolah tinggi ilmu ekonomi dan jurnalistik partikelir) yang dikelola aktivis Ernest Douwes Dekker.


Maka mudah diduga setelah menyelesaikan pendidikannya Diah berkarier jadi wartawan.

“Pada 1937 sampai 1938 ia bekerja sebagai pembantu redaktur di surat kabar Medan, Sinar Deli; sesudah itu ia berada di Jakarta sebagai redaktur Warta Harian,” tulis Ben Anderson dalam Revoloesi Pemoeda (2018: 485).

Kariernya lalu berlanjut di Konsulat Jenderal Inggris di Jakarta sebagai penerjemah dan kepala Biro Pers Indonesia. Posisi itu ia pegang terus hingga tentara Jepang menduduki Indonesia pada 1942. Di awal masa pendudukan itu Diah dapat kerja di radio Hosokyoku sebagai penyiar. Tak lama ia kembali lagi ke meja redaksi, kali ini sebagai asisten redaktur koran Asia Raya.


Dalam Arus Gerakan Pemuda

Jika orang bertanya siapa B.M. Diah sehingga boleh hadir dalam rapat persiapan proklamasi dan kemudian dapat tugas penting dari Hatta, jawabannya bukan sekadar karena ia wartawan. Diah juga aktivis pemuda yang aktif.

Sejak awal pendudukan Jepang, ia sudah beredar di lingkaran aktivis yang berhimpun di Asrama Menteng 31. Asrama ini menjadi jujugan aktivis seperti Chaerul Saleh, Sukarni, Adam Malik, juga D.N. Aidit dan Lukman. Diah bukan anggota tetap asrama ini, tapi ia rajin nimbrung dalam pertemuan-pertemuan mereka.

Sebagai aktivis Diah, yang meninggal pada 10 Juni 1996, tepat hari ini 24 tahun lalu, tergolong lincah dan mudah bergaul. Posisinya sebagai redaktur di Asia Raya yang punya informasi soal perkembangan perang Jepang membuatnya berpengaruh dan didengar. Ia juga menjalin hubungan baik dengan kelompok pemuda lain seperti kelompok Kaigun yang dimentori Achmad Subardjo.


Pada Juni 1945 Diah ikut terlibat dalam pendirian Gerakan Angkatan Baru Indonesia. Gerakan ini adalah antitesis Gerakan Angkatan Muda yang dinilai sebagian aktivis terlalu dipengaruhi Jepang. Diah ditunjuk sebagai ketua panitia pendiri.

“Gerakan Angkatan Baru yang saya pimpin adalah satu kumpulan pemuda yang ingin sekali berbuat, ingin bertindak, gelisah dalam dinamik dan militansi menentukan dengan sadar nasib bangsa dan tanah airnya sendiri. [...] Ia perlu dibentuk untuk mengatasi kelambanan berpikir dan bertindak dari kaum yang lebih tua, walaupun dianggap lebih berpengalaman dalam bidang politik,” tulis Diah dalam Peran Pivotal Pemuda Seputar Lahirnya Proklamasi 17-8-’45 (2019: xxviii).

Aktivis-aktivis yang kemudian berhimpun dalam Angkatan Baru kebanyakan adalah kawan-kawannya dari kelompok Menteng 31. Tokoh-tokoh militan macam Sukarni, Wikana, Chaerul Saleh, Harsono Tjokroaminoto, hingga Asmara Hadi berturut di belakang B.M. Diah.

Gerakan ini punya tujuan sebagai tempat berhimpun seluruh golongan dan mendorong kemerdekaan “dengan kekuatan sendiri”. Mereka juga menegaskan hendak membentuk Republik Indonesia.

“Pembentukan Angkatan Baru ini tidak banyak atau bahkan sama sekali tidak punya signifikansi secara keorganisasian, tetapi ia benar-benar menjadi tempat bertemunya tokoh-tokoh pemuda metropolitan yang paling terkemuka dan mempunyai banyak koneksi di atas panggung umum sebagai kelompok politik terbuka,” tulis Ben Anderson (hlm. 62).

Baca juga artikel terkait PROKLAMASI KEMERDEKAAN RI atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight