Bisakah Liverpool Jadi Juara Premier League Musim Ini?

Pelatih Liverpool Jurgen Klopp (tengah), merayakan dengan para pemain Liverpool setelah memenangkan pertandingan sepak bola Liga Inggris antara Tottenham Hotspur melawan Liverpool di Stadion Wembley di London, Sabtu 15 September 2018. AP Photo / Tim Ireland
Oleh: Renalto Setiawan - 3 Januari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Premier League 2018-2019 baru berlangsung separuh jalan, tapi Liverpool sudah menunjukkan tanda-tanda untuk meraih gelar.
tirto.id - Bill Shankly, mantan pelatih legendaris Liverpool, suatu saat pernah berujar, "Jika anda berada di posisi kedua, anda bukan siapa-siapa."

Kalimat itu mungkin cocok sebagai cambuk bagi Jurgen Klopp. Sejak melatih Liverpool pada Oktober 2015, Klopp hanya berhasil membawa The Reds berada di posisi kedelapan, dan dua kali berada di posisi keempat. Jika merujuk pada apa yang dibilang Shankly, Klopp jelas bukan siapa-siapa. Namun, Jamie Carragher, mantan bek tengah Liverpool, ternyata mempunyai pendapat berbeda.

“Jujur saja, dia [Klopp] adalah bintang dari tim,” tutur Carra dalam Klopp: Bring The Noise (2017). “Jika memungkinkan, banyak suporter [Liverpool] akan mengenakan jersey dengan namanya. Dia adalah wajah; dia adalah representasi tim. Saat Anda berpikir tentang Liverpool, Anda berpikir tentang Jurgen Klopp.”

Pujian setinggi langit Carra untuk pelatih asal Jerman tersebut tak hanya berhenti sampai di situ. Ia juga yakin bahwa Klopp ditakdirkan datang ke Anfield untuk membawa Liverpool meraih gelar liga. Sebuah gelar yang terakhir kali Liverpool genggam pada musim 1989-1990 silam. Dan jika semuanya berjalan lancar hingga akhir musim ini, Shankly barangkali akan berjoget senang di liang lahatnya.

Hingga pekan ke-20 Premier League musim ini, Liverpool masih berdiri kokoh di posisi puncak. Mengumpulkan 54 angka, The Reds unggul 6 angka dari Tottenham Hotspur yang berada di posisi kedua. Namun, Spurs sudah melangsungkan satu pertandingan lebih banyak. Jarak dengan Spurs bisa bertambah jauh jika Liverpool menang ketika bertamu ke Etihad, markas Manchester City, pada tanggal 4 Januari 2019 nanti.

Untuk mencapai posisi puncak, penampilan The Reds mendekati kesempurnaan. Mereka tidak hanya menang 17 kali, 3 kali bermain imbang, dan nihil kekalahan. Dari 17 kemenangan yang mereka raih, sejumlah tim besar juga menjadi korban: Hotspur dibekap 1-2 di Wembley. Di Anfield, Manchester United digebuk 3-1 dan Arsenal dibantai 5-1.

Catatan apik Liverpool tersebut lantas dilengkapi dengan kinerja lini belakang Liverpool yang mengagumkan: sejauh ini mereka hanya kebobolan 8 gol di liga. Jauh lebih baik daripada musim lalu yang sudah kebobolan 20 gol dalam jumlah pertandingan yang sama.


Selain itu, anak asuh Klopp tersebut juga hampir selalu tampil brilian dan menyenangkan. Ketika bermain di Anfiled, diiringi kor massal para penggemarnya, Liverpool benar-benar terlihat seperti sebuah band heavy metal terbaik yang sedang melangsungkan konser: cadas, mampu menaikkan tekanan darah dan denyut jantung, sekaligus menaikkan temperatur di Anfield. Singkat kata, Liverpool hampir tak pernah gagal “membakar” Anfiled di setiap penampilannya pada musim ini.

Karenanya, Henry Writer, Chief Writer sepakbola di The Times, tak bisa menutupi kekagumannya terhadap permainan Liverpool. Ia menulis, “Siapa pun yang menyukai sepakbola mengasyikkan yang tak kenal rasa takut, harus mengapresiasi setiap serangan yang dilakukan Alexander-Arnold dan Andrew Robertson [duet full-back Liverpool], yang mampu memicu badai secara sekejap dengan menggerakkan predator macam Salah, Mane, serta Firmino.”

Sementara itu, Gary Neville, mantan pemain Manchester United, juga tak sungkan memberikan pujian. Setelah Manchester United dihantam Liverpool 3-1 di Anfield 16 Desember 2018 kemarin, ia menyadari bahwa kualitas Setan Merah berada jauh di bawah Liverpool.

“Aku harus mengatakan, andai kesalahan Allisson tak dihitung, ini adalah pertandingan antara laki-laki melawan anak-anak, bukan? Hanya ada satu tim yang benar-benar bagus di atas lapangan,” tulis Neville di Sky Sports.

Untuk semua itu, Klopp jelas menjadi orang yang paling patut disorot atas segala pencapaian menggembirakan Liverpool itu. Dan seperti mendapatkan pelajaran dari Zinedine Zidane di final Liga Champions 2017-2018, serta dari Didier Deschamps saat membawa Prancis menaklukkan sepakbola dunia pertengahan Agustus 2018 lalu, Klopp ternyata mengubah peruntungan Liverpool layaknya para pelatih-pelatih besar meraih kesuksesan: ia sangat adaptif.

Saat mereka mengalahkan Arsenal 5-1, itu adalah bentuk dari penampilan klasik Liverpool di bawah Klopp: cepat, agresif, dan gegenpressing. Menurut JJ Bull, analis taktik di The Telegraph, gegenpressing adalah salah satu kunci kemenangan Liverpool dalam pertandingan itu. Tahu bahwa Arsenal senang melakukan build-up serangan dari lini belakang, Liverpool sengaja mengincarnya untuk memberikan jalan bagi gegenpressing agar berperan sebagai “playmaker tim”. Hasilnya luar ternyata biasa: Liverpool berhasil unggul empat gol, dan salah satu golnya berasal dari gegenpressing.

“Arsenal memulai pertandingan dengan mencoba melakukan build-up serangan dari lini belakang tapi beberapa kali gagal dan mengakibatkan kesalahan buruk. Tanpa pemain yang berdiri bebas untuk menerima umpan dan tanpa sentuhan pertama yang sempurna, strategi itu tak berhasil. Liverpool mendorong tiga pemain depannya mendekati gawang [Arsenal] dan pemain tengah mereka berada tak jauh di belakangnya,” tulis Bull.


Jonathan Wilson, pengamat sepakbola Inggris, juga menjelaskan pendekatan taktik Liverpool dari sudut pandang berbeda. Menurut Wilson, saat Liverpool kehilangan bola hingga 20 kali di sepanjang 50 menit pertama, itu adalah bagian dari rencana Klopp. Sang pelatih memang pernah berujar: saat pemain lawan berhasil merebut bola dan membuat keadaan kami cukup rentan, di saat itulah gegenpressing biasanya dapat bekerja sempurna.



Namun, penampilan Liverpool pada musim ini ternyata tak selalu seperti itu. Masih menurut Wilson, ada pergeseran taktik yang cukup kentara di dalam permainan Liverpool pada musim ini. Saat kehilangan bola, para pemain Liverpool tak seagresif musim lalu. Jika pada musim lalu Liverpool rata-rata berhasil 4,5 kali merebut bola di daerah sepertiga akhir, pada musim ini – hingga Desember 2018 lalu -- mereka hanya melakukannya sebanyak 4,1 kali.

Pendekatan itu lantas membikin pemain-pemain Liverpool bisa mengambil napas sekaligus memberikan waktu bagi mereka untuk memikirkan organisasi pertahanan. Dampaknya ternyata luar biasa efektif. Mereka menjadi lebih awas dalam membaca permainan dan pertahanan Liverpool menjadi lebih solid daripada musim-musim sebelumnya.

Selain itu, Liverpool juga menjadi sebuah tim yang lebih baik di banyak aspek. Pada musim lalu, rataan tembakan pemain Liverpool dari 10 kali umpan hanya mencapai 3,39 kali, sedangkan pada musim ini meningkat jadi 4,12 kali. Dengan pendekatan seperti itu, ditambah dengan kemampuan memanfaatkan bola-bola mati yang juga mengalami peningkatan pesat pada [musim lalu Liverpool hanya mencetak 11 gol dari bola mati, sementara pada musim ini mereka sudah mencetak 13 gol dari bola mati], tim-tim kecil yang biasa bertahan secara mendalam bukan lagi mimpi buruk bagi Liverpool. Tak heran jika di Premier League sejauh ini, Liverpool berhasil mampu menorehkan catatan sempurna saat menghadapi tim-tim seperti itu.

Lantas, apakah Liverpool mempunyai peluang besar untuk meraih gelar Premier League pada musim ini? Ya, tentu.

Pada September 2018 lalu, Paul Merson dan Matt Le Tissier, dua pengamat sepakbola Inggris, memang masih meragukan kapasitas Liverpool untuk meraih gelar. Keduanya masih menjagokan Manchester City. Namun, jika Liverpool berhasil mengalahkan City pada 4 Januari 2019 besok, pendapat kedua mantan pemain sepakbola Inggris tersebut besar kemungkinan akan berubah. Ingat, Klopp punyai catatan apik saat menghadapi Pep Guardiola, pelatih City: 8 kali menang, 2 kali imbang, dan 5 kali kalah. Ia jelas mempunyai potensi besar untuk membikin City menjadi debu di rumah mereka sendiri.

Baca juga artikel terkait LIVERPOOL atau tulisan menarik lainnya Renalto Setiawan
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Renalto Setiawan
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight