Beto-Jaime ke Persija: Rupanya PSSI yang Tawarkan Peminjaman Pemain

Oleh: Herdanang Ahmad Fauzan - 1 Februari 2019
Dibaca Normal 2 menit
PSSI berperan dalam peminjaman Beto dan Jaime. Ide ini berpotensi melanggar aturan FIFA dan terkesan sebatas permintaan maaf PSSI ke Persija
tirto.id - Pengumuman mengejutkan datang dari manajer Madura United, Haruna Soemitro selepas timnya melakoni laga 32 besar Piala Indonesia lawan Cilegon United, Rabu (30/1/2019) kemarin. Ia mengatakan dua pemain Laskar Sapeh Kerrab, Jaimerson Da Silva dan Alberto Goncalves dipinjamkan ke klub asal ibu kota, Persija Jakarta.

Peminjaman ini dilatarbelakangi situasi Persija yang wajib memarkir empat rekrutan anyarnya pada kualifikasi Liga Champions Asia (LCA) akibat belum punya International Transfer Certificate (ITC). Prihatin karena ancaman nasib buruk wakil Indonesia, Madura United "legowo" meminjamkan dua nama yang sebenarnya belum genap dua pekan mereka rekrut.

"Jika kualifikasi pertama saja sudah tidak bisa [Persija kalah], akan sangat mempengaruhi peluang-peluang menambah wakil di asia tahun selanjutnya," kata Haruna dalam pernyataan resminya.

Yang bikin menarik, status peminjaman Beto dan Jaime cuma berlaku untuk kualifikasi LCA. Babak ini hanya akan berlangsung bulan Februari hingga Maret, itu pun andai Persija meraih kemenangan beruntun. Artinya, paling banter keduanya cuma jadi pemain pinjaman selama dua bulan. Selepas itu mereka bakal kembali ke Madura.

"Peminjaman ini, hanya berlaku untuk kepentingan pertandingan internasional dan mereka tidak bisa dimainkan di Piala Presiden maupun Liga 1," imbuh Haruna.

Jika berpatokan pada aturan resmi, peminjaman pemain dalam durasi dua bulan ini sebenarnya pelanggaran. Pada Pasal 10 ayat 2 di Regulasi FIFA tentang Status dan Transfer Pemain (PDF), disebutkan bahwa periode minimal peminjaman pemain adalah waktu antara dua periode pendaftaran (bursa transfer). Artinya, peminjaman hanya boleh dilakukan untuk sekurang-kurangnya setengah musim kompetisi.


Idenya dari PSSI

Ide peminjaman ini rupanya berasal dari peran PSSI. Menurut Chief Operating Officer Persija Jakarta, Muhammad Rafil Perdana, PSSI menawarkan solusi ini kepada Persija untuk meminjam pemain dari klub lain.

Peminjaman ini buntut dari protes Persija ke PSSI lantaran federasi sepak bola Indonesia itu menerapkan Transfer Matching System (TMS) pada 15 Februari hingga 9 Mei 2019, padahal, tenggat pendaftaran pemain yang ditetapkan AFC untuk kualifikasi LCA adalah Senin (21/1/2019).

Jadwal TMS yang telat itu jadi penyebab empat pemain baru Persija yang didatangkan dari klub luar negeri tidak mendapat ITC. Sebab, dokumen yang jadi syarat wajib bermain di level Asia ini baru bisa diproses saat TMS berlangsung.

"Setelah protes keras yang kami lakukan kepada PSSI, dan setelah mereka berkomunikasi dengan AFC, peminjaman dua pemain ini adalah 'solusi' yang sedang 'diusahakan' oleh PSSI untuk Persija," imbuh Rafil kepada reporter Tirto, Kamis sore (31/1/2019).

Tawaran solusi itu pula yang kemudian membuat Persija bergerak mencari pemain-pemain yang bisa dimasukkan dalam skuat kualifikasi LCA. Persija sebenarnya tidak cuma mendekati Madura United. Klub berjuluk Macan Kemayoran itu sempat melobi pemain dari dua klub lain untuk ditanyai ketersediaan pemain.

"Setelah berkomunikasi kepada klub masing-masing pemain di dalam daftar tersebut, kedua pemain [Beto dan Jaime] itulah yang bisa, available, dan sesuai dengan kebutuhan tim," lanjut Rafil.

Terkait kemungkinan adanya pelanggaran regulasi FIFA dalam transfer Beto dan Jaime, Rafil enggan banyak membahasnya. Ia merasa Persija sudah banyak dirugikan karena TMS yang ditetapkan PSSI, sehingga tak ada jalan keluar selain solusi peminjaman yang ditawarkan.

"Justru ini adalah solusi yang mereka berikan kepada kami, setelah mereka berdiskusi dengan AFC dan FIFA. Jadi kalau ini dibilang melanggar peraturan, mungkin bisa diklarifikasi ke PSSI," ungkapnya.

Meski mengaku peminjaman ini merupakan solusi yang ditawarkan PSSI, Rafil menyebut, federasi tak mengirimkan utusan resmi yang menyampaikan solusi ini kepada Persija. Sebaliknya, solusi ini hanya disampaikan Ratu Tisha selaku Sekjen PSSI kepada Gede Widiade, Direktur Persija.

"Ibu Sekjen [PSSI, Ratu Tisha] yang komunikasi ke Pak Gede [Widiade, Direktur Persija] langsung," tandas Rafil.

Namun saat diklarifikasi lewat sambungan telepon, Ratu Tisha tak memberi jawaban hingga laporan ini dibuat, Kamis malam.


Akal Menembus Regulasi

Klarifikasi lantas diberikan Direktur Media dan Promosi PSSI, Gatot Widakdo. Saat dihubungi reporter Tirto, Gatot tidak menampik perkataan Rafil yang menyebut PSSI jadi pemberi saran agar Persija meminjam pemain untuk jangka pendek.

"Karena kami juga bilang ke AFC, istilahnya 'gimana kalau diperbolehkan meminjam pemain'. Karena, kan, empat pemain Persija belum punya ITC," ujar Gatot, kemarin.

Soal regulasi, ia menjelaskan bahwa 'secara praktis' Persija maupun Madura United tidak bisa dibilang melanggar. Ini lantaran TMS Indonesia baru dibuka Februari mendatang, sehingga pada database pemain AFC belum ada perubahan komposisi skuat dibanding musim lalu. Artinya, Beto dan Jaime--di database AFC--belum tercatat sebagai pemain resmi Madura United.
Situasi itu membuat AFC memandang Jaime maupun Beto bukan pemain pinjaman, walaupun keduanya sudah menjalin kesepakatan untuk memperkuat Madura United musim ini. Dengan demikian, kata dia, Pasal 10 ayat 2 yang mengatur soal peminjaman pemain tak bisa diberlakukan untuk keduanya.

"Sebenarnya itu tidak melanggar karena pada prinsipnya mereka [Beto dan Jaime], kan, belum terdaftar sebagai pemain Madura United. Dan AFC tidak apa-apa karena mereka, kan, sudah punya ITC itu," ujar Gatot.

Alih-alih memperjuangkan nasib Persija, PSSI malah terkesan menjadikan solusi ini sebagai permintaan maaf belaka.

"Ini, kan, upaya kami membantu Persija. Supaya kemarin itu masalah [ITC] bisa selesai," kata Gatot yang mengaku mewakili PSSI.


Baca juga artikel terkait LIGA CHAMPIONS ASIA atau tulisan menarik lainnya Herdanang Ahmad Fauzan
(tirto.id - Olahraga)

Reporter: Herdanang Ahmad Fauzan
Penulis: Herdanang Ahmad Fauzan
Editor: Mufti Sholih