Betapa Kayanya Khazanah Makian Bumi Pasundan

Penulis: Irfan Teguh - 31 Agu 2018 10:00 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Bahasa Sunda kaya akan sumpah serapah. Tak hanya digunakan ketika marah dan berkelahi, tapi juga untuk guyon dan menyatakan kekaguman.
tirto.id - Dalam percakapan sehari-hari kata makian hadir sebagai sebuah ekspresi komunikasi. Meski kerap disebut tak elok, tiap semesta bahasa punya khazanah makian. Tak terkecuali bahasa Sunda, bahasa daerah dengan jumlah penutur kedua terbanyak di Indonesia.

Kata-kata makian lahir satunya berkat kekuasaan yang tergila-gila kepada standar kepatutan berbahasa. Perbendaharaan makian Sunda kiwari sendiri lahir dari jenjang bahasa yang mencerminkan (dan melestarikan) penggolongan masyarakat berdasarkan kelas, usia, dan profesi dalam masyarakat: ada tutur bahasa yang halus, sedang, dan kasar. Makian termasuk ke dalam golongan bahasa kasar.

Seperti bahasa pada umumnya pula, sumpah serapah dalam bahasa Sunda mustahil dilepaskan dari sejumlah konteks yang mengiringinya, yaitu penutur dan situasi ketika kata tersebut diucapkan. Artinya, tak semua kata makian adalah bentuk ekspresi kemarahan. Bisa jadi hanya ledekan, guyonan, atau sesuatu yang telah dianggap familiar sehingga sama sekali tak bikin tersinggung.


Contohnya kata “anjing” yang sebetulnya kasar dan kerap digunakan untuk mengungkapkan rasa marah. Di beberapa daerah di Jawa Barat, kata ini kini lazim terdengar dan tak melulu diucapkan oleh siapapun yang sedang naik darah.

Dalam pergaulan sehari-hari di Bandung, “anjing” telah mengalami penghalusan makna bahkan dilontarkan untuk menunjukkan kekaguman.

Anjing, alus pisan euy tajonganna!” ucap seorang anak muda memuji tendangan seorang pemain sepakbola. Artinya: "Anjing, bagus sekali tendangannya!"

Selain itu, kata “anjing” pun kini diucapkan dalam beberapa varian yang lebih halus dan lentur dalam konteks pengucapannya. Misalnya "anjir", "anying", "anjay", "anjrit", dan lain-lain.

Kata makian yang digali dari nama binatang lain pun mengalami nasib serupa. Bagong (babi hutan), misalnya. Dalam percakapan sehari-hari para penutur bahasa Sunda, kata "bagong" kerap kali diperhalus menjadi bagoy.

Tergantung Konteks

Mamat Sasmita, mantan redaktur majalah berbahasa Sunda, Cupumanik, mengatakan salah satu faktor yang menyebabkan semakin halusnya kata-kata makian adalah karakter orang Sunda yang malibir, alias enggan berterus terang dan cenderung tidak langsung ke pokok pembicaraan.

Sementara menurut Cece Sobarna, Guru Besar Linguistik Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran, penghalusan kata makian disebabkan oleh tabu di masyarakat yang akhirnya melahirkan plesetan.


Kata-kata makian Sunda pun dibatasi oleh konteks penutur. Seorang pemuda atau anak kecil takkan mengucapkannya ketika berbicara dengan orang yang lebih tua. Orangtua bahkan bisa membedakan antara kata makian untuk anak muda dan untuk anak kecil.

"Kehed", "bebel", "tangkurak", dan "bangkawarah", misalnya, tidak akan diucapkan orang yang lebih tua kepada anak kecil, alih-alih tertuju kepada anak muda atau orang sebaya.

Khusus untuk kata "bangkawarah", orang yang lebih tua pun takkan sembarangan mengucapkannya, kecuali kepada anak muda yang ngelunjak alias kurang ajar.

“Marah juga suka dilihat dulu kepada siapa marahnya. Di sini ada keunikan, karena tidak langsung memaki atau berkata kasar. Lihat dulu siapa orang yang menjadi sasaran kemarahannya. Jadi ada rem saat mengungkapkan kemarahannya,” kata Mamat Sasmita kepada Tirto.

Selain konteks penutur dan objek penderita, hal lain yang mengiringi makian adalah situasi yang melingkupinya. Dalam perkelahian, kata-kata makian akan lebih kasar.

Alat kelamin dan bentuk fisik seseorang juga sering digunakan sebagai kata makian dalam bahasa Sunda."Sirit" (kelamin laki-laki) dan "itil" (kelamin perempuan), biasanya diucapkan oleh orang yang lebih tua kepada yang lebih muda. Namun, tambah Mamat Sasmita, kata-kata ini biasanya diucapkan ketika kemarahan sang penutur tak terlalu besar.


Infografik Makian Dalam Sunda




Sementara makian yang menggunakan kondisi fisik seseorang seperti "nongnong" (dahi lebar), "ngohngor" (gigi tonggos), dan "cameuh" (dagu panjang), biasanya keluar sebagai ledekan. Tekanannya berbeda dengan kata-kata makian lain yang terlontar saat marah.

“Kata-kata yang menggunakan kondisi fisik seseorang biasanya lebih digunakan untuk monyok atau mengolok-olok,” ujar Mamat.

Daftar sumpah serapah di atas tentu hanya sebagian kecil dari luasnya perbendaharaan bahasa Sunda yang memiliki banyak dialek. Beda tempat, beda pula makiannya.

Bahkan dalam lintas bahasa yang lebih luas, kata-kata makian ini bisa terbentuk dari nama-nama tertentu yang hadir sebagai ekspresi kemarahan. Dalam Geliat Bahasa Selaras Zaman (2010) yang disunting oleh Mikihiro Moriyama dan Manneke Budiman, 'permusuhan' antara Malaysia dan Indonesia melahirkan kata makian "malingsia" yang merupakan plesetan dari “Malaysia”. Kata "malingsia" terdiri dari dua kata Sunda, yaitu "maling" (pencuri) dan "sia" (kamu).

“Ungkapan serapah identik dengan bahasa percakapan yang terikat pada konteks situasional dan bersifat antarpribadi,” tulis Moriyama dan Budiman.

Di titik ini, mesti kerap dianggap tak patut, kata makian tetap hidup sebagai kekayaan lema untuk menyalurkan ragam ekspresi dalam berbagai situasi komunikasi.

“Ini gejala universal, seiring dengan perkembangan emosi manusia. Ada senang, ada sedih, ada marah, dan menunjukkan satu perangkat linguistik yang memang menggambarkan perasaan penuturnya. Kalau tidak ada kata-kata makian kita malah curiga, apakah masyarakat tidak punya rasa marah sepanjang hidupnya?” tutur Cece Sobarna kepada Tirto.

Baca juga artikel terkait SUNDA atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Irfan Teguh
Editor: Windu Jusuf

DarkLight