STOP PRESS! Tim Penyidik KPK Geledah Kantor Bupati Kukar

Kolumnis
Belajar Sejarah di Universitas Indonesia; mengajar di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, Jakarta

Berita Hoax, Great Fear dan Pertaruhan Republik

Kolumnis: Ivan Aulia Ahsan
06 Januari, 2017dibaca normal 4 menit
Berpuluh-puluh tahun lalu, sebelum setiap orang bisa dengan mudah menyebarkan hoax di media sosial dan radio masih menyiarkan pidato-pidato Bung Tomo, desas-desus soal sumur-sumur yang diracun Belanda menyebar di kampung-kampung Surabaya, dari banyak mulut ke banyak telinga.

Kata mereka: NICA dan van der Plaas (orientalis terkemuka yang menjadi penasehat Gubernur Jenderal), hendak membikin mampus segenap rakyat Indonesia dengan cara membokong.

Kepercayaan terhadap kabar angin itu menyebar seperti kebakaran. Dan dalam situasi transisional, ketika penguasa lama baru saja tumbang dan rezim baru belum sepenuhnya menjangkau rakyat, ia segera berkembang menjadi kepanikan.

Itulah pemicu gerakan perlawanan rakyat terhadap pendudukan NICA di sejumlah kota di Indonesia. Keresahan yang ditimbulkan oleh desas-desus itu juga membuka jalan bagi lahirnya heroisme 10 November 1945 di Surabaya. Memang benar bahwa pertempuran itu kemudian dijadikan tonggak bagi dimulainya Revolusi Indonesia. Tetapi heroisme semacam itu bukanlah hasil pertimbangan yang terukur untuk mengubah keadaan, melainkan buah dari suasana yang tidak menentu.

Di kemudian hari terbukti bahwa kabar peracunan itu ternyata khayalan belaka. Arsip-arsip kolonial dari periode ini justru menunjukkan bahwa sebenarnya Belanda tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang kondisi Republik. Mereka juga tidak mempunyai jaringan intelijen yang mumpuni pada masa pendudukan Jepang. Tiga setengah tahun pendudukan Jepang telah membikin kusut benang yang menghubungkan si penjajah dan bekas tanah jajahannya.

Historiografi Indonesia meliputi catatan panjang tentang bagaimana hoax, kabar burung, dan desas-desus meruyak dan menggerogoti rust en orde (ketentraman dan ketertiban) ala pemerintah kolonial. Kabar tentang sumur cuma salah satunya.

Namun, hal itu bukan cerita khas Indonesia. Bangsa-bangsa lain pun pernah mengalaminya. Dalam The Great Fear of 1789: Rural Panic in Revolutionary France, sejarawan Georges Levebfre menganalisis dengan tajam betapa hoax punya dampak kolosal: ia bisa memicu histeria masal yang diikuti oleh kekerasan dan menghasilkan perubahan politik yang besar di Prancis.

Tepat seminggu setelah penyerbuan penjara Bastille, ada kepanikan besar-besaran di kalangan petani yang dipicu oleh rumor soal orang-orang bersenjata yang akan menyerbu desa-desa. Menurut kabar lain, ada pasukan asing yang membakar ladang-ladang serta gerombolan bandit yang menghancurkan rumah-rumah penduduk. Petani dibuat percaya bahwa para penyerbu adalah orang-orang bayaran yang disewa oleh kaum bangsawan.

Berita-berita itu sudah berembus sejak beberapa bulan sebelumnya, ketika keadaan ekonomi negara terpuruk. Rakyat gelisah lantaran Raja Louis XVI dan menteri keuangannya yang congkak, Jacques Necker, terbukti berkali-kali tidak mampu mengatasi krisis finansial. Gagal panen karena musim dingin berkepanjangan juga membuat petani makin sengsara. Di sisi lain, kaum bangsawan pasang sikap peduli setan dan tetap sibuk berfoya-foya. Alhasil, kemarahan massa semakin memuncak dan di titik itulah rumor menjalankan fungsinya yang paling banal: pemantik kerusuhan.

Maka pada hari itu, para petani turun ke jalan-jalan dan menyerbu rumah-rumah bangsawan yang mereka anggap sebagai pengisap ubun-ubun kaum miskin. Kekerasan pecah dan menjalar dengan cepat ke berbagai wilayah. Kepercayaan rakyat terhadap negara beserta alat-alatnya lenyap, tembok-tembok kehormatan kaum bangsawan runtuh.

Tapi betapa pun mengerikannya “The Great Fear”, ia punya peran besar dalam menumbuhkan semangat kesetaraan di Prancis. Pada 4 Agustus 1789 malam—setelah seluruh negeri diguncang oleh ketakutan—parlemen akhirnya mengeluarkan keputusan untuk menghapus feodalisme.

Dua kisah di atas menunjukkan bagaimana hoax bisa memicu terjadinya pergolakan yang mampu menjungkirbalikkan tatanan lama dan membidani kelahiran tatanan baru. Desas-desus yang muncul dalam suasana kepanikan di tengah kondisi politik yang tidak menentu sebenarnya adalah simtom kegelisahan rakyat jelata. Mereka terjepit situasi kalut, dan informasi yang mereka peroleh sulit dilacak kebenarannya. Akhirnya, mereka percaya karena di luar kabar-kabar itu tak ada lagi yang bisa mereka percaya.

Dalam ketidakberdayaan di bawah tekanan penguasa, rakyat dapat pula menciptakan hoaxnya sendiri. James Scott menggambarkan hal itu dengan sangat baik dalam Weapon of the Weak: Everyday Forms of Peasant Resistance. Ia menegaskan bahwa para petani Asia Tenggara berbeda watak dengan saudara-saudara mereka di Eropa dalam hal melawan kekuasaan.

Jika petani atau kaum buruh Eropa kerap melakukan perlawanan terbuka dan bahkan mengangkat senjata untuk menghadapi dominasi kaum borjuis—seperti yang terjadi di Prancis, petani-petani Asia Tenggara melakukan hal yang sama dengan cara sebaliknya: Bergunjing serta menyebarkan desas-desus untuk membusukkan nama dan citra penguasa yang mereka anggap lalim. Represi, menurut Scott, begitu melemahkan sehingga mereka tidak mampu lagi untuk melawan secara terbuka. Maka lewat gosip, para petani melawan diam-diam sekaligus menyatakan kehadiran politisnya.

Tirto pernah menurunkan laporan khusus tentang berita-berita hoax dan media-media abal yang tak jelas siapa penanggungawab dan alamatnya.

Membedakan Jurnalisme dan Berita Palsu
Sentimen Kebencian dalam Berita Hoax
Cerita di Balik Situs Postmetro dan Seword
"Rata-rata Penghasilan Kita Rp25-30 Juta"
Dua abad setelah Revolusi Prancis dan tujuh dasawarsa sesudah Revolusi Indonesia, internet hadir bersama ironi: ia mempermudah manusia untuk memeriksa kebenaran suatu berita sekaligus menjadi tanah paling subur yang pernah dikenal para pencipta hoax.

Orang-orang dengan mudah menyebarkan berita bohong lewat berbagai medium di internet; semenit kemudian, berita itu dibagikan lagi oleh ratusan orang, oleh ribuan, dan demikianlah siklus kebohongan tercipta. Mereka merasa tidak perlu lagi melakukan cek dan ricek—yang sebenarnya bisa dilakukan dengan sangat mudah—asal berita tersebut memenuhi seleranya.

Masalahnya, jika dulu hoax bisa memicu terjadinya revolusi dan pergeseran kekuasaan, dapatkah hoax hari ini melakukannya? Tentu saja kemungkinan itu masih terbuka.

Pertempuran 10 November, betapapun absurdnya, adalah momentum untuk menggelorakan patriotisme rakyat yang mengawali Revolusi Indonesia—terlepas dari perdebatan mana yang lebih penting antara diplomasi atau peperangan. Dan bagaimanapun juga berhasil menyatukan republik ini. Hoax yang menyebar pada masa Revolusi Prancis juga berdampak positif, yaitu mendorong terjadinya sebuah revolusi yang menumbangkan kediktatoran raja dan membuat lanskap politik Eropa berubah secara drastis. Memang di masa-masa seperti itu, hoax dapat secara alamiah menjelma jadi alat propaganda yang efektif karena ia lahir dari keresahan akar rumput.

Maka ada yang terasa ganjil ketika alat-alat negara sudah kokoh, demokratisasi telah berjalan, dan kegelisahan rakyat tidak lagi disebabkan oleh kekosongan kekuasaan atau represi rezim, tapi hoax terus mendera seakan-akan negara tersandera dalam situasi krisis absolut. Kita melihat gejala ini makin massif sejak Pilpres 2014 dan berlanjut sampai sekarang ketika pendukung Ahok dan penentangnya tiap hari bersitegang di media sosial seakan-akan besok pagi akan terjadi perang saudara.

Keadaan macam ini bisa saja menuju ke arah vivere pericoloso, nyerempet-nyerempet bahaya, karena hoax zaman ini muncul ketika pemerintahan terpilih secara demokratis dan memilki legitimasi yang kuat dengan jutaan pendukung di belakangnya. Dua belah pihak (yang anti dan pro pemerintah) juga punya versi hoax dan buzzernya masing-masing sehingga potensi konflik horizontal semakin terbuka.

Lebih parah lagi ketika ada para pengeruk laba yang memanfaatkan hoax untuk kepentingan duit semata. Laporan Tirto.ID beberapa waktu lalu tentang situs-situs berita penyebar hoax menyebut bahwa pendapatan mereka bisa mencapai puluhan juta setiap bulan dari menyebarkan kebohongan.

Ini sesungguhnya motif yang paling berbahaya. Sebab jika kita percaya bahwa hoax adalah sejenis propaganda—seperti yang terjadi di masa revolusi—ia semakin kehilangan daya ubahnya. Hoax masa kini tidak tumbuh dari kegelisahan rakyat untuk mengubah sesuatu secara mendasar, tapi dibentuk oleh opini dan kepentingan penyebarnya yang, untuk banyak hal, demi perubahan sirkulasi kekuasaan belaka.

Dalam suatu kesempatan mengomentari bukunya sendiri, George Lefebvre pernah menyatakan untuk membuat para petani bangkit dan melawan, sebenarnya tidak dibutuhkan the Great Fear. Ketika rumor menyebar dan panik masal melanda, mereka sudah siap angkat senjata. Itu terjadi di Prancis abad ke-18 dan kita hidup di Indonesia abad ke-21. Tapi melihat situasi republik hari-hari ini yang koyak dirundung berita-berita palsu, saya khawatir ia benar.

*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id.

Keyword