"Rata-rata Penghasilan Kita Rp25-30 Juta"

Pemilik Pos Metro, Abdul Hamdi

"Rata-rata Penghasilan Kita Rp25-30 Juta"

Pemilik postmetro mengakui bahwa situswebnya memang mengambil artikel dari media lain, diolah sedemikian rupa dengan gaya yang provokatif untuk menarik pembaca. Dalam sebulan, mereka bisa meraup Rp25 juta hingga Rp30 juta.
Reporter: Reja Hidayat
16 Desember, 2016 dibaca normal 5:30 menit
Pemilik postmetro mengakui bahwa situswebnya memang mengambil artikel dari media lain, diolah sedemikian rupa dengan gaya yang provokatif untuk menarik pembaca. Dalam sebulan, mereka bisa meraup Rp25 juta hingga Rp30 juta.
tirto.id - Pemilihan Presiden sudah berakhir, tetapi Abdul Hamdi Mustapa masih memendam emosi. Dia mengamati kekuasaan pemerintah makin tak bisa diimbangi. Politikus dan pengamat yang pro-pemerintah lebih dominan membuka suara di media arus utama. Terlebih mereka didukung dengan pendengung (buzzer) pro-pemerintah. Sedangkan kelompok oposisi terhadap kebijakan pemerintah, dalam pandangan Hamdi, justru semakin terpojok.

Pada Juli 2015, Hamdi pasang badan untuk mengkritisi pemerintah. Strateginya dengan mendirikan portal daring Posmetro.info. Dia bekerja sendiri. Dalam tiga bulan, tak ada penghasilan dari upayanya itu. Hingga akhirnya dia mencoba berkiblat pada artikel Portal Piyungan dan berkompromi dengan Google Adsense. Dia mulai mendapatkan keuntungan, sekitar Rp5 juta per bulan. Hamdi lantas merekrut dua rekan dekatnya.

Hamdi, pria Minang, mengklaim diri paham metode penulisan karya sastra. Dia membimbing rekannya untuk membuat artikel menarik. Caranya sederhana: memantau berita di media arus utama. Jika ada berita menarik dan sesuai isu yang mereka kawal bakal meledak, isu sumir dan kontroversi tinggal disalin.

Setelah itu suku kata dalam berita salinan tersebut dirombak dengan gaya bahasa yang menggebu atau berapi-api dan mudah dipahami. Judul dibuat bombastis dan provokatif. Dari sana Hamdi menjuluki medianya sebagai agen propaganda.

Hamdi tak peduli berita yang ditulis di situsnya akurat atau kontroversial belaka. Satu-satunya yang jadi pegangan baginya ialah kepercayaan diri bahwa tak mungkin media arus utama juga sepenuhnya patuh kode etik jurnalistik. 

Pada April 2016, Hamdi Postmetro.info diserang spam hingga tak bisa diakses. Iapun merasa situswebnya membuat gerah banyak orang sehingga diserang. Bukannya takut, ia malah semakin semangat mengembangkan situswebnya.

Keberanian mahasiswa semester akhir di salah satu kampus di Sumatra Barat ini  justru berlipat ganda. Dia lantas membuat domain baru bernama Postmetro.com. Perlahan Hamdi dan rekannya memboyong konten ke situsweb baru itu. Jumlah personel meningkat jadi empat orang. Tiga orang bertugas menyalin dan mengemas ulang berita dari media arus utama, dua rekan lain menjadi pendengung media sosial. Rekan kerjanya tersebar dari Bekasi, Riau, dan Padang.

Hamdi mengakui dia menyebarkan isu yang masih sumir, dan beberapa di antaranya berupa tuduhan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama dan dugaan buruh-buruh asal Tiongkok yang dikirim ke Indonesia. Hamdi memperluas jejaringnya dengan menjalin perkawanan dengan para politisi dan pengamat yang berseberangan pemerintah. Jejaringnya itu bisa dengan mudah memuat pendapatnya dalam portal daring milik Hamdi. Terlebih mereka juga turut menebar tautan artikel dari situs Postmetro. Dari sana kebanyakan pengakses datang dari tautan yang mereka sebar melalui media sosial.

Portal daring yang dia dirikan itu sempat ditegur oleh Mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn) Moeldoko. Kala itu itu Hamdi menyalin isu dari media arus utama tapi belakangan baru diketahui informasi tersebut belum diverifikasi.

Sebagai nahkoda, Hamdi juga membawa portal daring yang dikelolanya untuk menampung pelbagai argumen dukungan bagi Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI. Namun, menjelang aksi 4 November 2016, Postmetro.com diblokir oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika.

“Karena provokatif dengan demo. Konten-konten kita ada yang ngajakin demo,” kata Hamdi melalui sambungan seluler. Tirto.id mewawancarai Hamdi sebanyak tiga kali di hari berbeda.

Hamdi mengakui bahwa portal daring Postmetro tidak memiliki dasar dan proses kerja jurnalistik. Dia menganggapnya sebagai media propaganda yang menularkan isu-su provokatif. Tak heran, katanya, jika pemerintah menolak kehadirannya, itu saja pemerintah takut pada kritik.

Pengalaman diblokir ini mengajarkan Hamdi mengulangi strategi serupa: membeli domain baru untuk kanal postmetro.co.

Tidak seperti kebanyakan media umum yang takut perubahan domain bisa merusak impresi nama merek (branding), Hamdi tak ambil pusing. Dia mengklaim bahwa portalnya telah memiliki pembaca loyal, dan lagi perubahannya pun tidak mencolok, tetap memakai nama postmetro.

Kini dalam sehari, klaimnya, dia bisa menghasilkan 80 artikel dan pendapatan sekitar Rp25 juta - Rp30 juta.

Berikut perbincangan antara reporter Tirto.id, Reja Hidayat dengan Abdul Hamdi Mustapa selama tiga kali melalui telepon.

Bisa diceritakan awal mula postmetro.info berdiri?

Saya awalnya membeli hosting untuk bikin web untuk perangkat bahan mengajar guru. Terus dapat gratis domain info, enggak kepikiran mau bikin domain apa, terus mau jadikan media apa.

Kebetulan saya hobi baca berita. Saya lihat konspirasi politik saat itu tinggi, banyak buzzer pro pemerintah yang waktu itu memborbardir banget pihak-pihak yang kalah pemilu di 2014. Saya melihat ada beberapa web menangkis opini pemberitaan mereka seperti portal piyungan. Karena saya juga suka menulis jadi coba-coba buat portal juga seperti portal piyungan tapi dengan sudut pandang yang berbeda.

Saya buat portal untuk artikel-artikel perekonomian kurang bergeliat. Paling tidak sebagai mahasiswa kita menyuarakan agar masyarakat petani disejahterakan. Orang tua saya sebagai petani. Postmetro itu awalnya berisi artikel tentang ironi di desa-desa, kita kritis pak Jokowi, kebijakan ekonomi yang akhir ini diserang banget. Jokowi itu sudah tidak seperti tahun 2015 lalu.

Berapa pendapatan Anda dari mengelola situs postmetro?

Kita enggak sendiri, kita berlima. Dalam sebulan kita mendapat rata-rata penghasilan Rp 25 juta sampai 30 juta.

Sudah berapa kali postmetro diserang buzzer dan kemudian diblokir Kominfo?

Sudah satu kali, tapi diserang (postmetro.info) sama buzzer, terus Jasmev sudah sering. Karena kita berani sama mereka. Postmetro.info ini enggak saya pakai lagi karena ada spam dan serangan dari luar sehingga tidak bisa dipakai. Karena itu saya langsung ganti ke postmetro.com pada bulan April.

Seminggu kemudian baru postmetro.info aktif kembali. Saya direct ke domain baru. Diblokir pas bulan November. Saya sempat mengirim email dan persyaratan lengkap ke Kominfo, tapi dua minggu juga tidak ada kabar. Akhirnya saya putuskan beli domain baru dengan postmetro.co.

Apa yang membuat Anda terus membuat berita hoax di postmetro?

Saya dasarnya penulis, cocok ya. Saya lihat orang suka dengan pemberitaan saya, ide saya. Kami beritanya copy paste tapi judul lebih mudah dipahami, lebih gamblang. Kita jarang memelintir berita, enggak pernah, tapi ambigu. Yang paling banyak itu nada-nada provokatif, tendensius, terus lucu-lucu.

Apakah Anda juga pemilik situs nusanews.com?

Itu partner, tapi sekarang sudah tidak join sama saya selama 3 bulan ini. Dia sekarang kelola sendiri.

Apakah postmetro berafiliasi dengan partai?

Tidak pernah berafiliasi dengan partai. Cuma kita terima tokoh kritik pemerintah. Mereka kirim berita kita yang muat, seperti itu. Kalau media lain kan hanya 30 persen kritiknya. Kalau kita harapkan 80 persen kritis.

Saya lihat Anda berfoto dengan beberapa kader di kantor DPP Partai Gerindra?

Itu saya diundang acara pak Sandiaga Uno. Kita diundang untuk menjadi tim medianya.

Anda selalu membuat konten-konten viral tanpa verifikasi?

Yang sering menjadi viral, fenomena TKA ilegal, penistaan agama oleh Ahok, fenomena banyaknya buruh-buruh Cina. Tapi kita juga ngikuti tren media mainstrem.

Bagaimana sebetulnya, postmetro membuat konten, apakah Anda memiliki redaksi?

Kita comot dari berita lain. Kita paling banyak ambil dari Republika, karena pro kritikan di sana. Kalau kita bikin judul, kita pukul di lead ke lima, subtansinya itu.

Apakah sudah memperhitungkan risiko pidana dari berita yang Anda muat?

Kita sudah perhitungkan, kadang kita bikin berita tidak valid, kita hapus dan klarifikasi. Karena UU ITE sudah diperbaharui, kita juga baca pasalnya. Kalau melakukan pemblokiran, tidak bisa langsung melakukan pemblokiran, peringatan dulu. Kan ada prosedurnya, banyak media. Kita medianya kritis, kalau dulu istilahnya media radikal. Media radikal itu sering diblokir sama pemerintah.

Tidak takut ditangkap karena membuat situs dianggap pembuat berita hoax?

Kita kooperatif, tapi kalau kita saja yang ditangkap karena kritis, lalu dibredel dan dikriminalisasi, penegakan hukum seperti alat penguasa banget. Itu jelas banget upaya kriminalisasi. Karena kita salah satu portal yang paling banyak disorot dan kritis. Seberapa banyak portal-portal yang tidak memiliki redaksi. Kalau cuma kita saja difokuskan, itu jelas banget kriminalisasi.

Sejak pertama kali dibuat, situs mana yang menjadi kiblat Anda?

Saya baru berkiblat ke portal piyungan setelah 10 bulan. Dulu PKS Piyungan, saya ada sentimen dengan partai. Walaupun partai Islam, saya enggak kiblatnya ke portal piyungan dulu. Saya kiblatnya soal ekonomi, penggusuran, rupiah anjlok, dolar naik, TKI.

Bisa dijelaskan kenapa Anda mencontoh PKS Piyungan?

Saya lihat, Islam NKRI. Mereka gila banget, memecah belah FPI dengan banser, ormas Islam lain seperti diadu domba. Harus dapat berita perbandingan untuk membantah-bantah. Karena PKS Piyungan itu basisnya wahabi banget. Ini portal sering nyerang saya dulu, tidak tahunya dia juga diblokir. Bikin judul kekanak-kanakan. Saya membuat judul tidak bombastis pada awalnya, lebih elok dan tidak abal-abal banget. Saya lihat banyak yang suka. Saya ambil berita Islam tapi dengan sudut pandang nasional. Enggak tahu media partai atau Islam karena nama domainnya.

Saya sempat berpikir kalau buat domain nama Islam pasti ada sentimen. Saya bikin nama domain partai tertentu pasti ada sentimen ke sana. Dalam pemikiran saya, bikin domain yang umum agar tidak ada sentimen ke sana. Tapi lebih banyak ke pihak umat Islam.   

Bagaimana cara postmetro menyebarkan berita sampai menjadi viral?

Kita ada teman nge-share berita ke grup-grup kan. Terus kita follow akun tokoh-tokoh politik, pengamat. Mereka sering me-retwett berita kita, share berita kita sehingga banyak pengunjungnya. Kita bikin akun yang khusus untuk Twitter, khusus nge-share aja, 5 sampai 10 akun. Kalau FB sudah dibatasi. Sekarang FanPage juga sudah banyak jadi enggak bisa.

Akun tokoh siapa yang pernah menyebarkan berita postmetro?

Saira Akira, saya senang kalau retwet sama mereka, dia seorang penulis. Itu hanya salah satu. Akun DPP FPI juga retwet.

Nama postmetro sama seperti postmetro milik Jawa Pos Group, kenapa?

Itu memang perusahaan resmi, mereka ke daerah lokal, Pekanbaru. Saya pilih nama domain ini tidak pikir sampai besar seperti ini. Tapi sekarang sudah saya bedakan, kalau dulu enggak pakai Pos(t) tapi sekarang sudah saya bedakan takut dibawa ke ranah hukum sama mereka. Dulu sempat pikir, saya bingung nama yang bagus. Postmetro bagus, tapi berita lokal, jadi saya coba nasional.

Apa kepuasan Anda memiliki postmetro?

Kita ada kepuasan kelola web ini, kita ikut berjasa memobilisasi masyarakat sampai puncak demo damai kemarin. Walaupun kita dicap sampai sekarang hoax, dan tidak merasa ada kontribusi kita. Tapi kita melihat opini-opini berita yang berseberangan dan politik propaganda. Sekarang sudah hasilnya. Umat islam bersatu. Media-media yang jelekin Islam diboikot secara enggak langsung. Ada dampak ke situ.

Baca juga artikel terkait HOAX atau tulisan menarik lainnya Dieqy Hasbi Widhana
(tirto.id - dqy/nqm)

Laporan 1: Cerita di Balik Situs Postmetro dan Seword
Laporan 2: Sentimen Kebencian dalam Berita Hoax
Laporan 3: Membedakan Jurnalisme dan Berita Palsu
Laporan 4: "Rata-rata Penghasilan Kita Rp25-30 Juta"

Keyword