Benarkah Media Sosial Menyebabkan ADHD pada Remaja?

Ilustrasi ADHD. Getty Images/iStockphoto
Oleh: Nindias Nur Khalika - 24 Agustus 2018
Dibaca Normal 2 menit
ADHD merupakan gangguan perilaku yang biasanya menyerang anak-anak. Namun, remaja dan orang dewasa dapat pula terkena ADHD dan dibutuhkan penanganan khusus agar gejala gangguan tersebut dapat diminimalisir.
Sewaktu kecil, Arielle adalah anak yang pendiam. Ia gemar tidur saat di sekolah dan gelisah sepanjang waktu. “Tapi ketika aku bangun, aku tak pernah benar-benar menjadi pendengar yang baik,” ujar penulis berusia 27 tahun tersebut.

Kepada The Guardian, Arielle bercerita bahwa dirinya tak pernah memperoleh nilai bagus di sekolah karena sulit fokus. Para guru di sekolahnya pun gusar. Mereka mengatakan bahwa Arielle akan mudah jadi murid berprestasi asalkan rajin mengerjakan pekerjaan rumah, tak tertidur ketika pelajaran berlangsung, dan membiasakan diri hidup teratur.

“Selama bertahun-tahun, aku kira aku sekadar malas. Ketimbang berpikir kalau ada yang salah secara biologis, aku justru menyalahkan diri sendiri. Tiap kali aku berusaha menyimak pelajaran di kelas dan mencoba rajin mengerjakan PR, aku selalu gagal,” ujarnya.

Pada umur 19 tahun, Arielle didiagnosis mengidap Attention-Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Namun, kadang ia masih sulit mempercayai hasil diagnosis tersebut. “Orang-orang seharusnya menyadari lebih awal jika aku benar-benar mempunyai ADHD,” katanya.

Berbeda dengan Arielle, dokter mendiagnosis John memiliki ADHD karena laki-laki berusia 30 tahun tersebut sangat mudah lupa akan sesuatu. Masih menurut The Guardian, John juga mengalami insomnia atau sulit tidur sejak kecil.


“Hubungan romantisku selalu tak berjalan baik. Aku kehilangan beberapa kawan saat remaja. Di usia 20-an, aku tak lagi berkomunikasi dengan teman-temanku karena merasa tak berguna, lupa membalas pesan, atau tak lagi ingat mereka ada,” katanya kepada The Guardian.

Menurut Hello Sehat, Attention-deficit hyperactivity disorder atau ADHD merupakan gangguan yang ditandai dengan perilaku impulsif, hiperaktif, dan sulit untuk fokus serta konsentrasi. ADHD dibedakan menjadi tiga subtipe berdasarkan gejala yang dominan pada pasien, yakni dominan hiperaktif-impulsif, dominan inantentif, serta kombinasi hiperaktif-impulsif dan inatentif.

ADHD dominan hiperaktif-impulsif adalah ADHD yang dimiliki orang yang biasanya mempunyai masalah hiperaktivitas dan perilaku impulsif. Sementara itu, seseorang dengan ADHD dominan inatentif biasanya memiliki gejala sulit untuk menyimak atau memperhatikan dengan baik. Terakhir, pasien dengan ADHD kombinasi hiperaktif-impulsif dan inatentif mempunyai gejala berupa hiperaktif, impulsif, dan sulit fokus.

Masih menurut situs Hello Sehat, gejala sulit memperhatikan sesuatu yang dialami orang ADHD dapat diterjemahkan ke berbagai macam perilaku antara lain mudah terdistraksi, pelupa, memiliki masalah dengan keteraturan dan tak menghiraukan lawan bicara.

Hal yang sama berlaku pula untuk gejala hiperaktif, yang pada pengidap ADHD bisa disadari lewat perilaku seperti gelisah, menghentakkan tangan atau kaki, sulit mengantre atau menunggu giliran, cerewet, berlari-lari di situasi yang tak tepat, dan tampak selalu bersemangat. Mereka juga sering mengganggu orang lain, menjawab sebelum pertanyaan selesai dilontarkan, dan tidak dapat bermain dengan tenang.

Gejala impulsif pada orang dengan ADHD salah satunya dapat dilihat pada perilaku berisiko yang kerap dilakukan tanpa memikirkan akibat dan konsekuensi.


Dilansir dari Alodokter, ADHD lebih sering menyerang anak-anak dan gejalanya dapat berlangsung hingga dewasa. Sebagian besar kasus ADHD menimpa anak-anak berusia 6 hingga 12 tahun. Dibandingkan anak perempuan, anak laki-laki lebih sering mengidap ADHD. Mereka yang memiliki ADHD cenderung merasa rendah diri, sulit berteman, dan mempunyai prestasi yang kurang mencukupi.

Masih menurut Alodokter, penyebab ADHD belum diketahui secara pasti. Tapi, beberapa penelitian menyatakan sejumlah faktor berpotensi mempengaruhi tingkat resiko seseorang terkena ADHD, yakni faktor genetik atau keturunan, kelainan pada sistem saraf pusat, dan pengaruh kelahiran prematur.


ADHD dan Internet

Belakangan, penelitian Adam Leventhal, dkk yang bertajuk “Association of Digital Media Use with Subsequent Symptoms of Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder Among Adolescents” (2018) mengungkapkan bahwa remaja yang mengakses media sosial dengan frekuensi tinggi memperlihatkan gejala ADHD.

Hasil ini didapat setelah Leventhal dkk meneliti 2.587 pelajar dari 10 sekolah menengah atas di Los Angeles, California selama dua tahun. Para responden berusia antara 15 sampai 16 tahun saat penelitian dimulai pada tahun 2014. Penelitian dilakukan dengan metode survei dan data dikumpulkan secara bertahap setiap enam bulan sekali.

Dalam kuesioner survei, subjek penelitian diminta menjawab pertanyaan yang didesain untuk mengetahui seberapa sering mereka berinteraksi dengan 14 jenis aktivitas media digital. Keempat belas kegiatan media digital tersebut antara lain adalah mengecek situs media sosial, mengirim pesan singkat, belanja daring, chatting, unggah foto atau video, menonton film serta mendengarkan lagu di internet.


Leventhal, dkk lantas menemukan fakta bahwa pelajar yang jarang melakukan aktivitas media digital memiliki gejala ADHD yang rendah, yakni sebesar 4,6 persen. Sebaliknya, responden yang berinteraksi dengan tujuh dari 14 aktivitas media digital dengan frekuensi tinggi menunjukkan gejala ADHD sebanyak 9,5 persen. Sementara itu, mereka yang melakukan 14 aktivitas digital memperlihatkan gejala ADHD sebesar 10,5 persen.

Meski demikian, penelitian lanjutan dibutuhkan untuk mencari tahu apakah hubungan antara ADHD dan frekuensi penggunaan media sosial bersifat kausal atau sebab-akibat. Pasalnya, riset yang dilakukan Leventhal dkk bukanlah eksperimen terkontrol yang didesain untuk membuktikan apakah penggunaan media digital menimbulkan gejala ADHD. Selain itu, penelitian lanjutan juga perlu dilakukan agar intervensi terhadap pengidap ADHD karena penggunaan media digital dapat dilakukan.

Pada dasarnya, gejala ADHD dapat diminimalisir melalui konsumsi obat, konsultasi dengan terapis dan menjalankan pola hidup sehat. Menurut situs Help Guide, gejala ADHD pada anak-anak dapat dikurangi dengan berolahraga, makan makanan sehat dan seimbang, dan tidur yang cukup. Konsumsi obat-obatan dan konsultasi ke psikolog, terapis cognitive-behavioural, dan spesialis pendidikan juga bisa dilakukan.

Orang dewasa dapat menempuh cara-cara di atas untuk meminimalisir gejala ADHD. Berolahraga, makan makanan sehat, tidur yang cukup, mengonsumsi obat, dan menjalankan terapi cognitive-behavioural adalah aktivitas yang bisa dilakukan orang dewasa pengidap ADHD. Di samping itu, mereka juga dapat melakukan yoga dan berkonsultasi ke terapis agar permasalahan yang dihadapi bisa terpecahkan.

Baca juga artikel terkait ANAK-ANAK atau tulisan menarik lainnya Nindias Nur Khalika
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Nindias Nur Khalika
Editor: Windu Jusuf
DarkLight