Periksa Fakta

Benarkah Ketua KPU Arief Budiman Siap Dikutuk Jadi Batu?

Oleh: Irma Garnesia - 21 Januari 2020
Dibaca Normal 2 menit
Berdasarkan penelusuran, kami menemukan berita yang sama dengan judul yang jauh berbeda.
tirto.id - Sejak awal Januari 2020, Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI Wahyu Setiawan telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus dugaan suap Pergantian Antar Waktu (PAW) anggota DPR RI. Ia sebelumnya ditangkap dalam operasi tangkap tangan (OTT) KPK pada Rabu, 8 Januari 2020.

Wahyu diketahui meminta dana operasional Rp900 juta untuk membantu kader PDIP Harun Masiku (HAR) menjadi anggota DPR RI pengganti antar waktu. Wahyu tidak sendirian. Mantan anggota Badan Pengawas Pemilu Agustiani Tio Fridelina (ATF) yang juga orang kepercayaan Wahyu turut menjadi tersangka penerima suap. Kader PDIP Harun Masiku (HAR) dan Saeful (SAE) dari unsur swasta, sementara itu, diduga menjadi pihak yang memberi suap.

KPU angkat suara. Terkait OTT KPK, Ketua KPU RI Arief Budiman mengatakan pihaknya tidak akan memberikan bantuan hukum bagi Wahyu Setiawan. "Karena perkara ini tidak terkait dengan kebijakan KPU yang dipersoalkan, ya enggak [diberi bantuan hukum]," kata Arief di kantor KPU, Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Jumat (10/1/2020), seperti dilansir Kantor Berita Antara.

Kasus ini banyak menuai komentar dari warganet. Akun Facebook Winie Sharif Hafie salah satunya (arsip). Ia mengunggah tangkapan layar berita dari Detik.com dengan judul "Arief Budiman: Saya Siap Di Kutuk Menjadi Batu Jika KPU Curang." Dalam unggahan pada 11 Januari, akun itu menuliskan, "Kita doakan semoga si arif tak budiman ini menjadi BATU."

Tidak hanya Winie, unggahan serupa juga dipublikasikan oleh laman Facebook Celoteh TKI (arsip) dan akun Facebook bernama Yasmin (arsip). Unggahan mereka sangat ramai dan mendulang banyak komentar.


Periksa Fakta Arif Budiman jadi batu
Periksa Fakta Arif Budiman jadi batu. facebook/winie sharif hafi


Fakta

Berdasarkan penelusuran terhadap berita Detik yang menggunakan foto Arief Budiman, ditulis oleh Zunita Putri, dan dipublikasikan pada 24 April 2019 tersebut, kami menemukan berita asli yang jauh berbeda dari tangkapan layar yang banyak beredar di media sosial. Berita Detik tersebut berjudul "Ketua KPU: Pemilu Serentak 2019 Melelahkan, Perlu Dievaluasi."

Pada berita tersebut, Ketua KPU Arief Budiman menyarankan agar pemerintah mengevaluasi Pemilu Serentak 2019 dan meminta ada pembicaraan khusus soal pemilu ini. Arief menyoroti banyaknya petugas KPPS yang meninggal dalam gelaran Pemilu Serentak tersebut. Seperti ditulis Detik, “Arief menuturkan jumlah petugas KPPS yang ada di seluruh TPS Indonesia berkisar hampir 7,2 juta orang.”

Kami menduga bahwa informasi keliru terkait artikel ini muncul dan beredar di media sosial karena ada pihak tertentu yang mengedit judul berita Detik tersebut melalui fitur inspect element pada browser. Inspect element merupakan fitur browser yang dibuat untuk memudahkan pengembangan web. Fitur ini dapat diakses dengan cara klik kanan pada tetikus dan kemudian memilih inspect element. Fitur ini dapat pula diakses dengan menekan tombol F12.

Periksa Fakta Edit Html Arif Budiman
Periksa Fakta Edit Html Arif Budiman. foto/detiknews



Selanjutnya, pengguna akan diarahkan ke HTML dan CSS sebuah laman web. HTML merupakan singkatan dari Hyper Text Markup Language. Sementara itu, CSS (Cascading Style Sheets) merupakan kumpulan kode yang digunakan untuk mendefenisikan desain dari bahasa markup, salah satunya adalah HTML.

CSS adalah kumpulan kode program yang digunakan untuk mendesain atau mempercantik tampilan halaman HTML. Dengan CSS, pengguna bisa mengubah desain dari teks, warna, gambar dan latar belakang dari (hampir) semua kode tag HTML. Ketika menggunakan inspect element, pengguna dapat mengedit tampilan laman HTML dan mengubah judul artikel.

Dalam kasus berita Detik yang diedit judulnya, pengguna dapat menemukan kode berikut pada laman HTML dan mengubahnya untuk sementara waktu:

<title>Ketua KPU: Pemilu Serentak 2019 Melelahkan, Perlu Dievaluasi</title>

Pada kasus misinformasi ini, seseorang telah mengubah judul berita tersebut lewat kode “ <title> Arief Budiman: Saya Siap Di Kutuk Menjadi Batu Jika KPU Curang.</title> “ kemudian melakukan tangkapan layar.

Kesimpulan

Ketua KPU Arief Budiman tidak pernah menyatakan siap dikutuk jadi batu apabila KPU kedapatan melakukan kecurangan. Informasi yang tersebar tersebut bersifat keliru (false). Berita yang dipublikasikan Detik awalnya berjudul "Ketua KPU: Pemilu Serentak 2019 Melelahkan, Perlu Dievaluasi." Namun, judul berita tersebut diubah melalui fitur inspect element pada browser.


Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Hukum)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight