Periksa Fakta

Bawang Merah Menyerap & Membunuh Virus: Mitos atau Fakta?

Header Periksa Fakta. tirto.id/Quita
Oleh: Irma Garnesia - 17 April 2020
Dibaca Normal 1 menit
Mitos terkait bawang merah yang menyerap virus ini telah berkembang sejak awal 1900-an. Pertanyaannya, benarkah mitos tersebut?
Sejak Januari lalu, telah banyak misinformasi yang beredar mengenai COVID-19. Pertama, rilis palsu mengatasnamakan Kemenkes yang menuliskan bahwa pencegahan virus corona baru SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 dapat dilakukan dengan menjaga tenggorokan tetap lembab.

Ada pula misinformasi bahwa SARS-CoV-2 merupakan virus berukuran besar, tidak melayang di udara, dan bahwa berkumur dengan air hangat dan garam dapat membunuh virus itu. Klaim menyesatkan terkait kemanjuran jahe, kunyit, dan temulawak dapat menyembuhkan COVID-19 juga banyak ditemukan.

Beberapa waktu terakhir, bawang merah juga diklaim dapat menyembuhkan COVID-19. Informasi ini menganjurkan orang untuk mengobati COVID-19 dengan mengonsumsi merah. Oleh lembaga pemeriksa fakta FactCrescendo dan Newschecker, informasi soal konsumsi bawang merah ini telah terbukti menyesatkan. Hingga saat ini, negara-negara seperti China, Brazil, dan Amerika Serikat masih berlomba menciptakan vaksin bagi COVID-19.

Di sisi lain, terdapat pula informasi yang mengatakan bahwa campuran bawang merah, jeruk nipis, dan garam yang diletak di piring dapat mengunci virus dan bakteri dalam area 10 meter di ruangan tertutup, atau 5 meter di ruangan terbuka. Informasi tersebut dibagikan oleh akun Facebook Adi Laksana (arsip) pada 29 Maret 2020. Informasi ini telah dilihat sebanyak 468 ribu kali dan dibagikan sebanyak 1.700 kali dalam waktu 24 jam sejak dipublikasikan.



Informasi serupa juga dibagikan akun Facebook Alief Mahardika (arsip) pada 26 Maret lalu. Unggahan Alief mengklaim bahwa cara ini telah dibuktikan oleh dokter di China dan diuji coba ke pasien yang menderita pneumonia.


Isu Lawas

Nyatanya, kabar mengenai ampuhnya bawang merah sudah beredar sejak Pandemi Flu Burung H1N1 pada 2009. Saat itu, orang-orang juga menggunakan cara-cara konvensional untuk mencegah tubuh terserang flu. Seperti dikutip dari lembaga pemeriksa fakta Snopes, informasi terkait keampuhan bawang merah ini disampaikan dari mulut ke mulut: "Letakkan semangkuk bawang di rumah atau tempat bekerja, maka Anda akan terhindar dari sakit."

Snopes juga menjelaskan bahwa tidak ada bukti ilmiah soal kupasan bawang merah yang dapat menyerap virus atau mikroba jahat yang ada di sekitarnya. Kendati demikian, cara lama ini memang telah dilakukan oleh banyak orang dari awal tahun 1900-an, seperti dikutip dari Chambers’ Journal (1900), Los Angeles Times (1913), dan The Chicago Defender (1922).

Namun, perlu dicatatat bahwa ahli biologi mengatakan klaim ini tidak masuk akal. Virus membutuhkan inang untuk berkembang. Virus juga tidak dapat mendorong dirinya untuk berpindah tempat atau melintasi ruangan secara mandiri. Hal ini diamini oleh National Onion Association (NOA), sebuah organisasi yang mewakili petani, pedagang, eksporter, dan importer bawang merah di Amerika Serikat sejak 1913. Menurut NOA, virus influenza disebarkan melalui kontak fisik, bukan melalui udara.

Singkatnya, tidak ada bukti ilmiah bahwa potongan bawang merah dapat menyerap atau menghilangkan virus. Akan tetapi, Pusat Keamanan Pangan di Universitas Georgia menyatakan potongan bawang diketahui dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan beberapa jenis mikroorganisme, termasuk beberapa yang dapat menyebabkan keracunan makanan pada manusia.

Kesimpulan

Berdasarkan penelusuran fakta di atas, dapat disimpulkan bahwa klaim potongan bawang merah yang dicampur dengan garam dan jeruk nipis dapat mengunci virus dan bakteri merupakan klaim yang salah (false & misleading). Meski mitos ini telah berkembang sejak awal 1900-an, nyatanya belum ada bukti ilmiahnya hingga saat ini.


Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight