Basah Ketek yang Mengganggu dan Bagaimana Mengatasinya

Infografik Basah Ketek
Ilustrasi Basah Ketek. FOTO/iStockphoto
Oleh: Joan Aurelia - 25 Juli 2019
Dibaca Normal 2 menit
Metode miraDry pertama kali diperkenalkan pada 2012 untuk menghilangkan masalah keringat berlebih pada ketiak menggunakan gelombang microwave.
tirto.id - Bagi banyak orang, keringat pada ketiak atau yang populer disebut dengan istilah ‘basket’ atau 'basah ketek' bukan perkara sederhana. NI, karyawati berusia 36 tahun pernah mengeluh lantaran dirinya harus beberapa kali ke kamar mandi untuk mengganti tisu yang ia selipkan di bawah ketiak.

“Keringatku sering berlebih dan kalau lagi di acara pesta atau acara formal begini kan nggak enak kalau basket. Malu juga dilihat orang. Nggak cantik,” katanya.

Kebiasaan itu telah ia lakukan sejak usianya 20an. Sebenarnya ia bisa saja menyiasati masalah tersebut dengan mengenakan busana bermaterial tipis yang mampu menyerap lebih banyak keringat atau memakai baju berwarna gelap yang tidak akan menimbulkan jejak keringat. Tapi NI tidak mau mengorbankan gaya demi kenyamanan. Di sisi lain, ia merasa tidak atau belum perlu berkonsultasi dengan dokter guna mengatasi permasalahan keringat tersebut.


Lain cerita dengan Scott Keneally. Pada 2011 ia menulis pengalaman ‘basket’ di The New York Times. Keneally bilang bahwa ia selalu mengenakan kemeja hitam selama 10 tahun guna menutupi masalah keringat berlebih pada ketiak. Pria itu telah mengalami gangguan ‘basket’ sejak masuk usia 20-an dan selama satu dekade Keneally melakukan berbagai cara agar ketiaknya tak lagi berkeringat.

“Aku pakai deodoran antiperspirant dan bahkan menempelkan perban di bagian ketiak. Pokoknya aku melakukan segala cara. Dari cara-cara tersebut, botox paling mempan,” tutur Keneally.

Fungsi suntikan botox memang tidak sebatas mengurangi kerutan pada wajah. Akhir tahun lalu, laman Healthline mencatat bahwa botox resmi dijadikan sebagai salah satu metode efektif dalam mengatasi gangguan ‘basket’.

Lembaga pengawas obat dan makanan asal AS, Food and Drug Association (FDA), telah mengakui kandungan botox terbukti mampu mengatasi penyakit hiperhidrosis--gangguan keringat berlebih pada tubuh. Botox efektif digunakan untuk mengatasi keringat di ketiak dan bisa juga dipakai untuk mengatasi gangguan keringat berlebih pada tangan, kaki, dan wajah.

“Botox bekerja dengan cara memblokir kerja syaraf yang merangsang produksi kelenjar keringat. Biasanya sistem syaraf manusia akan mengaktifkan kelenjar keringat ketika suhu tubuh meningkat. Pada penderita hiperhidrosis, syaraf yang merangsang kelenjar keringat bekerja terlalu aktif,” tulis Healthline.

Suntikan botox akan berproses menghentikan produksi keringat dalam jangka waktu dua hingga tujuh hari. Biasanya ketiak akan berhenti berkeringat pada minggu kedua. Masa kering itu bisa berlangsung empat sampai 14 bulan--tergantung kondisi tubuh. Karena itu, perawatan ini harus dilakukan berulang kali, rata-rata dilakukan setiap enam bulan sekali. Sayangnya, perawatan botox tak bisa dilakukan semua orang karena harganya yang mahal, mencapai 1.000 dolar per perawatan.

Bagi Keneally harga tersebut masih terlalu tinggi. Oleh karena itu, ia mencoba metode lain yakni miraDry guna mengatasi ‘basket’. Untuk perawatan ini Keneally harus mengeluarkan biaya sekitar 2.000 dolar dan hanya diminta datang dua kali untuk menuntaskan masalah ‘basket’.

Dalam makalah "Clinical Evaluation of a Microwave Device for Treating Axillary Hyperhidrosis" (2012), disebutkan bahwa miraDry adalah metode baru yang efektif menghilangkan masalah keringat ketiak berlebih. Metode ini memanfaatkan komponen gelombang yang biasa digunakan pada produk penghangat elektronik untuk menanggulangi produksi keringat pada kulit.

Untuk menguji efektivitas miraDry, para peneliti melibatkan 31 responden yang menderita axillary hiperhidrosis atau gangguan keringat ketiak berlebih. Mereka diminta untuk melakukan perawatan miraDry selama satu sampai tiga kali dalam kurun waktu enam bulan.




Rangkaian perawatan diawali dengan pemberian bius lokal pada sejumlah titik yang mengeluarkan keringat berlebih dan memanaskan area tersebut dengan alat elektronik yang menghantarkan gelombang panas. Alat tersebut akan memanaskan lapisan bawah permukaan kulit, tepat di mana kelenjar keringat berada. Setelah proses ‘pemanasan’, alat yang sama akan beralih fungsi untuk mendinginkan area yang sama.

Biasanya pasien akan mengalami efek samping berupa rasa baal dan terbakar beberapa hari setelah perawatan dilakukan. Pada penelitian ini, para pasien diminta untuk melakukan kontrol bulanan selama 3, 6, hingga 12 bulan untuk melihat produksi keringat dan kondisi kulit.

Riset yang dipublikasikan pada jurnal Dermatologic Surgery itu ini menyebut tingkat kepuasan responden terhadap perawatan itu cukup tinggi. Bahkan hingga setahun pasca-prosedur perawatan dilakukan.

Metode tersebut tidak langsung jadi metode populer dalam menangani masalah ‘basket’. Namun seiring berjalannya waktu, cara menghilangkan keringat ketiak dengan gelombang microwave ini semakin dijadikan opsi.


Dan semakin banyak orang yang meniru cara Kenelly dengan berbagi pengalaman melakukan miraDry. Pengalaman itu tak selalu manis. Cosmopolitan pernah memuat pengalaman Samantha Netklin usai melakukan prosedur tersebut. Perempuan itu harus bersabar selama beberapa bulan karena miraDry tidak seketika memberhentikan produksi keringat.

Wall Street Journal melaporkan bahwa miraDry senantiasa kerap respons positif dari pasien atupun dokter. Meski demikian mereka tidak memberikan janji manis bahwa ‘basket’ akan berhenti selamanya.

“Kami tidak bisa memastikan apakah hasil prosedur tersebut permanen. Yang bisa kami pastikan, para pasien akan merasakan efek jangka panjang,” kata Dee Anna Glaser, direktur divisi bedah kosmetik dan laser Saint Louis University School of Medicine.

Jika metode-metode itu terasa merepotkan dan mahal, anda bisa mengatasi basah ketek dengan berbagai metode yang mudah dan murah. Misalkan dengan mulai memakai deodoran antiperspiran yang berfungsi mengurangi keringat. Cara lainnya adalah rutin mencukur bulu ketiak, dan menghidari makanan yang menghasilkan banyak keringat.

Baca juga artikel terkait BAU BADAN atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Joan Aurelia
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight