Bappenas: Dampak Negatif Pemindahan Ibu Kota Tambah Inflasi 0,2%

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 26 Juni 2019
Kendati demikian, Bambang menganggap penambahan inflasi itu tidak perlu dikhawatirkan, sebab nilainya relatif kecil.
tirto.id - Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengatakan pemindahan ibu kota ke Pulau Kalimantan diprediksi menambah inflasi sebanyak 0,2 persen. Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro mengatakan hal tersebut menjadi satu-satunya dampak negatif dari pemindahan ibu kota yang dideteksi kementeriannya.

“Dampak satu-satunya yang barang kali bisa dianggap negatif bahwa pemindahan ibu kota bisa sebabkan tambahan inflasi, tapi itu dikit sangat minimal. Relatif kecil tambahan inflasinya 0,2 persen,” ucap Bambang dalam dialog nasional ke-2 tentang pemindahan ibu kota di Kantor Bappenas pada Rabu (26/6/2019).

Ia mencontohkan, bila saat itu inflasi Indonesia masih sama seperti tahun lalu yaitu berada di angka 3,13 persen, maka pemindahan ibu kota akan membuat inflasi bertambah menjadi 3,33 persen. Kendati demikian, ia menganggap penambahan inflasi itu tidak perlu dikhawatirkan. Sebab nilainya relatif kecil.

Di sisi lain, Bambang menilai, dampak negatif kenaikan inflasi tersebut juga bersifat sementara. Sebab, ia yakin di wilayah itu mulai berangsur-angsur diisi dengan infrastruktur dan sarana produksi yang memadai.

Meskipun demikian, Bambang mengingatkan juga, walaupun ada kenaikan harga, pemindahan ibu kota justru membuka peluang perdagangan antar wilayah yang lebih besar. Baik itu antar Jawa dan pulau sekitarnya maupun antar wilayah di dalam pulau Kalimantan.

Alhasil, ia memastikan bahwa dampak pemindahan ibu kota tidak sampai mengurangi kegiatan ekonomi di sejumlah wilayah Indonesia.

“Itungan kami 50 persen wilayah Indonesia akan merasakan peningkatan arus perdagangan jika ibu kota dipindah ke provinsi yang memiliki konektivitas baik dengan provinsi lain,” ucap Bambang.


Baca juga artikel terkait PEMINDAHAN IBU KOTA atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Alexander Haryanto
DarkLight