Baidu: Kakak Tiri Google yang Sukses di Cina

Penulis: Ahmad Zaenudin, tirto.id - 15 Sep 2019 10:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
RankDex adalah inspirasi penciptaan PageRank. Ditiru Google, menghasilkan Baidu.
tirto.id - “Alih-alih pergi ke perpustakaan untuk mencari informasi,” tulis Jan Brophy dalam "Is Google Enough?" (2005), “kini kita melakukan pencarian informasi dengan beberapa klik menggunakan Google.”

Pencarian informasi mudah dilakukan di zaman kiwari berkat Google. Mesin pencari andalan 90,4 persen pengguna internet di seluruh dunia yang dapat digunakan untuk mencari informasi di lebih dari 1,9 miliar situs web.

Keperkasaan Google dapat dirunut ke terbitnya studi berjudul “The Anatomy of a Large-Scale Hypertextual Web Search Engine” (PDF) yang dipublikasikan pada jurnal Computer Networks and ISDN Systems (1998), dan tentu saja, ditulis oleh Larry Page dan Sergey Brin, akademisi Stanford University yang kelak mendirikan Google. Mengapa mereka mendirikan Google? Salah satu karena Stanford tak mau servernya bermasalah sebab karya ilmiah mahasiswanya berlebihan menggunakan sumber daya kampus.

Dari studi itu lahirlah teknologi baru yang jadi ruh Google kelak, yakni PageRank. Tercipta setelah riset atas 518 juta laman web, PageRank adalah algoritma yang didesain untuk memprioritaskan suatu laman web dibandingkan laman web lain. PageRank mengukur seberapa objektif dan relevan link yang ditautkan oleh suatu laman. Makin objektif dan relevan, makin besar kemungkinan suatu laman web nangkring di posisi atas hasil pencarian.

Algoritma ini mengubah konsep pencarian. Sebelum studi soal PageRank dipublikasikan, umumnya pengurutan hasil pencarian dilakukan berdasarkan model standard vector space. Model ini menitikberatkan pada seberapa sering laman web diperbarui dan/atau seberapa mirip kata kunci pencarian ada dalam laman web. Menurut Page dan Brin, pencarian berdasarkan model ini “memiliki kualitas yang rendah”.


Seiring waktu, PageRank menjelma karya yang dilindungi Kantor Paten Amerika Serikat bernama “Method for Node Ranking in a Linked Database (Nomor paten: US6285999B1).”

Tapi, bagaimana Page dan Brin terinspirasi menciptakan PageRank?

Dalam keterangan yang tertulis pada paten US6285999B1 itu, Page dan Brin mengakui salah satu inspirasi mereka adalah algoritma bernama RankDex. RankDex menggunakan informasi backlink (misalnya informasi dari halaman yang berisi tautan ke halaman saat ini) untuk membantu mengidentifikasi laman web yang relevan. Alih-alih menggunakan konten yang terdapat dalam suatu laman untuk menentukan relevansi, teknik ini menggunakan tautan (link) ke suatu laman web untuk menandai relevansinya.

PageRank bisa dibilang adik dari RankDex. Yang menarik, RankDex diciptakan oleh ilmuwan komputer asal Cina bernama Robin Li Yanhong, pendiri Baidu, mesin pencari yang tidak bisa dikalahkan Google di Cina.

Baidu: Ke Cina Aku Akan Kembali

“Cina adalah tempat yang menyedihkan,” ucap Robin Li di masa mudanya. Sebagaimana dikisahkan The New York Times, Li lahir di sebuah tempat yang berjarak 200 mil dari Beijing. Ketika Li masih kanak-kanak, Revolusi Kebudayaan sedang melanda Cina.

Kecintaannya pada komputer menuntun Li masuk ke Universitas Beijing, sebuah kampus yang paling bergengsi di Cina. Sayangnya, kuliah Li terganggu ketika protes Tiananmen pecah. Pada 1991, selepas lulus dari Universitas Beijing, Li memutuskan pergi ke negeri Paman Sam dan belajar di State University of New York. Keputusan itu dilakukan karena menurutnya “tidak ada harapan” di Cina.

Pada 1996, Li bekerja untuk IDD Information Service, salah satu divisi yang dimiliki Dow Jones and Company yang bertugas mengelola koran online The Wall Street Journal. Di sana ia diberi tugas menciptakan algoritma pencarian dan pemeringkatan laman web bernama RankDex.

Melalui studi berjudul “Toward A Qualitative Search Engine” (PDF, 1998) Li menegaskan bahwa “sebagian besar pencarian internet dilakukan oleh pengguna dengan menyederhanakan kata kunci tentang topik populer. Sayangnya, karena kata kunci tersebut dapat menghasilkan puluhan ribu klik, peringkat suatu laman web pun jadi inti teknologi untuk mesin pencari.”

Melalui RankDex-lah Robin Li memperkenalkan sistem pemeringkatan laman web yang kemudian jadi inspirasi PageRank.

Sialnya, IDD, juga Infoseek dan Yahoo, dua perusahaan di mana Li pernah berlabuh, kurang memahami betapa pentingnya mesin pencari. Pada 1998, selepas bertemu dengan Eric Xu di Silicon Valley, Li memutuskan kembali ke Cina dengan membawa RankDex dan Baidu, perusahaan penyedia mesin pencari buatannya.

The Great Firewall

Menurut Stat Counter, Google adalah mesin pencari pemilik 92,37 persen pangsa pasar. Namun, dalam kasus tertentu, Google tak berdaya. Contohnya di Cina.

Di negeri dengan penduduk terbanyak di dunia ini Baidu adalah pemenang. Ia memiliki 76,67 persen pangsa pasar pencarian berbasis internet di negeri Tirai Bambu.

Mengapa Baidu bisa menang?

Infografik Baidu
Infografik Baidu. tirto.id/Quita


Setelah masuknya internet ke Cina pada Januari 1996, negeri Tirai Bambu ini mulai membangun "tembok" untuk melakukan sensor terhadap internet. Kontrol pemerintah Cina di dunia maya merambah ke percakapan yang berseliweran melalui internet, memblokir situs web asing, menyaring konten, hingga menurunkan laju lalu lintas internet dari Cina menuju luar negeri. Hal demikian terkait dengan biaya bandwidth internasional yang harus dibayar mahal jika laju lalu lintas menuju situs web-situs web luar terlampau banyak. Sebagaimana dikutip dari Business Insider, pada tahun 2010, terdapat 1,3 juta situs web yang diblokir otoritas Cina.

Akibat kebijakan tersebut Cina mendapat julukan “The Great Firewall of China”. Dalam dunia komputer, Firewall merupakan sistem yang dirancang untuk memblokir akses bagi aplikasi atau program yang tidak sah.


Sejak 2010, Google tak dapat diakses secara legal di Cina. Akibat paling nyata kebijakan ini membuat pemain-pemain lokal, misalnya Baidu, makin sukses di negeri sendiri. Namun, sebagaimana dicatat The New York Times, sebelum Google hengkang dan Cina dan hanya enam tahun setelah Baidu berdiri, mesin pencari bikinan Li ini menguasai 57 persen pangsa pasar dan 50 persen kue iklan digital di Cina. Pada akhir tahun 2006, perusahaan garapan Li ini mampu memperoleh pendapatan nyaris $25 juta.

The Great Firewall memang sukses membuat perusahaan lokal berjaya. Sayangnya, masyarakat harus membayar atas kebijakan itu. Warga Cina tidak bisa bebas mengakses informasi. Mencari informasi melalui Baidu berbeda dengan menggunakan Google, khususnya karena terkait kontrol pemerintah. Sebagaimana dilansir Quartz, jika Anda mencari "Peristiwa 4 Juni" (June 4th incident) di Google, Anda akan mendapatkan ribuan informasi terkait protes dan pembantaian di Lapangan Tiananmen. Anda tak bisa menemukannya di Baidu.

Jadi, jangan harap kata kunci seperti "Tiananmen Square", "Tank Man", "six four", "Student protests," dan sejenisnya bisa menghasilkan pencarian yang relevan di Baidu.

VPN (Virtual Private Network) digunakan oleh siapapun yang ingin mengakses Google dan layanan-layanan lain bikinan AS yang diblokir The Great Firewall. Dilansir South China Morning Post, warga Cina yang memilih menggunakan VPN harus rela membayar. Sialnya, VPN adalah barang haram di Cina. Barang siapa ketahuan menggunakan VPN dapat dikenai denda hingga 1.000 yuan atau sekitar Rp2,3 juta.

Kebijakan politik Cina yang menguntungkan Baidu jelas mengubah pemikiran Li. Ia memang pernah pesimis dan beranggapan Cina tak punya harapan di masa depan digital. Kini ia adalah bagian dari negara, anggota Konferensi Permusyawaratan Politik Rakyat Tiongkok yang dikenal sebagai KPP Rakyat.

Baca juga artikel terkait GOOGLE atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf

DarkLight