Bagaimana Uang Suap Bisa Mempengaruhi Keputusan Seseorang?

Oleh: Febriansyah - 19 Februari 2019
Dibaca Normal 1 menit
Orang akan cenderung menilai dengan subjektif setelah mengetahui nilai uang suap.
tirto.id - Bagi beberapa orang suap menjadi jalan pintas yang paling cepat dalam mengurus sesuatu. Apalagi hal tersebut dikaitkan dengan kepentingan-kepentingan besar seperti kenaikan jabatan atau kepemilikan sebuah proyek tertentu.

Penelitian baru dari Carnegie Mellon University menunjukkan, keserakahan adalah alasan utama orang melakukan atau menerima suap. Akan tetapi penelitian ini juga menemukan terkadang uang suap itu bisa diabaikan dan efek dari suap dapat dikurangi.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of the Europan Economic Assosiation ini menunjukkan, saat orang secara intensif diberi dorongan untuk suap maka orang akan cenderung menerima dan menghargai suap itu. Namun, ketika orang mengabaikan jumlah suap, maka penilaian orang terhadap kualitas sesuatu tidak terlalu terpengaruh.

Dalam percobaan Carnegie Mellon, peserta yang disebut sebagai joke-teller menulis lelucon dan menyerahkannya kepada hakim. Hakim ditugaskan untuk memutuskan cerita mana yang paling lucu. Joke-teller dapat menyuap hakim hingga 5 dolar AS untuk memenangkan ceritanya.

Ketika hakim hanya diizinkan menerima satu suap, hampir 90 persen dari mereka memilih lelucon yang paling banyak menghasilkan uang. Lelucon yang lebih baik sebagaimana ditentukan oleh para penilai independen hanya sebanyak 60 persen yang terpilih.

"Kualitas pada dasarnya diabaikan ketika orang bisa mengantongi suap. Hampir setiap orang pergi membawa uang itu," kata Silvia Saccardo, penulis penelitian dari Carnegie Mellon.

Hasilnya berbeda ketika hakim bisa bertahan untuk tidak menerima suap. Mereka memilih lelucon terbaik 84 persen. Mereka lebih memilih orang yang menulis lelucon yang betul-betul lucu bahkan ketika nilai suapnya lebih rendah.

"Ketika imbalan yang diberikan bukan jaminan untuk menentukan pemenang, penyuapan tidak mengubah penilaian. Karena mereka berpihak pada kualitas alih-alih imbalan yang lebih tinggi, itu merupakan indikasi dalam timbal balik data kita bukanlah faktor pendorong dalam hal suap," kata Saccardo.

Para peneliti menciptakan satu skenario terakhir dalam penelitian yang memberikan petunjuk keserakahan sebenarnya dapat diatasi. Sebelum membiarkan peserta menyuap hakim, joke-teller diminta menunggu terlebih dahulu selama dua menit.

Waktu ekstra memungkinkan hakim untuk secara objektif membaca dan mengevaluasi lelucon sebelum melihat uang suap. Hasilnya, para hakim memilih lelucon yang lebih baik, 81 persen tanpa melihat uang suap itu.

"Ketika suap tiba sebelum Anda punya waktu untuk membuat keputusan yang tidak memihak, Anda 'dengan mudah' meyakinkan diri sendiri proposal di bawah standar sebenarnya adalah yang terbaik. Lebih sulit untuk membenarkan ketidakjujuranmu sendiri begitu kamu sudah membuat keputusan sebelum menerima suap," kata Saccardo seperti dilansir Carnegie Mellon University.

Para peneliti mereplikasi kondisi utama penelitian di sebuah pasar di India. Hasilnya konsisten. Bank Dunia memperkirakan hampir 1 miliar dolar AS pertukaran suap setiap tahun.

Dengan mempelajari lebih lanjut tentang cara perilaku dan penilaian moral orang dapat dipengaruhi melalui penyuapan, para peneliti berharap efek dari suap ini bisa diidentifikasi dan diminimalkan.

Baca juga artikel terkait PSIKOLOGIS atau tulisan menarik lainnya Febriansyah
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Febriansyah
Editor: Dipna Videlia Putsanra
DarkLight