Bagaimana Film Psycho Memopulerkan Horor Kamar Mandi?

Ilustrasi Psikopat. FOTO/iStockphoto
Oleh: Indira Ardanareswari - 13 Oktober 2020
Dibaca Normal 3 menit
Ketika dirilis pada 1960, Psycho dianggap berhasil mempengaruhi persepsi tentang seks dan kekerasan dalam film Amerika.
Teror di kamar mandi sudah menjadi klise dalam film horor. Bayangkan, saat si tokoh sedang santai memikirkan urusan duniawi dalam ruangan sempit itu, tiba-tiba pembunuh berdarah dingin datang menikam dari balik kegelapan. Seketika lamunan para penonton yang bosan pun ikut buyar dan semua mata kembali ke layar.

Judul-judul seperti The Shining (1980), A Nightmare On Elm Street (1984), dan Scream (1996) hanya segelintir contoh betapa kamar mandi bukanlah tempat yang aman dalam film horor. Lama-kelamaan ancaman yang datang bisa berbentuk bermacam-macam rupa. Parasit pembunuh dalam Shivers (1975), laba-laba beracun dalam Arachnophobia (1990), atau malaikat pencabut nyawa dalam Final Destination (2000) juga kedapatan menyasar korbannya di kamar mandi.


Jejak teror di kamar mandi bisa dilacak dari film horor klasik berjudul Les Diaboliques (1955). Film asal Prancis yang lahir dari tangan dingin sutradara Henri-Georges Clouzot ini ditutup dengan adegan “hantu” yang menyembul dari dalam bak mandi dan mengakibatkan korbannya terkena serangan jantung. Adegan yang luar biasa mengerikan untuk ukuran zamannya itu membuat sebagian orang percaya bahwa kamar mandi terasosiasi dengan teror dan kematian.

Pada tahun 1960, sutradara Alfred Hitchcock mengadaptasi novel berjudul Psycho karya Robert Bloch. Salah seorang koleganya, François Truffaut, pernah bertanya mengapa Hitchcock nekat membuat film yang sempat dinistakan oleh Paramount Pictures, tempat dia bekerja ketika menggarap Rear Window (1954) dan Vertigo (1958). Alasannya ternyata sederhana, Hitchcock hanya ingin bereksperimen adegan teror di bak mandi.

“Saya sedang memikirkan adegan pembunuhan di bak mandi, tiba-tiba keluar begitu saja, hanya itu,” jawabnya santai.

Benar saja, Psycho dengan berani mempertontonkan perempuan yang meregang nyawa akibat ditikam oleh pembunuh misterius di dalam kamar mandi. Adegan yang baru pertama kali dibuat di Hollywood kala itu dengan segera memancing kegusaran badan sensor Amerika Serikat. Alih-alih dicekal, film ini justru semakin dikenal, bahkan dianggap berhasil mempengaruhi persepsi tentang seks dan kekerasan dalam film.

Pengaruhnya bisa dirasakan pada periode 1970an sampai 1990an melalui film-film seperti The Texas Chain Saw Massacre (1974), Halloween (1978), Friday the 13th (1980), Child's Play (1988), atau Candyman (1992) mulai mendapat maklum. Sub-genre film yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan slasher ini berkembang menjadi salah satu jenis film yang paling banyak menjaring fans fanatik.

Simpati untuk Pencuri dan Pembunuh

Psycho berkisah tentang Marion Crane (Janet Leigh) yang bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan real estate. Kontras dengan Marion yang mapan, pacarnya yang bernama Sam Loomis (John Gavin) adalah duda bokek yang banyak hutang. Akibat masalah keuangan, Sam selalu menolak diajak menikah sampai-sampai membuat Marion merasa frustasi.

Marion lantas nekat membawa lari uang sebesar 40.000 dolar AS yang seharusnya didepositokan di bank atas suruhan bosnya. Demi membayar hutang-hutang sang pacar, Marion mempertaruhkan pekerjaannya dan kabur ke California dengan mengendarai mobil.

Di sini, kepiawaian Hitchcock meramu suspense sudah tidak diragukan lagi. Sutradara asal Inggris berjulukan Master of Suspense itu terus menembakkan moncong kameranya ke wajah penuh gelisah Marion. Dia seperti memaksa penonton untuk terus bertanya-tanya apa yang akan terjadi jika perempuan ini kedapatan mencuri.

Berkali-kali pula Marion terlihat kebingungan menyimpan amplop tebal berisi uang curian. Dengan terus mengintai tindak-tanduk Marion yang serba kikuk, Hitchcock memastikan penonton bersimpati terhadap perbuatan dan motif sang karakter. Di mata penonton, Marion hanyalah pencuri amatir yang kurang berbahaya.

Hitchcock tidak hanya berhasil memanipulasi rasa simpati penonton terhadap pencuri, tetapi juga kepada si pembunuh. Dalam pelariannya, Marion sempat singgah di Motel Bates yang dikelola oleh Norman Bates (Anthony Perkins), seorang pemuda canggung yang sangat ramah. Namun, bukannya bersantai, Marion malah menjadi sasaran amukan ibunda Norman lantaran dituduh menggoda putranya.

Menggunakan sebilah pisau, Marion ditusuk berkali-kali di bawah pancuran air bak mandi dalam keadaan tanpa busana. Setelah yakin korbannya habis terkoyak, si perempuan tua lari terbirit tanpa memberi kesempatan kepada penonton mempelajari sosoknya. Tubuh Marion yang mati lemas lantas jatuh ke lantai disusul penampakan darah kental yang berputar masuk ke saluran pembuangan.

David Thomson dalam The Moment of Psycho: How Alfred Hitchcock Taught America to Love Murder (2009) mendeskripsikannya sebagai adegan paling kejam yang pernah dibuat dalam film Amerika. Lebih jauh Thomson menegaskan bahwa setelahnya persepsi kekerasan dan cara orang melihat pembunuh dalam film Amerika tidak lagi sama.

Usai adegan pembantaian itu, Psycho beralih ke sudut pandang Norman yang mengalami dilema karena harus menyembunyikan kejahatan ibunya. Lewat mata kamera yang terus bergerak mengikuti gerak-gerik Norman saat diburu detektif bernama Milton Arbogast (Martin Balsam), Hitchcock lagi-lagi memastikan ada sedikit simpati untuknya. Seperti halnya Marion, para pemirsa juga tidak ingin melihat pemuda berbakti itu tertangkap.

Perspektif pencuri dan pembunuh dalam Psycho lantas memengaruhi kelahiran film-film serupa lainnya. Bonnie & Clyde (1967), misalnya, dirilis dengan jelas-jelas menunjukkan pemujaan terhadap pasangan perampok dan pertunjukan kekerasan. Film yang membeberkan isi kepala seorang pembunuh juga bisa dilihat jejaknya lewat tokoh Hannibal Lecter dalam The Silence of the Lambs (1991) dan Hannibal (2001) atau Patrick Bateman dalam American Psycho (2000).



Membuka Era Slasher

Psycho pada dasarnya adalah petualangan indie Alfred Hitchcock yang paling sukses. Menurut catatan History, film ini meraup pendapatan kotor 32 juta dolar AS dan menjadi film paling laris kedua di tahun 1960 setelah Spartacus. Tetapi dibandingkan film kolosal buatan Stanley Kubrick yang berbiaya fantastis itu, Psycho dibuat dengan mengandalkan biaya patungan dari kantong Hitchcock sendiri.

Barangkali berkat hal itu, Hitchcock merasa bisa membuat film dengan sesuka hati. Dengan percaya diri dia mengabaikan Kode Etik Produksi Film yang mengatur adegan seks dam kepantasan dengan mempertontonkan perempuan dalam pakaian dalam, adegan mandi, bahkan penampakan toilet yang kala itu sangat canggung dilihat di depan umum. Adegan pembunuhan Marion di kamar mandi juga membuktikan sikap Hitchcock yang tak acuh terhadap sensor.

Badan sensor yang kala itu masih menjadi penentu nasib film Hollywood sampai kebingungan menanggapi sesuatu yang baru pertama mereka lihat. Beberapa orang bersumpah telah melihat ketelanjangan. Lainnya menunjuk gambaran pisau yang menembus kulit. Mereka lantas meminta Hitchcock mengubah bagian-bagian terbaik itu. Namun, dia dengan cerdik mengirimkan kembali salinan adegan mandi yang tidak berubah dan sensor menerimanya!

Alexandre O. Philippe, sutradara film dokumenter 78/52: Hitchcock's Shower Scene (2017), berpendapat cara Hitchcock lolos dari sensor dan batas-batas kesopanan masyarakat Amerika pada zaman itu ibarat tipuan sulap yang luar biasa. Revolusi editing dan tata musik yang dilakukan Hitchcock, menurut Philippe, berhasil mengubah kebiasaan masyarakat menonton film. Orang tidak lagi bisa menonton film dari tengah karena mereka mungkin kehilangan bagian terbaik.

Hitchcock sendiri mengakui bahwa pisau yang digunakan tidak pernah menyentuh tubuh Janet Leigh. Kekerasan dan ketelanjangan sekedar tersirat dalam benak penonton berkat ilusi visual dengan memanfaatkan pengambilan gambar jarak dekat, gerakan cepat, dan banyak potongan gambar. Dalam acara The Dick Cavett Show (1972), Hitchcock menjelaskan bahwa dia membutuhkan 78 gambar film terpisah dan 52 potongan untuk membuat adegan pembunuhan sepanjang 45 detik.

Penggunaan benda tajam membuat Psycho dianggap mempelopori sub-genre slasher. Akan tetapi, Paul Duncan, penulis The Pocket Essential Alfred Hitchcock, berpendapat warisan terbesarnya sebenarnya terdapat pada pergeseran sudut pandang kekerasan yang umumnya menjadi perangkat film slasher. Permainan kamera yang memberi kesan pembunuhan terasa nyata mungkin adalah aspek film Hitchcock yang paling banyak ditiru, papar sejarawan film itu kepada BBC.

Baca juga artikel terkait MISBAR atau tulisan menarik lainnya Indira Ardanareswari
(tirto.id - Film)

Penulis: Indira Ardanareswari
Editor: Windu Jusuf
DarkLight