Menuju konten utama

Bagaimana Angkot BEM UI Tembus Barikade Demo di Bundaran HI?

Mahasiswa dari berbagai kampus menyusun pembagian rute dari arah selatan, utara, dan timur, demi bisa melakukan aksi di Bundaran HI.

Bagaimana Angkot BEM UI Tembus Barikade Demo di Bundaran HI?
Massa aksi 28 Oktober memadati kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada Rabu (28/10/2026) sore. tirto.id/Naufal Majid
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sejumlah angkot berwarna merah dan biru membawa mahasiswa yang ingin menyuarakan pendapat untuk memasuki kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada Rabu (28/10/2026).

Di tengah penjagaan aparat yang menghalangi massa dari arah selatan yaitu, Jalan Jenderal Sudirman, rombongan mahasiswa justru datang melalui jalur berbeda.

Momen tersebut terekam dalam video yang diunggah akun Threads @0m8r4m dan diunggah ulang berbagai akun di media sosial. Angkot yang membawa mahasiswa terlihat memasuki Bundaran HI melalui kawasan Sarinah, tepat di seberang Gedung Bawaslu RI.

Sejumlah pegawai yang menyaksikan kedatangan mahasiswa dari kawasan Thamrin dan Menteng bersorak ketika rombongan tersebut mencapai Bundaran HI. Saat itu, aparat masih berfokus menghalau kelompok mahasiswa lain di jalur selatan.

Di balik pergerakan angkot tersebut, BEM Universitas Indonesia (UI) bersama perwakilan sejumlah kampus telah menyusun strategi untuk mencapai Bundaran HI.

Mereka membagi massa ke beberapa jalur setelah dua aksi sebelumnya, pada 12 Juni dan 18 Agustus 2026, gagal mencapai lokasi karena dihadang aparat di depan UOB Plaza.

Wakil Kepala Departemen Aksi dan Propaganda BEM UI 2026, Lionel Sihaloho, mengatakan strategi itu dibahas bersama perwakilan mahasiswa dari sejumlah kampus yang tergabung dalam Komite Sadar, termasuk UI, ITB, UGM, Unpad, UPN, Undip, dan lainnya.

"Kami berdiskusi terkait skema ini kan, gimana cara kami bisa menembus Bundaran HI," kata Lionel saat dihubungi Tirto, Kamis (29/10/2026).

Unjuk rasa mahasiswa di Jakarta

Sejumlah mahasiswa berunjuk rasa di Jalan MH Thamrin, Jakarta, Rabu (28/10/2026). ANTARA FOTO/Fauzan/wsj.

Pengalaman dua aksi sebelumnya menjadi bahan evaluasi bagi mahasiswa. Massa UI yang berangkat dari Depok biasanya melewati jalur selatan untuk mencapai pusat Jakarta. Mereka memperkirakan aparat akan kembali memusatkan penjagaan di rute yang sama.

Lionel mengatakan mereka kemudian melihat kemungkinan menggunakan akses lain menuju Bundaran HI. Kawasan tersebut memiliki empat jalur, sehingga mahasiswa memperkirakan tidak semua akses akan ditutup oleh aparat.

"Karena di 12 juni dan 18 agustus hanya diblokir di satu jalur saja, di jalur selatan gitu kan, yang di mana tiga jalur yang lain itu masih bisa berfungsi gitu. Karena Bundaran HI ini kan sentral Jakarta, sentral ekonomi, jadi enggak mungkin semua jalur disetop," ujarnya.

Dari pertimbangan tersebut, mahasiswa menyusun pembagian rute dari arah selatan, utara, dan timur, serta melalui transportasi umum. Jumlah massa yang datang dari berbagai kampus juga memungkinkan mereka bergerak dalam beberapa kelompok.

Namun, mereka tentu saja memperkirakan aparat akan kembali mengantisipasi kedatangan mahasiswa dari jalur selatan. BEM UI pun menyiapkan kelompok yang bergerak lebih awal untuk mengalihkan perhatian polisi agar penjagaan tetap terpusat di sana.

"Nah, baru kita planning dulu nih, karena tadi 12 Juni dan 18 Agustus sudah diblokir, jadi kita ekspektasi kami adalah di aksi ini, di 28 Oktober, pasti diblokir juga kan. Oleh karena itu kami mengirim decoy [umpan.red]," kata Lionel.

Kelompok pengalih perhatian itu berangkat sekitar pukul 11.00 hingga 11.30 WIB menggunakan beberapa unit Kopaja.

Lionel menyebut Wakil Ketua BEM UI, Fathimah Azzahra, dan Koordinator Bidang Sosial Politik BEM UI, Hafidz Hernanda, atau kerap disapa Bapis, serta sejumlah fungsionaris bidang sosial dan politik BEM UI turut bergerak lebih awal menuju jalur selatan.

Sementara itu, kelompok mahasiswa lain disiapkan untuk mencapai Bundaran HI melalui akses berbeda. Sebagian menggunakan angkot, sedangkan yang lain memanfaatkan TransJakarta dan MRT.

"Setelah dari situ massa UI semuanya itu dan massa dari Komite Sadar dan yang lain itu dibagi jadi dua, ada yang menggunakan angkot baru ada yang naik lewat TransJakarta gitu," ujar Lionel.

Rombongan angkot bergerak melalui sejumlah titik, termasuk kawasan Sarinah dan Menteng. Mahasiswa lainnya menggunakan transportasi umum sebelum melanjutkan perjalanan menuju lokasi aksi.

"Jadi kita ingin menyerbu selatan, utara, timur, dan juga dari TransJakarta gitu, TransJakarta, MRT, dan langsung jalan ke Bundaran HI gitu," katanya.

Sudah Ada Langganan Sewa Angkot

Lionel juga mengatakan BEM UI sudah memiliki langganan penyedia angkot sehingga penyewaan kendaraan untuk aksi kali ini berjalan lancar.

"Aman kok karena sudah langganan," kata Lionel.

Ia mengakui, penyewaan kendaraan untuk aksi tidak selalu berjalan mulus, beberapa pool angkutan pernah mengalami intervensi pemerintah, seperti yang mereka alami menjelang aksi 18 Agustus 2026.

"Ada beberapa [pool angkutan] yang sudah dikooptasi oleh pemerintah seperti kejadian 18 Agustus kemarin. Tapi untungnya pada aksi kali ini aman semua," ujarnya.

Dengan pengalaman tersebut, BEM UI kembali menggunakan angkot dan angkutan umum lainnya sebagai bagian dari mobilisasi massa.

Angkot pengantar BEM UI ke Bundaran HI

Suryadi, salah satu sopir angkot yang mengangkut BEM UI menuju Bundaran HI, Jakarta Pusat. Tirto.id/Muhammad Rayfahd Haykal

Salah satu sopir angkot yang mengangkut BEM UI adalah, Suryadi, berusia 62 tahun. Ia merupakan sopir angkot T.19 trayek Terminal Pinang Ranti-Depok.

Suryadi mengatakan pemesanan angkot dilakukan melalui seseorang yang dianggapnya sebagai 'ketua angkot' di Terminal Kampung Rambutan. Setelah itu, 'ketua angkot' meminta para sopir yang telah ditunjuknya untuk menjemput rombongan mahasiswa di lokasi yang telah ditentukan.

“Iya, dia akan berhubungan langsung dengan ketua di Rambutan,” kata Suryadi saat ditemui Tirto di dekat Stasiun Tanjung Barat, Jakarta, Jumat (30/10/2026).

Suryadi juga mengatakan, setiap angkot menerima bayaran yang telah disepakati antara 'ketua angkot' dengan perwakilan mahasiswa, untuk sekali jalan menuju Bundaran HI, Jakarta Pusat.

“Kita nerima dari [ketua] di Rambutan Rp425 ribu,” ujarnya.
Ia mengaku tidak mengetahui secara terperinci alasan mahasiswa menyewa angkot untuk menuju lokasi demonstrasi. Suryadi hanya mengikuti penugasan tersebut dan berangkat menuju kampus Universitas Indonesia, di Depok sekitar pukul 10.00 WIB.

“Saya mah cuma ikut ini, dicatat doang sama teman, terus ke UI jam 10 besok,” kata Suryadi.

Suryadi mengaku senang mendapat kesempatan mengangkut rombongan mahasiswa. Menurutnya, menyewakan angkot untuk perjalanan seperti itu menjadi salah satu kesempatan bagi sopir ketika sedang kesulitan mendapatkan penumpang.

“Emang lagi susah. Kesempatan kalau ada rombongan dari UI gitu kita senang,” ujarnya.

Suryadi juga menceritakan pengalamannya saat melintasi kawasan yang dijaga aparat kepolisian. Ia mengaku masih sempat melewati barikade ketika jumlah kendaraan yang melintas belum terlalu banyak. Namun, sejumlah angkot lain tidak berhasil melewati penjagaan tersebut.

“Kalau saya masih sempat lolos ke atas, yang lain sudah enggak,” ujarnya.

Suryadi turut menceritakan mengapa kendaraannya bisa tetap melintas sementara angkot lain ada yang tertahan. Ia mengungkap pada saat itu, belum banyak kendaraan yang melewati jalur tersebut.

“Karena saya masih pas banget. Masih belum diinin [ditahan] sama polisi. Jadi saya masih bisa,” ujarnya.

Setelah mengantar massa, Suryadi mengaku tidak mengalami penilangan ataupun didatangi aparat kepolisian. Ia juga belum mendengar cerita dari sopir lain mengenai adanya penilangan setelah kegiatan tersebut.

“Enggak ada, kalau ditilang mah enggak ada. Polisi ngantar juga enggak ada,” pungkasnya.

Massa aksi 28 Oktober di Jakarta

Massa aksi 28 Oktober memadati kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada Rabu (28/10/2026) sore. tirto.id/Naufal Majid

Apa Itu Kuda Troya dalam Mitologi Yunani?

Diketahui, aksi unjuk rasa pada 28 Oktober 2026 bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, kemudian pergerakan mahasiswa yang menggunakan angkot ini kemudian ramai diperbincangkan di media sosial dan disamakan dengan taktik Kuda Troya.

Kuda Troya merupakan kisah terkenal dalam tradisi mitologi Yunani yang menggambarkan penggunaan tipu daya untuk menaklukkan musuh. Cerita ini berkaitan dengan Perang Troya, konflik legendaris antara pasukan Yunani dan pihak Troya.

Menurut kisah yang populer, bangsa Yunani telah berperang selama sekitar sepuluh tahun tanpa berhasil merebut kota tersebut. Mereka kemudian menyusun siasat dengan membuat kuda kayu berukuran besar dan menyembunyikan sejumlah prajurit di dalamnya.

Kuda kayu itu ditinggalkan di depan Kota Troya ketika pasukan Yunani berpura-pura mundur. Penduduk Troya menganggap kuda tersebut sebagai hadiah atau tanda kemenangan, lalu membawanya masuk ke dalam kota.

Pada malam hari, prajurit yang bersembunyi di dalam kuda keluar dan membuka gerbang kota. Pasukan Yunani yang menunggu di luar kemudian masuk dan menyerang Troya. Melalui siasat tersebut, kota itu akhirnya dapat direbut.

Dari kisah inilah istilah Trojan Horse digunakan untuk menggambarkan strategi yang memanfaatkan pengalihan perhatian, penyamaran, atau sesuatu yang tampak tidak berbahaya untuk mencapai tujuan tertentu.

Dalam aksi BEM UI bersama Komite Sadar pada 28 Oktober 2026, penyebutan Kuda Troya merujuk pada pola pengalihan perhatian melalui kelompok yang bergerak lebih dahulu, sementara kelompok mahasiswa lain menggunakan jalur berbeda untuk mencapai Bundaran HI.

Meski memiliki kemiripan dalam penggunaan strategi pengelabuan, skema yang dijelaskan Lionel merupakan strategi pergerakan massa yang disusun berdasarkan pengalaman menghadapi pengamanan pada aksi-aksi sebelumnya.

Baca juga artikel terkait DEMO MAHASISWA atau tulisan lainnya dari Hanang Septioyudho

tirto.id - News Plus
Reporter: Hanang Septioyudho & Muhammad Rayfahd Haykal
Penulis: Hanang Septioyudho
Editor: Bayu Septianto