tirto.id - Simbol tiga jari atau Three-Finger Salute kerap terlihat dalam berbagai aksi demonstrasi mahasiswa di Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung, termasuk dalam sejumlah gerakan yang dilakukan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI).
Terinspirasi dari film The Hunger Games, simbol tersebut berkembang menjadi lambang solidaritas, perlawanan terhadap kekuasaan otoriter, serta perjuangan untuk kebebasan dan kesetaraan di berbagai negara.
Melalui unggahan akun Instagram @bemui_official bertajuk “Tiga Jari di Udara, Apa Maksudnya? Interseksi Gerakan Pemuda, Budaya Populer, dan Aktivisme Digital”, BEM UI menjelaskan bagaimana simbol yang dipopulerkan melalui karya fiksi dapat digunakan untuk menyampaikan pesan politik di dunia nyata.
Simbol tiga jari dikenal luas melalui serial novel dan film “The Hunger Games”. Dalam cerita tersebut, gestur ini awalnya merupakan salam penghormatan yang digunakan masyarakat di Distrik 12 untuk menunjukkan rasa hormat, simpati, dan perpisahan.
Namun, seiring berkembangnya cerita, salam tersebut berubah menjadi simbol solidaritas dan perlawanan terhadap pemerintahan otoriter Capitol. Perubahan makna ini membuat Three-Finger Salute melampaui fungsinya sebagai gestur dalam cerita fiksi.
Simbol tersebut kemudian diadopsi oleh gerakan sosial di dunia nyata karena dianggap mampu menyampaikan pesan perlawanan tanpa harus menggunakan kata-kata panjang.
Dalam penjelasannya, BEM UI menilai simbol ini menjadi bahasa visual yang mudah dipahami masyarakat. Seseorang cukup mengangkat tiga jari untuk menunjukkan dukungan terhadap suatu gerakan atau menyatakan solidaritas dengan kelompok yang sedang memperjuangkan perubahan.

Makna Tiga Jari: Kebebasan, Kesetaraan, dan Persaudaraan
Dalam narasi yang disampaikan BEM UI, tiga jari dikaitkan dengan nilai liberte, egalite, fraternite, yang dalam bahasa Indonesia berarti kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan. Semboyan tersebut identik dengan Revolusi Prancis dan menjadi salah satu landasan penafsiran simbol tiga jari dalam gerakan sosial.
Kebebasan merujuk pada hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat, menentukan pilihan, dan berpartisipasi dalam kehidupan politik tanpa tekanan atau penindasan. Kesetaraan menekankan bahwa setiap orang memiliki kedudukan dan hak yang setara, sedangkan persaudaraan menggambarkan solidaritas serta kebersamaan dalam memperjuangkan tujuan bersama.
Ketiga nilai tersebut membuat simbol tiga jari mudah digunakan oleh kelompok yang ingin menyampaikan pesan mengenai demokrasi dan hak masyarakat. Gestur itu juga memungkinkan orang-orang dari latar belakang berbeda menunjukkan dukungan terhadap suatu gerakan tanpa harus berasal dari organisasi yang sama.
Penggunaan simbol tiga jari dalam aksi politik dunia nyata salah satunya terlihat di Thailand. Setelah kudeta militer pada Mei 2014 yang menggulingkan pemerintahan saat itu, sejumlah kelompok pemuda menggunakan gestur tersebut sebagai bentuk penolakan terhadap kekuasaan militer.
Simbol tiga jari kembali mendapat perhatian internasional setelah militer Myanmar mengambil alih kekuasaan melalui kudeta pada Februari 2021. Sejumlah kelompok pemuda dan aktivis menggunakan gestur tersebut sebagai bentuk penolakan terhadap pemerintahan militer.
BEM UI mengutip pernyataan seorang demonstran di Yangon pada 3 Maret yang menggambarkan keterbatasan alat perlawanan mereka.
"Ketika mereka menyerang kami, kami tidak punya apa-apa," ucapnya.
"Kami tidak punya tongkat. Kami tidak punya pisau. Yang kami punya hanyalah nyanyian dan salam tiga jari kami," ujar demonstran tersebut.
Dalam berbagai aksi BEM UI, simbol tiga jari digunakan untuk menunjukkan solidaritas dan menyampaikan pesan perlawanan terhadap kondisi politik yang mereka kritik. Mereka menegaskan penolakan terhadap kakistokrasi, oligarki, serta kebijakan yang dinilai represif dan mempersempit ruang demokrasi.

Makna Lagu The Hanging Tree
Selain simbol tiga jari, ada pula lagu "The Hanging Tree" yang kerap digunakan dalam posting mengenai demo. “The Hanging Tree” juga ada dalam semesta The Hunger Games.
Lagu ini memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar lagu tentang seseorang yang dihukum gantung. Lagu ini berbicara tentang kematian, cinta, pengorbanan, ketakutan terhadap kekuasaan, dan perlawanan terhadap penindasan.
Lagu ini pertama kali diciptakan dalam cerita oleh Lucy Gray Baird, seorang penyanyi dari Distrik 12. Dalam The Ballad of Songbirds and Snakes, lagu tersebut terinspirasi dari kisah Arlo Chance, seorang pria yang dihukum gantung setelah dituduh bertanggung jawab atas ledakan di tambang yang menewaskan tiga orang.
Dalam film The Hunger Games: Mockingjay – Part 1, lagu yang dinyanyikan Katniss ini menyebar dan menjadi bagian dari semangat pemberontakan terhadap Capitol.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id

































