Menuju konten utama

Demokrasi di Jalanan: Gelombang Protes Sosial Eropa

Aksi yang meluas di berbagai kota di Eropa menunjukan ketidakpuasan publik terhadap kebijakan pemerintah.

Demokrasi di Jalanan: Gelombang Protes Sosial Eropa
Masyarakat berunjuk rasa di Alun-alun Kota Tua (Old Town Square) di Praha, Republik Ceko, pada 25 Oktober 2026, untuk mendukung media layanan publik dan mempertahankan biaya layanan bagi lembaga penyiaran publik Ceko. Pada 24 Oktober 2026, AFP/Michal Cizek
2026/10/27/afp__20261012__d2zk7cq__v1__highres__belgiumpoliticsyouthprotest.jpg
Seorang petugas kepolisian Belgia berhadapan dengan para pengunjuk rasa muda di tengah bentrokan di dekat stasiun kereta Brussels-South pada 12 Oktober 2026, di sela-sela aksi mogok nasional. Nicolas TUCAT / AFP
2026/10/27/afp__20261023__d48g9ad__v1__highres__spainpolitcsprotesthousing.jpg
Pesan-pesan tertulis terpampang pada sebuah terpal di Puerta del Sol, tempat para pengunjuk rasa yang menyoroti krisis perumahan masih berkemah di Madrid pada 23 Oktober 2026. Satu bulan setelah penggusuran Maricarmen Abascal yang berusia 87 tahun—yang kemudian meninggal dunia di rumah sakit—aksi protes di kawasan pusat Puerta del Sol, Madrid, terus berlanjut di tengah krisis perumahan yang belum terselesaikan. Isu ini telah menjadi topik utama menjelang pemilihan umum sela Spanyol yang akan digelar pada 29 November. OSCAR DEL POZO / AFP
2026/10/27/afp__20260213__97fv8t9__v1__highres__austriaschoolsmuslimsheadscarfbanprotest.jpg
Ratusan pengunjuk rasa menghadiri aksi protes di Wina, Austria, pada 13 Februari 2026. Aksi yang diselenggarakan oleh koalisi 20 organisasi masyarakat sipil di Austria ini menentang larangan penggunaan penutup kepala (jilbab) di sekolah-sekolah. Protes tersebut merupakan tanggapan terhadap "tahap sosialisasi" dari aturan baru yang lebih ketat mengenai larangan penutup kepala bagi siswi berusia di bawah 14 tahun di sekolah—sebuah kebijakan yang mulai diterapkan di Wina dan Austria Hilir setelah libur semester. Undang-undang tersebut, yang akan berlaku sepenuhnya pada tahun ajaran 2026/27, melarang penggunaan penutup kepala yang "dipengaruhi oleh ideologi atau agama" di lingkungan sekolah, dengan ancaman denda bagi orang tua berkisar antara 150 hingga 800 euro. AFP/Joe Klamar
2026/10/27/afp__20261020__d3t67jn__v1__highres__portugalpoliticshousingdemo.jpg
Para pengunjuk rasa memajang papan karton berisi slogan-slogan di tengah aksi perkemahan yang digelar sebagai bentuk protes terhadap kekurangan perumahan, lonjakan harga sewa, dan upah rendah, di alun-alun Rossio, pusat kota Lisbon, pada larut malam tanggal 19 Oktober 2026. Pada 17 Oktober 2026, para pengunjuk rasa mendirikan puluhan tenda di Lisbon untuk menuntut langkah nyata guna mengatasi masalah perumahan dan tingginya biaya hidup di Portugal—sebuah aksi yang mencerminkan demonstrasi serupa yang telah berlangsung selama berminggu-minggu di negara tetangga, Spanyol. PATRICIA DE MELO MOREIRA / AFP
2026/10/27/afp__20260914__c8av24h__v2__highres__serbiapoliticselectionprotest.jpg
Para mahasiswa membawa spanduk bertuliskan “Mahasiswa menang” saat melakukan aksi unjuk rasa di Beograd pada 14 September 2026. Ribuan warga turut mendampingi para mahasiswa menuju komisi pemilihan umum, dengan diiringi replika monumen “Pemenang” (Victor) khas Beograd—sebuah simbol ibu kota sekaligus lambang kemenangan. OLIVER BUNIC / AFP
2026/10/22/bismillah-cest-les-tenebres-reuters.jpg
Para pelajar sekolah menengah dan mahasiswa di Prancis mengikuti unjuk rasa di Nantes sebagai bagian dari gerakan protes yang terus berlangsung, menuntut kondisi sekolah yang lebih baik serta tindakan dari pemerintah, Prancis, 15 Oktober 2026. Slogan pada poster tersebut berbunyi "Bismillah c'est les tenebres" (Bismillah, ini adalah kegelapan). REUTERS/Stephane Mahe
2026/10/27/afp__20261017__d3l672l__v1__highres__italypoliticsprotestsocialdemo.jpg
Polisi terlibat bentrokan dengan para pengunjuk rasa dalam sebuah aksi protes anti-pemerintah yang diselenggarakan oleh gerakan 'Italia in Piazza', di Piazza Duomo, Milan, pada 17 Oktober 2026. Terinspirasi oleh aksi protes yang baru-baru ini terjadi di Prancis dan Spanyol, para pengunjuk rasa memprotes kenaikan biaya hidup, upah rendah, tingginya harga sewa, serta buruknya layanan publik, seraya menuntut kondisi kehidupan dan pekerjaan yang lebih baik. Piero CRUCIATTI / AFP
2026/10/24/afp__20261009__d2q62xc__v1__highres__belgiumpoliticsgovernmentbudgetprotest.jpg
Para pengunjuk rasa termasuk seseorang yang membawa papan bertuliskan "Bismillah, ini adalah kegelapan" (kiri) dan seorang lainnya dengan kutipan "Pendidikan adalah senjata terkuat untuk mengubah dunia"—berpartisipasi dalam demonstrasi yang digerakkan oleh serikat pekerja untuk menentang kebijakan anggaran Pemerintah Federal di Brussel pada 9 Oktober 2026. NICOLAS TUCAT / AFP
2026/10/06/demo-mahasiswa-di-perancis-reuters.jpg
Demo Mahasiswa di Perancis ang memprotes kondisi Pendanaan pendidikan, di Paris, Ile-de-France, Prancis, pada 5 Oktober 2026. Foto/Reuters
2026/10/06/demo-mahasiswa-di-perancis-reuters-2.jpg
Para siswa sekolah menengah dan mahasiswa di Prancis mengikuti unjuk rasa di Lyon sebagai bagian dari hari protes dan blokade berskala nasional; mereka menyuarakan kemarahan terkait ruang kelas yang terlalu padat, kekurangan guru, serta kondisi bangunan sekolah yang rusak—masalah yang menurut para siswa disebabkan oleh kurangnya investasi selama bertahun-tahun—di Lyon, Prancis, pada 6 Oktober 2026. REUTERS/Denis Balibouse

tirto.id - Rangkaian aksi unjuk rasa yang meluas di berbagai kota di Eropa mencerminkan ketidakpuasan publik terhadap kebijakan pemerintah. Warga turun ke jalan untuk menolak penataan ulang regulasi Undang-Undang yang dinilai merugikan kepentingan masyarakat. Pada saat yang sama, keresahan atas sistem pendidikan dan buruknya layanan publik menjadi titik temu yang menyatukan berbagai elemen masyarakat.

Keresahan sosial tersebut makin diperparah oleh krisis ekonomi harian yang kian berat. Melonjaknya biaya hidup serta melambungnya harga sewa tempat tinggal membuat beban finansial warga makin tak menentu, terutama ketika tidak diimbangi dengan kenaikan upah yang layak. Stagnasi penghasilan di tengah inflasi ini menjadi dorongan utama yang membakar semangat penolakan massa di jalanan.

Melalui gelombang protes ini, para demonstran mendesak pemerintah dan pemangku kebijakan untuk segera menjamin kondisi pekerjaan yang lebih aman dan layak, serta memastikan terwujudnya taraf hidup yang lebih adil dan bermartabat bagi seluruh warga.

Baca juga artikel terkait FOTO - TIRTO atau tulisan lainnya dari Qurrota Ayun

Oleh: Qurrota Ayun
Editor: Ibnu Azis