Kami menggunakan cookie untuk mengumpulkan dan menyimpan informasi tentang interaksi Anda dengan situs web Kami. Kami juga membagikan informasi penggunaan situs Kami oleh Anda dengan mitra iklan dan analitik. Data interaksi tersebut akan Kami gunakan sebagai bahan analisa untuk membuat produk/layanan terbaik sesuai preferensi pengguna.
Indeks Tulisan
Pemindahan Ibu Kota, Keraton Jayakarta, dan Dendam Murjangkung
Sebelum diduduki VOC, Jakarta merupakan sebuah kota tradisional di bawah Kesultanan Banten. Artinya, secara historis, tak semata tinggalan kolonialisme.
Pendekatan Sultan Banten terhadap Para Resi lewat Jalan Blusukan
Kisah tentang Sultan Banten pertama yang blusukan menemui tokoh-tokoh penting sisa kerajaan Hindu-Buddha sebagai pegangan demi stabilitas kekuatan politik.
Tidak Ada Matahari Kembar di Selat Bali
Pasang surut hubungan dan persaingan Jawa dengan Bali dipungkas oleh serangan Majapahit yang menyebabkan runtuhnya Kerajaan Bali Kuno selama-lamanya.
Menelusuri Riwayat Khazanah Emas Wonoboyo nan Spektakuler
Pada Oktober 1990, dunia arkeologi Indonesia mendapat temuan spektakuler di Wonoboyo. Yang terindah adalah mangkuk emas berelief fragmen Ramayana.
Surawisesa Memimpin Kerajaan Sunda Membendung Kekuatan Islam
Setelah kepergian Sri Baduga Maharaja, Surawisesa berjuang menjaga muruah Kerajaan Sunda dari pelbagai ancaman dan serangan kerajaan-kerajaan Islam.
Rona Peradaban Hindu-Buddha di Kebudayaan Batak Kuno
Penyebaran kebudayaan Hindu-Budha di Tanah Batak terlihat lewat temuan biaro dan penggunaan serapan Sanskerta dalam aksara Batak Kuno.
Visi Geopolitik Kertanagara Terpatri pada Arca Amoghapasa
Pada 1286 Masehi, Sri Kertanagara mengirim Arca Amoghapasa untuk raja Melayu. Dilatari kepentingan politik untuk membendung tekanan Mongol.
Melacak Asal-usul Tradisi Sungkeman
Tradisi sungkeman di lingkungan keraton dan masyarakat kerajaan bercorak Islam merupakan warisan dari budaya di era Hindu-Buddha.
Arca Harihara dari Simping, Tradisi dan Simbol Politik Dewaraja
Setelah wafat, Raja Kertarajasa di-dharma-kan di Simping dalam figur Harihara. Tengara Tradisi dewaraja yang berkembang di Nusantara Kuno.
Kiprah Emma Poeradiredja dalam Memberdayakan Perempuan Sunda
Tahun 1938 Emma terpilih sebagai anggota gemeenteraad atau Dewan Kota. Kiprahnya di Pasundan Istri memantik ketertarikan banyak perempuan Sunda.
Mei Kartawinata & Peran Aliran Sungai dalam Kebatinan Perjalanan
Ia berpikir betapa mulianya sungai yang mengalir dari hulu ke hilir hanya untuk dimanfaatkan manusia. Kemudian lahirlah aliran kebatinan Perjalanan.
Posisi dan Peran Transpuan di Era Jawa Kuno
Kdi atau transpuan di era Jawa Kuno agaknya memiliki kekuatan sosio-magis yang dapat menambah kewibawaan raja yang berkuasa.
Tinggalan Majapahit di Kompleks Makam Ki Gede Ing Suro
Para peziarah di kompleks makam Ki Gede Ing Suro mungkin tidak mengira bahwa enam struktur itu adalah bangunan suci tempat pemujaan dewa-dewa Trimurti.
Dengan Prasasti Kedukan Bukit, Sriwijaya Melawan Arus Zaman
Tak seperti yang lain, Sriwijaya menggunakan bahasa Melayu Kuno dalam prasastinya. Masyhur bukan hanya sebagai emporium, tapi juga pusat edukasi Buddhisme.
Anomali Jejak Peradaban Kuno di Parijs van Java
Temuan-temuan arkeologis di sekitar Bandung umumnya menunjukkan ciri anomali. Gejala vernakularisasi masyarakat Sunda Kuno.
Pergeseran Posisi Cianjur dalam Sejarah Priangan
Angin politik yang melemahkan Kerajaan Mataram dan memperkuat VOC mengangkat harkat Bupati Cianjur sehingga diperhitungkan dalam dunia politik Priangan.
Dinasti Mauli di Panggung Sejarah Pulau Emas
Saat Wangsa Sailendra memasuki senjakala, Dinasti Mauli tampil mewarnai kehidupan politik di panggung sejarah Pulau Sumatra hingga abad ke-15.
Suksesi di Majapahit dan Sisi Lain Hayam Wuruk sebagai Seniman
Berkuasa di masa damai, Hayam Wuruk dibimbing Tribhuwana Tunggadewi tak sekadar sebagai raja, tapi sekaligus seniman.
Dominasi Laki-laki dalam Senarai Citra Pemimpin Sriwijaya
Pola kepemimpinan di era Kerajaan Sriwijaya muncul secara organik dari lokalitas masyarakat setempat.
Bersiap Hadapi Mongol, Kertanegara "Membangkitkan" Lagi Bharada
Ketokohan Bharada tak tercatat di era Raja Airlangga. Kertanegara “membangkitkan” namanya dalam upaya menghalau serangan Mongol.