tirto.id - Pertanyaan tentang "trick or treat artinya?" menjadi salah satu bahan pencarian bagi mereka yang tertarik dengan tradisi dan kebudayaan. Simak artikel ini untuk mengetahui contoh trick or treat dan sejarahnya pada momen Halloween.
Kalimat "trick or treat" selalu menjadi bahan pendengaran menjelang dan saat momen peringatan Hari Halloween. Anak-anak biasa meneriakkan kalimat tersebut dari suatu rumah ke rumah lainnya.
Bukan hanya itu, anak-anak juga akan meminta permen dan manisan kepada tuan rumah dalam rangka merayakan Halloween. Berikut ini penjelasan mengenai asal-usul kedua tradisi yang menjadi satu tersebut.
Trick or Treat Artinya?
Dalam bahasa Indonesia, trick or treat artinya "trik atau suguhan". Kedua pilihan tersebut mengisyaratkan pernyataan pengucap, yakni "beri kami makanan atau akan kami jahili".
Trik merujuk kepada berbagai kejahilan yang akan anak-anak perbuat ketika tidak mendapatkan suguhan. Oleh sebab itu, tuan rumah yang kedatangan anak-anak akan memenuhi permintaan.
Ada beberapa versi tentang asal-usul kalimat tersebut. Akan tetapi, "trick or treat" secara umum sudah menjadi bagian penting dalam tradisi perayaan Halloween modern sekarang.
Kenapa Anak-Anak Suka Melakukan Trick or Treat?
Tradisi trick or treat yang muncul di perayaan Halloween awalnya tidak ada. Budaya populer ini baru mengalami perkembangan pada awal abad ke-16.
Saat itu, muncul kebiasaan di Inggris untuk berbagi kepada kaum miskin di sekitar mereka. Biasanya, orang tersebut meminta-minta ketika datangnya perayaan All Soul's Day.
Mengutip National Geographic, anak-anak yang mengambil peran tersebut. Mereka akan memperoleh kue bertanda salib di bagian atasnya yang disebut "kue jiwa", sebagai balasan atas doa yang mereka panjatkan untuk tuan rumah.
Anak-anak suka melakukan trick or treat di perayaan Halloween Modern dengan makna yang sedikit berbeda. Mengutip Merriam Webster, anak-anak akan menggunakan kostum hantu dan berkeliling dari pintu ke pintu rumah sembari meneriakkan "trick or treat."
Ketika tuan rumah membuka pintu, anak-anak seakan mengancam harus diberikan suguhan. Jika tuan rumah menolak, pengunjung yang datang akan memberi "trik" untuk menakut-nakuti.
Lisa Morton, penulis buku Trick or Treat: A History of Halloween, mengatakan, kemungkinan trick or treat adalah tradisi baru yang terinspirasi oleh kebiasaan saat Natal. Sebuah kebiasaan Natal pada abad ke-18 dan ke-19 di timur AS serta Kanada, serupa pelaksanaannya dengan trick or treat yang disebut belsnickling.
Sekelompok peserta dengan kostum tertentu akan pergi dari rumah ke rumah untuk melakukan trik kecil. Mereka akan menakuti agar tuan rumah dan mengharapkan imbalan berupa makanan atau minuman.
Saat popularitas trick or treat meningkat, orang dewasa merasa jauh lebih mudah untuk memberikan suguhan berupa permen ketimbang makanan lainnya. Permen mulai muncul tahun 1800-an melalui pesta Halloween di Amerika sebagai suguhan khas.
Contoh Trick or Treat
Pada abad 20, tuan rumah yang menyalakan lampu di malam Halloween akan memberikan permen trick or treat. Adapun tuan rumah yang tidak ingin membagikan permen, mereka akan mematikan lampu mereka.
Anak-anak dapat melakukan trik atau kejahilan tertentu untuk merespons tuan rumah yang tidak memberikan suguhan. Salah satu contohnya adalah menunjukkan gigi taring buatan untuk menakuti tuan rumah.
Opsi ini bisa mencakup pula penggunaan topeng yang memang dianggap menakutkan oleh pemilik kediaman. Bukan hanya itu, anak bisa pula memperlihatkan trik sulap atau mengucapkan kata menyeramkan untuk mengagetkannya.
Sejarah Perayaan Halloween
Trick or treat Halloween menjadi salah satu opsi untuk memperingati perayaan hari berhantu di Amerika Serikat. Hari Halloween yang kerap menggunakan simbol labu dirayakan oleh sebagian orang di dunia pada 31 Oktober setiap tahunnya.
Perayaan ini telah berkembang sekitar 2000 tahun yang lalu. Berasal dari tradisi khas bangsa Celtic kuno yang hidup di sekitar Irlandia, Inggris Raya, dan Prancis Raya.
Kala itu, bangsa Celtic kuno merayakan Festival Samhain (akhir musim panas). Mengutip laman History, warga setempat merayakan festival ini dengan memakai kostum seram dan menyalakan api unggun demi mengusir hantu.
Pelaksanaannya di akhir musim panas, panen, serta permulaan musim dingin. Pada awal musim dingin, sering terjadi wabah penyakit dan kematian.
Hal ini menyebabkan mereka meyakini bahwa sebelum Tahun Baru Celtic yang mereka rayakan tanggal 1 November merupakan peralihan hidup dan mati. Alhasil, mereka menjadikan Festival Samhain sebagai cara menakuti arwah yang dipercayai berusaha bangkit melintasi batas dunia.
Jika arwah sampai kembali ke alam manusia, mereka akan membuat masalah seperti menyebar wabah penyakit dan merusak tanaman. Lantas, bangsa Celtic mengadakan festival secara rutin setiap malam 31 Oktober.
Saat peringatan tiba, suku Celtic menyiapkan persembahan seperti hasil panen dan hewan ternak. Mereka memasukkan persembahan ini ke dalam api unggun besar sesuai arahan pelaksana pembakaran sesaji yang disebut pendeta Druids.
Para peserta yang ikut festival memakai kostum seram berbahan kepala dan kulit binatang. Mereka saling berbagi kisah nasib hidup masing-masing, kemudian esok harinya menyalakan api unggun kembali untuk menghangatkan badan.
Masyarakat tanah Celtic mempertahankan Festival Samhain, bahkan ketika mereka sempat dikalahkan oleh kekaisaran Romawi pada 43 Masehi. Tradisi ini berkembang dari masa ke masa bahkan sempat terjadi akulturasi budaya.
Sebagian pihak masih mempertahankannya sampai sekarang dengan julukan perayaan pesta Halloween. Sekarang, ada yang menggunakan budaya trick or treat dalam peringatannya.
Ingin membaca lebih banyak artikel tentang perayaan Halloween dan kegiatan yang menyertainya? Pastikan untuk terus mengikuti informasi terbaru peringatan Hari Halloween di sini.
Penulis: Ilham Choirul Anwar
Editor: Yonada Nancy
Penyelaras: Yuda Prinada
Masuk tirto.id

































