Apakah Soekarwo Serius Dukung Khofifah di Pilgub Jatim 2018?

Oleh: M. Ahsan Ridhoi - 22 Maret 2018
Dibaca Normal 2 menit
Soekarwo dan Khofifah sempat bertarung dalam Pilgub Jatim 2013. Bagaimana posisi dukungan Soekarwo terhadap Khofifah di Pilgub 2018?
tirto.id - Posisi Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Timur Soekarwo mendapat sorotan dalam mendukung pasangan Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak dalam Pemilihan Gubernur Jawa Timur 2018. Ia dianggap bakal bermain "dua kaki" demi menjaga hubungan baik dengan Syaifullah Yusuf atau Gus Ipul sebagai rekan kerja memimpin dua periode di Jawa Timur.

Direktur Eksekutif Charta Politica Yunarto Wijaya termasuk yang punya pendapat demikian. Gubernur Jatim itu dikenal dekat dengan Gus Ipul. “Sampai sekarang tidak pernah terdengar retaknya hubungan Gus Ipul dan Pakde Karwo," kata Yunarto di Hotel Atlet Century, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (21/3/2018).

Dalam Pilgub Jatim 2018, Partai Demokrat berkoalisi dengan Golkar, Nasdem, PPP, Hanura dan PAN untuk mengusung pasangan Khofifah-Emil. Partai Demokrat merupakan partai pemilik kursi terbanyak di DPRD Jatim dalam koalisi itu.

Menurut Yunarto, Soekarwo masih memiliki pengaruh signifikan untuk pemilih di Jatim. Ia memiliki kinerja dengan tingkat kepuasan mencapai 73,1 persen dalam survei yang dilakukan Charta Politica pada 3-8 Maret 2018.

“Ini menunjukkan faktor petahana masih sangat besar untuk memengaruhi pemilih,” kata Yunarto.

Kondisi semacam ini memicu spekulasi soal hubungan Soekarwo dan Gus Ipul. Yunarto menduga bisa saja ada kesepakatan di belakang layar antara keduanya. Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Pusat PDI Perjuangan Bambang DH termasuk yang sepakat dengan pendapat Yunarto.

Bambang memberi isyarat kesepakatan di belakang layar antara Soekarwo dan Gus Ipul bisa saja akan terjadi. “Seperti kata Toto (Yunarto) tadi. Bisa saja ada sesuatu di belakang layar. Yang di belakang ini kan enggak bisa kami sajikan. Lihat saja nanti,” kata Bambang.

Demokrat Membantah

Spekulasi soal sikap mendua dari Soekarwo mendapat bantahan Sekretaris DPD Demokrat Jatim, Renville Antonio. Renvile menyatakan tidak mungkin Soekarwo berkesepakat di belakang layar dengan Gus Ipul di Pigub Jatim 2018.

Renvile menegaskan Demokrat Jatim di bawah arahan Soekarwo menjadi partai tersolid dalam mendukung Khofifah-Emil Dardak sesuai hasil sigi Charta Politica. Renvile juga menyebut Gubernur Jatim itu terus meminta seluruh kader bekerja keras memenangkan Khofifah-Emil.

Keseriusan itu juga ditunjukkan dengan sikap Soekarwo yang tiga kali mengundang Khofifah bertandang ke Kantor DPD Partai Demokrat Jawa Timur.

“Kurang apa? Enggak ada. Ini sudah mateng. Tidak bisa diotak-atik. Opininya mau digeser bagaimana pun tidak akan bisa," kata Renvile kepada Tirto.

Renvile menganggap spekulasi itu sebagai cara untuk membenturkan Soekarwo dengan Khofifah. Kedua politikus ini sebelumnya sempat bertarung dalam Pilgub Jatim 2013 yang dimenangkan Soekarwo dalam sidang sengketa Pilkada di Mahkamah Konstitusi (MK) era Akil Mochtar.

Renvile juga sempat menyebutkan ada spekulasi lain, bahwa Soekarwo enggan mengambil cuti karena tak mau berkampanye untuk Khofifah. Isu ini disebut Renvile tak benar lantaran Soekarwo tidak mungkin meninggalkan posisinya sebagai kepala daerah saat wakilnya cuti.

Masa, Jatim dibiarkan enggak ada yang memimpin dalam kondisi begini? Kasihan rakyat. Pakde menjaga amanah rakyat,” kata Renvile.

Bantahan soal sikap mendua Soekarwo juga dikatakan Wakil Sekjen Golkar Sarmuji. Menurut Sarmuji tidak mungkin Soekarwo bermain dua kaki, lantaran politikus Demokrat itu telah secara terbuka menyampaikan kepada partai koalisi akan memperjuangkan kemenangan Khofifah-Emil.

“Bahkan beliau yang usul slogan 'Mari Pakde Terus Bude',” kata Sarmuji.

Sarmuji menyatakan Soekarwo beberapa kali hadir dan memimpin rapat partai koalisi partai pengusung Khofifah-Emil Dardak. “Waktu itu juga sempat dampingi Bu Khofifah ke daerah Mataraman,” kata Sarmuji.

Hasil Survei: Suara Khofifah Unggul di Basis Soekarwo

Pernyataan Renvile dan Sarmuji berbanding lurus dengan hasil survei elektabilitas Pilgub Jatim dari Poltracking dan Charta Politica. Kedua lembaga itu memperlihatkan keunggulan suara Khofifah-Emil di wilayah basis pendukung Soekarwo.

Pada Pilgub Jatim 2008 dan 2013, basis suara milik Soekarwo berada di wilayah pemilih tradisional berada di Tapal Kuda yang membentang dari Pasuruan sampai Banyuwangi; wilayah Madura; Mataraman, dan Mataraman Pesisir yang membentang dari Tuban sampai Pacitan.

Survei Poltracking pada periode 6-11 Maret 2018 menyatakan elektabilitas Khofifah-Emil unggul di semua wilayah pemilih tradisional di Jatim. Sedangkan survei Charta Politica pada periode 3-8 Maret 2018 menyatakan pasangan ini hanya unggul di wilayah Mataraman Pesisir, sementara sisanya Gus Ipul-Puti Guntur unggul.

Kedua lembaga survei ini memang mendapatkan hasil yang berkebalikan, tapi survei Charta Politica menyatakan suara Khofifah-Emil Dardak tidak terpaut jauh dengan Gus Ipul-Puti di wilayah Mataraman, Tapal Kuda, dan Madura.

Di Tapal Kuda, kedua pasangan calon hanya terpaut 0,4 persen. Di Mataraman terpaut 3,5 persen. Terakhir di Madura terpaut 1,5 persen.

Sebaliknya, hasil tersebut justru menunjukkan masih buruknya kinerja PDI Perjuangan di wilayah Mataraman dan PKB di wilayah Tapal Kuda dan Madura. Ini menjadi ironi lantaran pada Pemilu 2014, kedua partai pengusung Gus Ipul-Puti Guntur tersebut menjadi peraih suara mayoritas di dua wilayah di atas.


Baca juga artikel terkait PILGUB JATIM 2018 atau tulisan menarik lainnya M. Ahsan Ridhoi
(tirto.id - Politik)

Reporter: M. Ahsan Ridhoi
Penulis: M. Ahsan Ridhoi
Editor: Mufti Sholih