Apakah Musim Liburan Sekolah Mengurangi Kemacetan di Jakarta?

Oleh: Ahmad Zaenudin - 20 Desember 2017
Dibaca Normal 3 menit
Pengguna jalan di Jakarta harus menambah 184 jam waktu tempuh akibat kemacetan yang melanda hampir setiap hari sepanjang tahun.
tirto.id - "Ketika sekolah libur, Jakarta jadi lenggang. (Saat bukan musim liburan) karena banyak mobil yang antar anak sekolah itu yang bikin macet ."

Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok saat menjabat wakil gubernur DKI Jakarta 2014 silam, pernah punya keyakinan kemacetan di Jakarta antara lain disumbang dari aktivitas antar jemput anak sekolah. Saat itu, ada gagasan untuk menggeser jam masuk sekolah pada pukul 09.00 pagi, dan penambahan angkutan bus sekolah demi menekan kemacetan.

Apakah ihwal yang pernah dilontarkan Ahok ini benar?

Mari kita simak pernyataan
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Perhubungan Baitul Ikwan, yang mengatakan bahwa musim liburan memang membuat jalanan dalam Kota Jakarta bakal menjadi lengang dari biasanya. Termasuk saat di pekan ini atau minggu ketiga Desember 2017, yang sudah memasuki masa liburan anak sekolah.

“Animo masyarakat saat liburan untuk ke luar kota, pulang kampung maupun berlibur. Mobilitas masyarakat kota Jakarta akan lebih lengang,” kata Baitul kepada Tirto.

Baitul tak sendirian, Tarwono, petugas TMC Polda Metro Jaya yang sudah kenyang memantau sudut-sudut jalan di ibu kota setiap hari, mengakui selama musim liburan, jalan-jalan di Jakarta relatif lebih longgar. Sebaliknya jalan-jalan di sisi timur Jakarta, antara lain ke Bandung dan Jawa Tengah lebih padat dari biasanya, seperti jalan tol termasuk JORR.


“Kalau yang di daerah-daerah kota, misalnya jalur-jalur orang kerja itu kalau hari libur sedikit landai,” katanya kepada Tirto.

Ahsan, 23 tahun, warga Pamulang, Tangerang Selatan, termasuk yang merasakan saat musim libur anak sekolah, waktu tempuh berangkat kerja dari rumahnya hingga Senayan, Jakarta Pusat pada pagi hari lebih singkat dari biasanya.

"Pekan ini, berangkat pukul 8.00 pagi, dari Gaplek (Pamulang) ke Pondok Indah hanya 30 menit, padahal biasanya sampai 60 menit lebih. Sekarang 60 menit sudah sampai Senayan," kata Ahsan kepada Tirto.

Angka-angka memang menunjukkan kesesuaian dengan apa yang dikatakan oleh Baitul, Tarwono, dan Ahsan. Pada 2014, Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat terdapat 3.566.178 warga komuter dari wilayah penyangga Jakarta beraktivitas di ibu kota. Sebanyak 2.429.791 orang di antaranya melakukan aktivitas kerja/sekolah di Jakarta terutama di hari kerja.

Jumlah itu mengalami pertumbuhan 10,54 persen per tahun bagi komuter yang memakai sepeda motor dan 8,75 persen per tahun bagi komuter yang mengendarai mobil pribadi. Dampaknya sudah pasti membuat lalu-lintas di Jakarta, khususnya pada jam-jam sibuk, berimbas pada kemacetan yang tak bisa dihindari.

Tomtom, perusahaan pembuat perangkat GPS, menempatkan Jakarta pada urutan ke-3 sebagai kota termacet di dunia. Persis di bawah Bangkok dan Meksiko.


Dampak kemacetan yang kronis, membuat warga perlu menambah waktu tempuh hingga 58 persen dari kondisi jalanan yang lengang. Pengguna jalan di Jakarta harus menambah 184 jam waktu tempuh di jalan akibat kemacetan.

Mengutip Jakarta Open Data, setidaknya ada 4 penyebab kemacetan, yakni jalanan sempit, lalu lintas padat, angkutan umum yang berhenti sembarangan, dan kendaraan parkir di jalanan.

Sebuah peta interaktif berjudul “Jakarta Commute Time” yang dibuat Mona, warga Indonesia yang kini tinggal di Madison, Amerika Serikat, memberikan gambaran menarik bagaimana kondisi kemacetan di Jakarta. Peta itu membagi kemacetan per kelurahan dengan warna-warna tertentu yang menjadi pembeda kemacetan.

Kelurahan Karet Kuningan, dalam peta interaktif itu misalnya, diberikan keterangan “lebih pagi lebih baik” yang mengindikasikan jalanan di wilayah itu “manusiawi” jika dilewati pagi hari.

Pada kelurahan Bangka, Jakarta Selatan, peta interaktif menunjukkan bahwa wilayah tersebut “termacet (terjadi pukul) 08.15 WIB.” Wilayah kelurahan Pondok Bambu “paling macet (terjadi pukul) 07.55 WIB.”


Infografik Kemacetan Jakarta Rev


Macet Akhir Pekan dan Liburan


Setiap pekan, para pekerja formal umumnya bekerja dari hari Senin hingga Jumat. Sabtu dan Minggu atau akhir pekan, merupakan waktu libur bagi para pekerja khususnya di Jakarta.

Keadaan demikian berimbas pada volume kendaraan yang mengaspal di jalan-jalan ibu kota. Tarwono, petugas TMC Polda Metro Jaya, menerangkan tak ada beda antara libur akhir pekan dengan musim liburan terkait kondisi kepadatan jalan yang relatif longgar di Jakarta.


“(Akhir pekan) itu termasuk (kategori) hari liburan, (lalu-lintas menjadi) landai,” terangnya.

Data yang dipacak dari Google Maps nampaknya mendukung ucapan Tarwono. Rute dari Pasar Minggu ke Jalan jenderal Sudirman, rute berjarak 12 Km itu misalnya. Di hari Senin pukul 8.00 pagi, rute tersebut membutuhkan waktu tempuh antara 28 menit hingga 1 jam 10 menit.

Pada pukul 14.00 di hari yang sama, waktu tempuh rute tersebut membutuhkan 26 menit hingga 1 jam 5 menit. Namun, pada hari Minggu pada pukul 8.00 rute tersebut cuma memakan waktu antara 24 menit hingga 50 menit. Pada pukul 14.00 hanya memakan waktu antara 24 menit hingga 50 menit.

Baca juga: Lampu Lalu Lintas: dari London Lalu Menyebar ke Seluruh Dunia

Di atas kertas, kondisi hari libur atau akhir pekan memang membuat waktu tempuh kendaraan di Jakarta lebih singkat, yang dipicu karena berkurangnya aktivitas di jalan. Bagaimana dengan musim liburan seperti libur anak sekolah, Natal dan Tahun Baru yang sudah di depan mata?

Bila mengacu dari data BPS maupun catatan Google Maps, harusnya kemacetan lalu-lintas di jalan-jalan Jakarta lebih berkurang. Alasannya karena aktivitas bersekolah sudah tak ada di jam-jam padat, dan beberapa pekerja sudah mengajukan cuti untuk liburan keluar kota saat Natal dan Tahun Baru.

Namun, perlu diingat kemacetan di Jakarta yang jadi santapan sehari-sehari para warga maupun komuter itu hanya berpindah ke tempat-tempat dan kawasan wisata, terutama di luar Jakarta. Persis mengulang yang terjadi saat libur Lebaran yang terjadi, kala jalan-jalan di Jakarta jadi lengang untuk beberapa hari saja. Dan saat aktivitas kembali normal, kemacetan Jakarta akan datang lagi.

Baca juga artikel terkait KEMACETAN atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Mild Report)

Reporter: Ahmad Zaenudin
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra
DarkLight