Apakah Benar Udara Jakarta Semakin Baik saat Libur Lebaran?

Apakah Benar Udara Jakarta Semakin Baik saat Libur Lebaran?
Peta polusi Jakarta dan sekitarnya. Foto/www.lightpollutionmap.info
30 Juni, 2017 dibaca normal 2 menit
Sebuah foto yang viral di media sosial menunjukkan ketika Jakarta ditinggalkan mayoritas para pemudik bikin udara kota menjadi lebih bersih. Benarkah?
tirto.id - Sebuah gambar yang diunggah Amadeus Pribowo di akun Facebook dia menjadi viral dan jadi perbincangan warganet. Pribowo memotret panorama Jakarta dari balkon apartemennya dalam rentang waktu berbeda, saat 24 Juni (H-1 Lebaran), 25 & 26 Juni (saat Lebaran), dan 27 Juni (H+1).

"This is what happens to the sky of Jakarta before, during, and after Lebaran when most of the city's inhabitants are on vacation," tulisnya dalam keterangan foto. Inilah yang terlihat di langit Jakarta sebelum, saat, dan sesudah Lebaran ketika banyak penduduknya berlibur, kata Pribowo.

Apakah Benar Udara Jakarta Semakin Baik saat Libur Lebaran?
Tangkapan layar atas foto dari Facebook Amadeus Pribowo, 27 Juni pukul 9:51. 
Dalam foto tersebut, sebagaimana terlihat di atas, ada perbedaan mencolok. Saat H-1 dan Lebaran hari pertama, kondisi langit Jakarta amat berkabut. Berbeda dari H+1 dan H+2 ketika jarak pandang teramat luas hingga rentetan pegunungan di daerah selatan seperti Gunung Salak, Gunung Gede dan Pangrango bisa terlihat dari Jakarta.

Foto yang diunggahnya memancing perdebatan. Apakah betul ketika libur Lebaran saat hampir ratusan ribu penduduk Jakarta pergi mudik, udara dan langit Kota Jakarta semakin lebih baik?

Argumen ini bisa dianggap logis mengingat libur Lebaran membikin jalanan Jakarta lengang. Jutaaan kendaraan bermotor, yang jadi biang polusi Jakarta, untuk sementara waktu digarasikan dulu atau dibawa pulang ke kampung halaman.

Untuk membuktikan udara Jakarta menjadi lebih baik ketika Lebaran, kita bisa memakai data Air Quality Index yang bisa diakses di internet. Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Pemprov DKI Jakarta sebetulnya memiliki data ini, tetapi hanya bisa diakses lewat daring secara terbatas, tidak merekam rincian hari per hari yang bisa simultan setahun ke belakang.

Untungnya, pemerintah Amerika Serikat mengoperasikan dua alat pemantau kualitas partikel udara PM 2.5 yang dipasang pada dua Kantor Kedubes di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan.

Dua alat ini secara terus-menerus setiap jam mengumpulkan data kualitas partikel udara di Jakarta. Dan dibandingkan alat yang dimiliki KLH, alat punya Kedubes ini lebih canggih dan yang terpenting: bisa diakses oleh publik.

Berhubung Amadeus Pribowo memakai sampel Jaksel pada fotonya, data yang kita pakai adalah pos pemantauan di gudang Kedutaan AS di Jalan Hang Jebat, Kebayoran Baru.

Jika merujuk rekaman data milik Kedubes pemerintah AS tersebut, apa yang diperlihatkan Pribowo benar adanya: Udara Jakarta cenderung lebih baik selama libur Lebaran.

Terhitung 4 hari sebelum Lebaran, 20-24 Juni, Indeks rerata AQI mencapai 113; artinya termasuk ke dalam kategori 3: udara tidak disarankan bagi kelompok sensitif alias mereka yang punya penyakit pernapasan. Pada rentang waktu itu bahkan rerata angka AQI mencapai 163 (kategori 4: udara tidak sehat).

Ekses udara tidak sehat pada 24 Juni atau H-1 terlihat hingga saat Lebaran. Foto Pribowo pada hari Lebaran menunjukkan udara Jakarta masih berkabut. Dari data Kedubes AS, pada 25 Juni itu, sejak pukul 2 dini hari hingga 10 pagi, udara Jakarta masih berstatus "bahaya". Namun, memasuki pukul 11 hingga 1 siang, statusnya turun menjadi "sedang".

Dan setelahnya barulah kadar polusi udara Jakarta turun drastis menjadi "bagus". Ia bertahan cukup lama hingga 53 jam sampai 27 Juni (H+2) pukul 6 sore.

Jika direrata, saat hari normal, nilai indeks AQI udara Jakarta berkisar 120-160. Namun, pada H-0 hingga H+2, indeks polutan anjlok drastis menjadi 11,11.

Jika merujuk pada data pemantauan cuaca sepanjang tahun, capaian indeks polutan pada libur Lebaran kali ini adalah yang terbaik.

Sebelumnya, tidak pernah ada status udara "bagus" di langit Jakarta yang bertahan hingga 2-3 hari sepanjang 2017, sekalipun ada rangkaian hari libur, misalnya pada April lalu. (Nilai AQI ketika libur Wafat Isa Al-Masih 100,63, Isra Mikraj 94,65, dan Hari Buruh 85,83)

Apakah setiap libur Lebaran kondisi polusi Jakarta sebagus tahun ini? Tidak juga. Libur lebaran tahun lalu, misalnya, narasi yang muncul malah berbeda. Rerata AQI H-0 hingga H+2 pada Idulfitri 2016 berkisar 111,97, termasuk dalam kategori 3 alias berbahaya bagi orang dengan penyakit pernapasan.

Konklusi dari data-data di atas: benar bahwa libur Lebaran kali ini indeks polutan Jakarta memang turun drastis, tetapi ini bukan jaminan bahwa libur Lebaran berikutnya hal baik macam ini akan terus berlanjut.

Baca juga artikel terkait HARI RAYA IDUL FITRI atau tulisan menarik lainnya Aqwam Fiazmi Hanifan
(tirto.id - wam/fhr)

Keyword