Apakah Kita Bisa Hidup di Mars?

Oleh: Arman Dhani - 8 Oktober 2016
Dibaca Normal 3 menit
Di masa lalu, manusia-manusia yang sudah punya peralatan transportasi melakukan ekspedisi ke bagian bumi lain. Kini yang dijajal adalah kemungkinan melakukan ekspedisi ke planet lain, termasuk Mars. Tapi apakah kita bisa hidup di Mars?
tirto.id - The Upstairs punya lagu indah berjudul “Apakah Aku Berada di Mars atau Mereka Mengundang Orang Mars?” Dalam lagu itu, berada di Mars seakan hal yang jauh dari kenyataan. Tapi sesungguhnya saat lagu itu dirilis sudah banyak upaya dilakukan agar manusia di bumi bisa bermigrasi—setidaknya melancong—ke Planet Merah itu. Pertanyaannya, bisakah kita hidup di Mars?

Antonio Paris, Profesor astronomi dari St. Petersburg College, menjawab manusia bisa hidup di planet Mars dengan beberapa catatan. Dalam jurnal berjudul “Physiological and Psychological Aspects of Sending Humans to Mars” yang dimuat di Washington Academy of Sciences Journal, Paris menulis bahwa perbedaan kondisi geografis dan gravitasi antara bumi dan Mars membuat manusia perlu beradaptasi segera.

Tubuh manusia sendiri mempunyai sistem yang secara otomatis mendeteksi dan merespons perubahan dramatik lingkungan yang ada di sekitarnya. Tapi ada dua aspek penting yang mesti diperhatikan ketika kita hendak mengirim seseorang ke Mars, yakni aspek fisik dan aspek psikis.

Aspek fisik terdiri dari kesiapan manusia menghadapi radiasi, adaptasi sistem cardiovaskular di luar angkasa, sistem neurosensory di luar angkasa, adaptasi otot dan tulang, serta potensi rusaknya daya lihat kita di luar angkasa akibat perubahan lingkungan.

Tubuh manusia akan mengalami perubahan saat melakukan proses adaptasi, kekuatan tulang dan otot akan berkurang karena terpapar gravitasi nol dalam jangka waktu lama, dan tubuh akan mengalami kerusakan sel karena proses ionisasi radiasi kosmik.

Aspek-aspek fisik ini memang bisa diantisipasi dengan alat tambahan seperti kaca mata, ruangan bertekanan tinggi, atau pakaian luar angkasa. Tetapi tak demikian halnya dengan aspek psikis.

Manusia yang dikirim ke luar angkasa akan mengalami perubahan yang signifikan, terutama perubahan perilaku dan komunikasi sosial di luar angkasa. Hidup di luar angkasa sama dengan hidup di dalam isolasi. Menurut Profesor Paris, risiko terbesar adalah gangguan mental karena terlalu lama hidup di luar angkasa.

Pergi ke luar angkasa bisa menyebabkan kecemasan, depresi, keterasingan, perasaan kesepian, dan tekanan tinggi karena pekerjaan. Jika dibiarkan, hal ini bisa mengganggu kerja dan relasi sesama astronot saat melakukan ekspedisi ke Mars.

Dampak buruk depresi dan gangguan mental pada tubuh manusia memang bisa sangat berbahaya, apalagi jika terjadi di luar angkasa. Ia bisa menyebabkan kelelahan, insomnia, sakit kepala akut, masalah pencernaan, dan agresi/kemarahan tak terkendali.

Penyebab depresi macam-macam. Hidup di luar angkasa berarti komunikasi terbatas hanya dengan orang yang itu-itu saja. Beban pekerjaan sebagai astronot juga menuntut konsentrasi tinggi, sementara komunikasi dengan orang-orang tersayang di planet bumi adalah kemewahan yang tak bisa dilakukan setiap hari.



Pemerintah Amerika Serikat melalui NASA telah meneliti bagaimana hidup di luar angkasa berpengaruh terhadap kondisi kejiwaan manusia. Maka, mereka menyusun antisipasi untuk mengatasi kemungkinan gangguan kejiwaan di luar angkasa.

Program penangkal dimaksudkan agar mereka yang hidup di luar angkasa bisa hidup dengan baik dan mengurangi kemungkinan gangguan kejiwaan karena tekanan kerja. Beberapa tawaran program seperti olahraga fisik, penggunaan waktu luang untuk hal-hal kreatif, dan anjuran agar astronot membuat catatan harian sebagai refleksi.

Sebelum melakukan perjalanan ke Mars, setiap kru yang hendak pergi juga harus melakukan persiapan, latihan, untuk membangun mental dan fisik yang kuat. Sebab perjalanan ke Mars jauhnya sangat sekali berbeda dengan jarak bumi ke bulan. Jika tubuh, mental, dan teknologi telah siap maka manusia mesti memikirkan bagaimana cara untuk bisa hidup di Mars.

Menurut Stephan Petranek, editor majalah teknologi di Amerika Serikat, ada beberapa hal fundamental yang perlu dipersiapkan oleh kita setelah menetap di Mars. Yang pertama adalah bagaimana kita mengelola air minum. Meski tampak gersang, planet Mars sebenarnya memiliki banyak sumber air, kebanyakan ada di bawah tanah. Jika kita sudah memiliki akses terhadap air, maka kita bisa hidup dan memikirkan elemen kebutuhan dasar lainnya.

Kebutuhan lain yang kita butuhkan saat berada di Mars adalah makanan. Tanaman hidroponik memungkinkan kita untuk menumbuhkan tanaman pangan. Jika kita belum memiliki sumber air di Mars, maka kita perlu bergantung pada sumber makanan kering.

Setelah makanan, yang perlu disediakan adalah tempat tinggal. Permukaan Mars memiliki radiasi matahari yang lebih berbahaya daripada bumi, belum lagi radiasi sinar kosmik. Maka tempat tinggal mesti melindungi kita dari semua itu.

Sebagai tempat tinggal, kita perlu memiliki gedung yang bisa mengatur tekanan dan gravitasi. Jika tempat tinggal dibawa dari bumi, maka ia harus bisa langsung digunakan begitu mendarat di Mars.

Pilihan lain adalah mencari gua atau membangun tempat tinggal dari sumber daya yang ada di sana. NASA sudah menemukan cara untuk membuat bata dari sumber daya yang ada. Tapi pilihan ini semestinya menjadi pilihan terakhir karena memakan banyak tenaga.

Soal pakaian juga tak bisa sembarangan. Di bumi kita bisa memakai pakaian apa saja, mulai dari jersey Persib sampai burkini. Namun di Mars pilihan fashion kita terbatas. Di sana hampir tak ada gaya gravitasi. Namun bukan berarti kita harus memakai baju antariksa sepanjang hari sepanjang tahun. Peneliti MIT, Dava Newman, menemukan pakaian yang ia sebut BioSuit yang membantu kita untuk bisa hidup di Mars. Ia dilengkapi penghangat dan pencegah radiasi.

Setelah tinggal beberapa dekade di Mars, tugas umat manusia di sana adalah mengubah lanskap planet itu agar bisa ditinggali seperti bumi. Mengakali seluruh planet agar bisa dihidupi memang terdengar jemawa, tapi teknologi sudah bisa membuat itu terjadi.

Menurut Stephan Petranek, hal pertama yang dilakukan adalah membuat Mars menjadi lebih hangat. Dengan mencairnya karbondioksida di kutub Mars, suhu planet itu akan berubah dalam waktu 20 tahun. Tapi apakah iya segampang itu?

Dina Spector dari Business Insider menjawab: tidak. Mars adalah planet yang dingin, penuh padang pasir, sedikit oksigen dan gaya gravitasi yang sangat rendah. Rata-rata temperatur -64º Fahrenheit atau -53º Celsius, sementara saat paling panas mencapai 80º Farenheit atau 26º Celcius. Itu suhu di bagian ekuator, sementara di bagian lain bisa jadi jauh lebih dingin daripada itu.

Bagaimana, Anda tertarik ikut ekspedisi ke Mars dan tinggal di sana?

Baca juga artikel terkait PLANET MARS atau tulisan menarik lainnya Arman Dhani
(tirto.id - Indepth)

Reporter: Arman Dhani
Penulis: Arman Dhani
Editor: Maulida Sri Handayani
Artikel Lanjutan