Apa yang Membuat Rupiah Fluktuatif dan Sempat Terbaik di Asia?

Oleh: Damianus Andreas - 9 November 2018
Dibaca Normal 2 menit
Peluang bagi The Fed menaikkan suku bunga acuannya secara berkala membuat pelaku pasar kembali beralih ke dolar AS. Apa pengaruhnya bagi rupiah?
tirto.id - Pergerakan nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta melemah. Pada Jumat pagi (9/11/2018) angkanya menguat 75 poin menjadi Rp14.555 per dolar AS dibanding posisi sebelumnya Rp14.480.

Sebagai pembanding, dalam tiga hari terakhir, rupiah menunjukkan tren menguat, bahkan sempat jadi yang terbaik di Asia.

Analis senior CSA Research Institute Reza Priyambada mengatakan pergerakan rupiah terhadap dolar AS cenderung mulai tertahan jelang pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada Desember. Menurutnya, peluang bagi the Fed untuk menaikkan suku bunga acuannya secara berkala membuat pelaku pasar kembali beralih ke dolar AS.

“Pengetatan moneter di Amerika Serikat masih terus berlangsung hingga tahun mendatang,” kata Reza seperti dikutip Antara, Jumat (9/11/2018).

Sementara di sisi lain, kata Reza, penguatan rupiah dalam beberapa hari terakhir ini juga turut dimanfaatkan oleh sebagian pelaku pasar untuk mengambil untung.

Data Kurs Referensi Jakarta Interbank Sport Dollar Rate (JISDOR) menunjukkan, sejak awal November kurs rupiah terhadap dolar AS memang menunjukkan tren positif, bahkan terbaik di Asia. Berdasarkan data Bloomberg, pada Kamis malam, penguatan rupiah hanya kalah dari Korea Selatan yang menyebut mata uang won mengalami penguatan tertinggi, mencapai 0,59 persen.

Sementara rupiah tercatat menguat sebesar 0,35 persen. Pada posisi selanjutnya, penguatan juga dialami peso Filipina dengan nilai sebesar 0,25 persen, rupee India 0,17 persen, dolar Singapura sebesar 0,04 persen, dan dolar Hong Kong 0,04 persen.


Di sisi lain, mata uang ringgit Malaysia malah melemah 0,01 persen, yen Jepang melemah 0,13 persen, yuan Cina melemah 0,17 persen, dan baht Thailand tercatat mengalami minus 0,27 persen.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai penguatan mata uang rupiah ini dipengaruhi sejumlah sentimen, antara lain: rencana pembicaraan perdagangan antara Amerika Serikat dengan Cina, hasil pemilu sela di AS, serta harga minyak dunia yang menunjukkan tren penurunan.

Namun demikian, Josua menekankan penguatan rupiah yang signifikan dibandingkan mata uang negara-negara lain di Asia sangat dipengaruhi faktor fundamental perekonomian dalam negeri. Ia menilai investor masih melihat Indonesia memiliki fundamental perekonomian yang baik serta menarik untuk dilirik.

“Dari dalam negeri juga ada [faktor] penerapan DNDF (Domestic Non Deliverable Forward) yang cukup berhasil. Dengan permintaan yang cukup banyak sejak hari pertamanya, [DNDF] ini bisa menekan dolar AS dengan sendirinya,” kata Josua kepada reporter Tirto, pada Kamis (8/11/2018).

Josua melihat kembalinya dana-dana asing itu sifatnya lebih permanen. Apabila kondisi perekonomian di dalam negeri bisa terus terjaga seperti sekarang, maka Josua mengatakan antisipasi terhadap gejolak global bisa lebih ditingkatkan mengingat fundamental perekonomian yang kian membaik.

“Momentum yang bisa dimanfaatkan adalah bagaimana pemerintah dan Bank Indonesia (BI) bisa fokus pada defisit transaksi berjalan yang harus ditekan. Karena ini salah satu potensi risiko dalam negeri,” kata dia.


Hal senada diungkapkan ekonom dari BCA David Sumual. Ia mengatakan defisit transaksi berjalan bisa dianggap titik lemah perekonomian Indonesia. Ia pun menilai apabila penguatan mata uang rupiah yang signifikan dibandingkan negara-negara lain di Asia sangat dipengaruhi keyakinan investor yang melihat perekonomian Indonesia baik-baik saja.

“Dibandingkan negara-negara lain dengan fundamental perekonomian yang mirip, mata uang rupiah relatif murah. Itulah kenapa jadi banyak yang masuk. Dalam beberapa hari terakhir, investor asing memang lebih sedikit dominan di pasar obligasi,” kata David saat dihubungi reporter Tirto.

Faktor murahnya mata uang rupiah itulah yang kemudian dinilai David sebagai bentuk strategi perdagangan di pasar saham. Ia menyebutkan banyak investor dengan valuasi besar yang memutuskan untuk masuk pasar obligasi domestik, mengingat mata uang rupiah beberapa waktu lalu tidak semurah saat ini.

“Titik lemah pada defisit transaksi berjalan itu bisa jadi alasan investor untuk keluar. Di samping perlu adanya antisipasi terhadap sejumlah faktor lain, seperti perang dagang yang berhenti atau kenaikan suku bunga the Fed yang terus berlangsung,” kata David.

Baca juga artikel terkait NILAI TUKAR atau tulisan menarik lainnya Damianus Andreas
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Damianus Andreas
Penulis: Damianus Andreas
Editor: Abdul Aziz