Menuju konten utama

Antisipasi Abrasi Susulan, BMKG Intensifkan Alat Pengamatan Cuaca

BMKG pasang peralatan pengamatan cuaca otomatis dan alat pengamatan cuaca portable otomatis hingga portable digital seismometer di seluruh Sulut.

Antisipasi Abrasi Susulan, BMKG Intensifkan Alat Pengamatan Cuaca
15 Rumah, 1 Jembatan, dan 1 Penginapan Amblas Akibat Abrasi di Kabupaten Minaha Selatan Sulut. foto/Dok. BNPBB

tirto.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengintensifkan alat pengamatan cuaca untuk memperkuat deteksi dini kecuacaan di tengah potensi bahaya abrasi susulan di Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto mengatakan ratusan peralatan BMKG tersebar di seluruh Sulut.

“Salah satu alat yang dipasang adalah peralatan pengamatan cuaca otomatis atau AWS [automatic weather station], yang sudah lama beroperasi dan terpasang di halaman depan Kantor Bupati Minahasa Selatan,” terang dia di sela rapat koordinasi di Kantor Bupati Minahasa Selatan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dari rilis BMKG yang diterima Tirto pada Sabtu (18/6/2022) malam.

Kemudian seusai melakukan rapat koordinasi di Kantor Bupati Minahasa Selatan, rombongan BNPB dan BMKG melakukan peninjauan di lokasi abrasi dan mengunjungi posko pengungsi.

Guswanto menambahkan bahwa tim juga sudah membawa beberapa peralatan portable automatic weather station (PAWS) atau pengamatan cuaca otomatis yang bersifat portabel, sehingga bisa dipasang di lokasi yang ditinjau.

Dia juga menyebut BMKG akan melakukan kajian lanjutan dan memasang portable digital seismometer (PDS) untuk mengukur frekuensi natural atau periode dominan di dekat lokasi abrasi. Kepala Pusat Meteorologi Maritim BMKG, Eko Prasetyo yang turut mendampingi Guswanto juga memberi imbauan kepada masyarakat pesisir agar waspada dan menyiapkan upaya adaptasi mitigasi terhadap lima bahaya pesisir.

Lima bahaya yang bisa mengancam masyarakat pesisir, beber dia, meliputi banjir rob atau banjir pesisir, abrasi, gelombang tinggi, badai, dan tsunami. “Masyarakat pesisir wajib memahami kondisi topografi lingkungannya,” kata Eko.

Sebelumnya, Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto mengungkapkan sampai saat ini ada sekitar 133 kepala keluarga (KK) yang mengungsi dan 41 rumah yang terbawa air akibat abrasi di pesisir Pantai Boulevard, Kelurahan Bitung dan Kelurahan Uwuran Satu, Kecamatan Kepulauan Amurang, Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) pada Rabu (15/6/2022) pukul 14.00 Waktu Indonesia bagian Tengah (WITA).

“Ada sekitar 133 kepala keluarga yang terpaksa mengungsi, rumahnya habis terbawa air. Sampai saat ini terdata ada 41 rumah yang terbawa air dan laporan dari tadi pagi juga masih ada,” tutur dia dalam konferensi pers bertajuk “Perkembangan Penanganan Abrasi Pantai”, yang disiarkan langsung via Instagram BNPB Indonesia, @bnpb_indonesia pada Jumat (17/6/2022) sore.

Suharyanto juga mengeklaim bahwa mereka sudah meninjau langsung ke lapangan. “Dan memang kondisinya masih belum aman,” ucap dia.

Baca juga artikel terkait ABRASI MINAHASA SELATAN atau tulisan lainnya dari Farid Nurhakim

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Farid Nurhakim
Penulis: Farid Nurhakim
Editor: Restu Diantina Putri