11 Juni 1983

Ancaman Kebutaan, Badai, dan Gempa Saat Gerhana Matahari Total 1983

Kontributor: Chris Wibisana - 11 Jun 2022 00:00 WIB
Dibaca Normal 5 menit
Peringatan keras pemerintah tanpa disertai penjelasan cara melihat gerhana secara aman membuat peristiwa ilmiah ini dianggap sebagai momentum musibah.
tirto.id - Ibu saya belum genap berusia sepuluh tahun saat Gerhana Matahari Total (GMT) 1983 mulai menjadi pembicaraan orang-orang. Saat itu ia menyisihkan uang jajannya untuk membeli kacamata karton yang ramai dijual dadakan untuk melihat gerhana.

“Namanya anak kecil, kan, jadi takut waktu orang-orang bilang, ‘Kalau enggak pakai kacamata, nanti bisa buta seumur hidup.’ Jadi, ya, rela-relain beli,” ujarnya seraya terkekeh.

Harga satu buah kacamata karton dibanderol Rp3.000—jumlah yang sangat besar, mengingat sehari-hari, ibu saya hanya diberi saku Rp200 oleh orang tuanya. Tetapi demikianlah, antusiasme anak sekolah dasar yang larut dalam animo, menjadikan uang tabungan dua minggu yang amblas untuk sebuah kacamata karton tidak terasa berat.

Ketika hari gerhana tiba, ia masih berangkat sekolah seperti biasa. Saat jam istirahat pertama, sekitar pukul sembilan atau sepuluh, kegelapan mulai terasa. Lampu di ruang-ruang kelas dinyalakan. Tidak ada kebijakan kompak dari kepala sekolah menjadikan guru di setiap kelas berimprovisasi.

“Ada kelas yang boleh keluar semua, ada yang tinggal di dalam. Mama termasuk boleh keluar, karena sudah kelas empat. Lihatnya sebentar saja, sekitar 10 detik pakai kacamata, habis itu kita masuk lagi. Gelapnya lumayan lama, sekitar 10 menit.”

Sampai saat bercerita kepada saya, ibu masih tidak percaya betapa naifnya dia saat terpedaya bujuk rayu penjual kacamata karton. “Kacamata tiga ribu [seharga] uang jajan dua minggu, dan taunya cuma kepakai 10 detik.”

Tidak ada yang istimewa dari “gelap sesaat” yang terjadi pada Sabtu pagi itu. Baru pada hari Senin sehabis upacara, teman-teman sepermainannya menjadi pusat rumpi dadakan. Cerita yang hangat dibicarakan adalah efek gerhana yang dibumbui macam-macam cerita. “Ada yang bilang kakaknya si anu buta, adiknya si itu sampai demam dan sakit kepala, tantenya si siapa masuk rumah sakit, wah, seram-seram ceritanya. Mama cuma ketawa-ketawa saja, karena enggak masuk akal semua,” pungkasnya.


Menjadi Komoditas

Meski sudah berlalu 39 tahun, ingatan ibu saya tidak terlalu meleset jika dibandingkan dengan dokumentasi surat kabar yang gencar mengulas persiapan, detik-detik, hingga peristiwa pascagerhana. Agak sedikit mundur, ibu bercerita bahwa ia mulai membaca persiapan gerhana di koran sekitar awal Juni. Namun, berita tersebut sejatinya sudah terbit sejak pertengahan Mei 1983 atau satu bulan sebelum gerhana.

Harian KOMPAS edisi 15 Mei 1983 memberitakan Soeharto telah memerintahkan Menteri Penerangan saat itu, Harmoko, untuk mempersiapkan TVRI dan RRI untuk memublikasikan peringatan bahaya melihat gerhana secara langsung. Tidak hanya itu, Kementerian Penerangan pun diminta mempercepat penerbitan buku petunjuk yang secara luas didistribusikan ke redaksi berbagai surat kabar dan sekolah.

Beberapa waktu sebelumnya, saat gerhana dikonfirmasi akan melewati wilayah Indonesia, sejumlah ahli mata sudah memperingatkan bahaya solar retinopathy akibat paparan sinar matahari saat menatap gerhana secara langsung. Namun, peringatan keras Soeharto dinilai ikut memengaruhi persepsi publik, sehingga peristiwa ilmiah itu justru dianggap momentum musibah. Selain itu, larangan Soeharto tidak disertai penjelasan cara melihat gerhana secara aman.

“Larangan tanpa penjelasan hanya menyesatkan. Adanya gagasan untuk memberi perlindungan pada kandang Kebun Binatang Gembira Loka karena takut binatangnya akan buta [jelas] terlalu berlebihan,” ujar Bambang Hidayat, wakil ketua Panitia Nasional Gerhana Matahari dari LIPI.

Ketakutan akan dampak kebutaan pun berefek domino dengan macam-macam kebijakan di daerah yang tidak satu suara. Pemerintah Kabupaten Karanganyar, misalnya, meminta warga menutup kaca jendela rumah agar tidak dimasuki sinar matahari sewaktu gerhana terjadi. Sementara Kapolda Jawa Tengah memerintahkan gelaran tradisional seperti memukul lesung dan kentongan dilakukan dari rumah masing-masing dan tidak diarak keliling desa. Mitos yang kemudian ikut tersebar meminta agar ibu-ibu hamil bersembunyi di kolong tempat tidur. Sementara beberapa desa memerintahkan warga menguras kolam dan sumur, agar pantulan gerhana yang tidak sengaja terlihat di permukaan air tidak mengakibatkan kebutaan.

Sisi lain dari pengumuman persiapan GMT 1983 adalah komodifikasi peristiwa tersebut untuk berbagai produk, mulai dari kacamata, teropong, buku, hingga lampu neon. Pemerintah provinsi Jawa Tengah sebagai wilayah yang akan memiliki titik penglihatan paling banyak di Indonesia juga memanfaatkan GMT untuk mendongkrak pariwisata. Tak kepalang tanggung, mereka mempunyai ekspektasi hingga 11.000 tamu mancanegara yang akan datang, mulai dari astronom, fisikawan, maupun turis.

Dengan alokasi dana Rp20.000.000 dari APBN dan Rp15.000.000 dari APBD, pemerintah daerah tingkat dua se-Jawa Tengah menyiapkan fasilitas akomodasi, cenderamata, hingga kuliner khas daerah masing-masing. Harian Sinar Harapan edisi 1 Juni 1983 antara lain memberitakan persiapan pembunyian kentongan beramai-ramai saat matahari mulai tertutup awan.

Namun, bermacam persiapan pemerintah Jawa Tengah harus terbentur kenyataan. Terhitung 26 Mei 1983, hanya 169 tamu yang dipastikan berkunjung ke Jawa Tengah, yang sebagian besar adalah turis domestik dari Yogyakarta dan Surabaya. Jumlah astronom menjadi yang terbanyak, dengan 94 orang yang tersebar di sejumlah titik pengamatan.

“Dari tiga lokasi pengamatan yang disiapkan, dua dibatalkan. Hanya satu di Pedalangan, selatan Semarang, yang akan dibuka,” ujar Suwarsono, Sekretaris Humas Kota Semarang, seperti dicatat KOMPAS, 4 Juni 1983. Hal ini diperparah insiden pengusiran 10 astronom Spanyol pada 8 Juni dari hotel milik swasta di Cepu, akibat miskomunikasi antara pemerintah Blora dan manajemen. Biaya yang dikenakan pada rombongan astronom tersebut menjadi tiga kali lipat tarif normal, padahal mereka tidak menyiapkan biaya akomodasi yang seharusnya ditanggung pemerintah.


Dihantam Badai dan Gempa

Kocar-kacir persiapan Jawa Tengah menyambut GMT ditengarai karena lemahnya koordinasi antardepartemen, selain karena luasnya bidang kerja yang tidak sesuai dengan jumlah sumber daya manusia yang dimiliki. Di samping itu, para pengamat dan astronom memilih berkumpul di Tanjung Kodok, Lamongan, Jawa Timur sebagai lokasi yang diperkirakan akan menjadi titik optimal mengabadikan GMT 1983.

Berbeda dengan langkah Jawa Tengah yang bersiap memanfaatkan jumlah tamu untuk kepentingan pariwisata, Gubernur Jawa Timur, Soenandar Prijosoedarmo, memerintahkan agar kawasan Tanjung Kodok bersih dari wisatawan sehingga para astronom dapat melaksanakan persiapan dan pengamatan lebih fokus dan leluasa. Menurut Sinar Harapan edisi 10 Juni 1983, titik observasi Tanjung Kodok sudah ditempati rombongan astronom dari Amerika Serikat, Jerman Barat, India, dan Belanda, dengan penjagaan ketat dari pihak Kabupaten Lamongan.

Meski persiapan infrastruktur untuk observasi sudah dikerjakan serinci mungkin, cuaca menjelang GMT tetap menjadi faktor yang tak bisa diprediksi, antara lain awan kumulonimbus yang cukup tebal yang mulai terlihat di langit Jawa sejak pagi hari 10 Juni 1983. Kecemasan ilmuwan semula hanya menganggap awan tebal berpotensi menghalangi penglihatan gerhana dari teleskop yang sudah dipasang. Nyatanya, yang terjadi lebih dahsyat dari perkiraan: hujan angin disertai badai tiba-tiba menerjang Tanjung Kodok pada 10 Juni pagi, sekitar pukul 10.10 WIB.

Puluhan bangunan pondok semipermanen yang dipersiapkan sebagai pos observasi seketika porak-poranda. Dua pos observasi yang ditempati tim astronom Belgia dan India mengalami kerusakan paling parah.

“Tak ada lagi yang dapat saya sampaikan. Kami tinggal menunggu, mudah-mudahan cuaca esok lebih baik,” tukas Dr. Morris Aizenman, koordinator astronom Amerika Serikat.

“Tak ada yang luput. Semuanya basah,” timpal Milind Upadhiye, anggota tim observasi dari India.

Infografik Mozaik Gerhana Matahari Total
Infografik Gerhana Matahari Total 1983. tirto.id/Tino


Sabtu pagi, 11 Juni 1983, sejumlah instruksi pusat dikeluarkan. Ditjen Perhubungan Udara memerintahkan sebelas bandar udara ditutup 30 menit dan menunda jadwal penerbangan saat gerhana. Dua ratus kru TVRI dipersiapkan di sejumlah titik observasi untuk menyiapkan siaran langsung detik-detik gerhana matahari total. Masyarakat diminta tidak keluar dari rumah selama gerhana terjadi, dan hanya menyaksikan siaran RRI dan TVRI. Sejumlah ruas jalan di jalur pantai utara Jawa ditutup untuk kendaraan umum, sehingga lalu lintas sementara dialihkan melalui jalur tengah. Tak ketinggalan, PT. Telkom diperintahkan untuk menempatkan pesawat telepon dengan Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ) guna kepentingan komunikasi verbal dan pelaporan realtime dari tim astronom ke stasiun pengamatan negara masing-masing.

Beberapa saat jelang gerhana, gempa bumi berkekuatan 5.1 SR mengguncang tiga lokasi pengamatan secara serempak di Tanjung Kodok, Tawangmangu, dan Klaten. Gempa tersebut seakan menjadi pembuka, karena beberapa puluh detik sesudah getaran terhenti, seluruh titik pengamatan berangsur gelap, bulan mulai menutupi matahari secara perlahan dan bertahan selama 10 menit.

Dengan hitungan detik, instrumen nirkabel para astronom mulai bekerja dan mengamati bagian gerhana secara detail, mulai dari korona matahari, prominensia, dan bidang ekliptika. Pukul 11.26, gerhana mencapai totalitasnya dengan seluruh cahaya tertutup bayangan bulan. Saat gerhana mulai bergeser dan cahaya matahari kembali, suasana meriah tak terhindar di Tanjung Kodok. Para astronom yang merampungkan observasi bersorak-sorai karena inilah observasi terindah yang pernah disaksikan. “Absolutely totally successful,” ujar Dr. Aizenman dengan ungkapan superlatif, sebagaimana dikutip KOMPAS Minggu, 12 Juni 1983.


Kisah Wiji

Saat detik-detik gerhana terjadi, di tengah sepi yang mencekam di pelosok daerah yang dilewati gerhana, Wiji merasa tidak perlu menghiraukan semua imbauan dan anjuran yang diumumkan pemerintah. Pagi hari, ia sempat memutar siaran langsung gerhana dari TVRI. Namun, ayah empat anak dari kampung Pekunden, Semarang, penasaran dan ingin melihat gerhana dengan cara lain. Ia menaruh seember air di halaman belakang rumah, berharap dapat melihat refleksi gerhana yang memantul di permukaan air.

Tidak puas karena pantulan gerhana yang kabur, Wiji nekad pergi ke halaman depan rumah meski sudah dicegah orang tua dan istrinya. Ia mencoba menengadah ke arah matahari yang tertutup gerhana. Beberapa saat kemudian, saat bulan mulai bergeser, matahari yang bersinar sangat terang menusuk matanya seperti kilatan blitz, membuat Wiji terhuyung dan jatuh terduduk di halaman rumah. Sempat diberi pertolongan seadanya, penglihatannya tak segera kembali dalam waktu 1 jam. Wiji pun segera dibawa ke Rumah Sakit Dr. Kariadi.

Kasus kebutaan yang dialami Wiji cepat menjadi pemberitaan nasional. Ia adalah satu dari 13 kasus masalah penglihatan yang memerlukan perawatan intensif sesudah melihat langsung gerhana matahari pada 11 Juni 1983. Sementara sejumlah rumah sakit di Yogyakarta turut didatangi ratusan orang yang hendak memeriksakan mata sesudah menatap gerhana tanpa alat khusus.

Menurut Sinar Harapan edisi 14 Juni 1983, sampai Senin siang, 446 orang telah datang ke Rumah Sakit Dr. Sardjito, Yogyakarta, untuk memeriksa keadaan matanya. Empat belas di antaranya dinyatakan mengalami peradangan bagian mata akibat paparan sinar matahari yang dilihat langsung selama 5 sampai 10 menit saat gerhana terjadi. Sebagian besar di antara pasien tersebut adalah anak-anak dan remaja. Jumlah pasien sebanyak itu membuat Rumah Sakit Dr. Sardjito sampai membentuk satuan tugas khusus beranggotakan 12 dokter mata yang bertugas selama 24 jam dari 12 hingga 14 Juni 1983.

Wiji yang semula diduga mengalami kebutaan permanen berhasil selamat dan berangsur pulih sesudah dirawat selama tiga hari. Saat diwawancarai KOMPAS, ia mengaku sudah mendengar peringatan bahaya menatap matahari langsung sejak sebelum gerhana. “Tapi saya ingin membuktikan sendiri apa betul-betul berbahaya. Sekarang saya sudah kapok. Masih untung tidak buta total,” ujarnya lemah dari atas ranjang perawatan.

Baca juga artikel terkait GERHANA MATAHARI TOTAL atau tulisan menarik lainnya Chris Wibisana
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Chris Wibisana
Penulis: Chris Wibisana
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight