Ancaman Gangguan Mental di Tengah Wabah COVID-19

Ilustrasi gangguan mental. FOTO/iStockphoto
Oleh: Aditya Widya Putri - 31 Maret 2020
Dibaca Normal 4 menit
Tak cuma masyarakat, tenaga kesehatan pun berisiko terkena gangguan mental akibat beban ganda: pekerjaan membludak dan stigma.
Pandemi COVID-19 menjelma teror bagi banyak orang sampai-sampai menimbulkan paranoia massal. Kondisi psikologis dan fisiologis terganggu akibat dibombardir berita tentang wabah ini. Akibatnya muncul gejala semu mirip infeksi SARS-CoV-2 seperti demam, sakit tenggorokan, dan batuk.

Sabtu pekan lalu, Sari, 29 tahun, masih harus menyelesaikan pekerjaan di tengah wabah COVID-19. Ia adalah salah satu karyawan swasta yang tak bisa bekerja di rumah meski setengah populasi Jakarta sudah melakukan pembatasan fisik. Ancaman krisis di tanggal tua nampaknya terasa lebih nyata bagi Sari.

“Aku jadi pakai masker sama bawa sabun plus hand sanitizer kemana pun. Sebisa mungkin higienis karena virusnya makin banyak sementara aku masih kerja di luar,” katanya.

Meski mengaku khawatir ia tetap wara-wiri bertemu klien di berbagai tempat publik di Jakarta. Sampai pada suatu hari ia merasa tidak enak badan. Ia mengalami meriang, gatal di tenggorokan, dan demam. Sari langsung was-was, ia buru-buru mau isolasi diri sebelum akhirnya memutuskan terlebih dulu pergi ke dokter.

“Dok, saya kayaknya demam, saya kena Corona nggak sih?” begitu Sari blak-blakan bertanya pada dokter yang memeriksanya kala itu.


Dokter kemudian mengukur suhu badan dan memeriksa kondisi tenggorokan Sari. Supaya lebih meyakinkan, Sari diminta melakukan rontgen paru-paru dan cek darah, dan hasilnya bagus. Tak ada kondisi abnormal, bahkan suhu tubuhnya masih berkisar di angka 37 derajat celcius. Sambil berkelakar, dokter memintanya lebih santai dan tidak stres menanggapi informasi soal COVID-19.

“Jangan dibawa stres, nanti malah sakit. Yang penting jaga jarak dan rajin cuci tangan,” kata Sari meniru omongan sang dokter.

Sebagian dari kita saat ini mungkin merasakan keluhan serupa Sari, merasa demam, pegal-pegal, dan sakit tenggorokan setelah terpapar berita atau kejadian yang berhubungan dengan infeksi SARS-CoV-2. Reaksi gejala semu ini timbul akibat rasa cemas dan lazim disebut gangguan psikosomatik.

Dilansir dari Britannica, gangguan psikosomatik merupakan kondisi ketika tekanan psikologis memengaruhi fungsi fisiologis (somatik) secara negatif hingga menimbulkan gejala sakit. Hal ini bisa terjadi lantara adanya disfungsi atau kerusakan organ fisik akibat aktivitas yang tidak semestinya dari sistem saraf tak sadar dan respons biokimia tubuh.

Ketika cemas, amygdala, pusat rasa cemas pada otak, merespons dengan mengaktifkan sistem saraf otonom secara berlebihan. Tubuh dibuat seolah sedang menghadapi ancaman sehingga selalu siaga. Akibatnya gejala psikosomatik muncul, denyut jantung dan tekanan darah meningkat, menciptakan rasa sakit di dada.


Stigma Memperparah Gangguan Mental

Pandemi COVID-19 tak cuma memengaruhi kesehatan mental masyarakat umum. Kebijakan pembatasan fisik membikin banyak orang harus beraktivitas tak sebagaimana biasa. Akibat “dirumahkan” banyak masyarakat mulai merasakan penat. Di tingkat kelompok yang lebih tua, kebijakan ini juga berdampak pada penurunan kognitif/demensia, menjadikan mereka lebih mudah cemas, marah, stres, dan gelisah.



Sementara itu tenaga kesehatan bekerja lebih berat akibat jumlah pasien meledak dalam waktu bersamaan. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mengatakan pandemi ini berisiko memunculkan gangguan mental, terutama pada penyintas dan petugas kesehatan. Mereka sangat mungkin terserang depresi, kecemasan, dan gangguan stres pasca-trauma.

Di Indonesia kondisi itu diperparah dengan stigma terhadap penyintas dan tenaga kesehatan. Seperti yang dikisahkan Riki Rachman Permana, 29 tahun, penyintas dari Jawa Barat. Pekerjaan sebagai petugas Imigrasi Bandara Soekarno Hatta membuatnya sering bersentuhan dengan banyak orang dari berbagai penjuru dunia.

Tanggal 14 Maret, ia resmi ditetapkan sebagai pasien positif COVID-19. Namun, sebelum Riki mengetahui hasil tes swab, sebuah pesan beredar menyebarkan data pribadinya, termasuk nama lengkap dan alamat keluarga. Informasi itu kemudian disisipi imbauan untuk menutup hidung atau menggunakan masker apabila melewati kawasan rumah Riki.

“Yang berat bukan melawan penyakit tapi tekanan sosialnya. Ibu saya sampai hari ini enggak berani keluar, bahkan untuk beli bahan pokok,” cerita Riki kepada Tirto beberapa waktu lalu.

Masih menurut CDD, berkaca dari ancaman virus serupa, yakni SARS dan MERS, kedua wabah tersebut nyatanya membawa pengaruh terhadap kehidupan sosial dan ekonomi di Cina. Kesehatan mental masyarakat di sana sempat terganggu akibat respons lambat pemerintah yang menyepelekan epidemi.

“Kepercayaan publik (Cina) terhadap transparansi dan kompetensi pemerintah dalam mengambil keputusan jadi terkikis,” tulis CDC.



Tekanan psikis masyarakat semakin berat ketika negara memutuskan melakukan karantina wilayah. Di saat bersamaan mereka harus menerima informasi meluap dari media sosial, termasuk laporan soal kekurangan pasokan APD, staf medis, dan kapasitas rumah sakit di Wuhan.

Polanya mirip dengan Indonesia. Awal Januari 2020, ketika negara lain tengah bersiap menghadapi ancaman COVID-19, Indonesia malah menggenjot sektor pariwisata. Skenario selanjutnya persis seperti cerita CDC saat Cina menghadapi wabah SARS dan MERS.

Studi lain dari Kaushal Shah, dkk (2020) menganalisis pola gangguan psikis ketika dunia menghadapi wabah SARS dan MERS. Beberapa komorbiditas psikiatrik dilaporkan publik, seperti depresi, serangan panik, kecemasan, bunuh diri, delirium, dan gejala psikotik.

Keluarga pasien MERS harus terisolasi dari masyarakat meski sudah dinyatakan bebas dari penyakit. Sebanyak 25 persen penyintas SARS menunjukkan tanda-tanda gangguan stres pasca-trauma dan 15,6 persen lainnya depresi berat.

Sementara itu di garda depan peperangan melawan wabah ini, tenaga kesehatan juga dibayangi risiko gangguan mental akibat beban ganda merawat pasien dan stigma dari masyarakat. Seorang perawat dari Rumah Sakit Persahabatan yang identitasnya dirahasiakan menuturkan kepada Tirto bahwa ia dan rekan-rekannya kerap distigma akibat diketahui merawat pasien COVID-19.

“Sekarang orang-orang kalau belanja bareng atau papasan sama saya jadi pada tutup hidung dan mulut,” ungkapnya.

Respons tersebut baru ia terima belakangan, sebelumnya semua berlaku biasa saja. Sementara cerita dari sejawat lain tak kalah menyedihkan karena sampai harus pindah indekos lantaran lingkungannya khawatir terjadi penularan virus. Kemudian ada juga anak dari tenaga medis yang dikucilkan dengan alasan serupa.

“Sebenarnya respons sosial semacam itu yang bikin kami mati perlahan, bukan COVID-19,” lanjutnya.

Studi Kaushal Shah, dkk (2020) juga menyebutkan wabah SARS membuat 18-57 persen petugas kesehatan mengalami tekanan emosional pada awal, selama, dan setelah wabah. Stigma publik menyumbang stres kepada tenaga medis.


Mengatasi Gangguan Mental saat Wabah

Meski bersifat semu, gejala gangguan psikosomatik memiliki tingkat sakit setara gangguan fisiologis. Penelitian Edward E. Smith, dkk (2011) pernah mengamati 40 orang responden yang patah hati selama enam bulan. Mereka diminta memandang foto mantan kekasih untuk memunculkan efek penolakan. Kemudian mereka juga diberi rangsangan panas di lengan sebagai parameter sakit fisik.

Hasilnya menunjukkan jaringan otak yang merespons rangsang sensorik fisiologis (rangsang panas) aktif saat melihat foto mantan. Pengukuran MRI menyatakan rasa sakit psikis akibat penolakan mantan setara rasa sakit akibat kulit terbakar. Artinya, otak merespons rasa sakit psikis serupa dengan respons rasa sakit fisik di tubuh.

Kita dapat membedakan gejala psikosomatik dengan ciri-ciri gejala hilang timbul, tidak terus menerus, atau berpindah-pindah. WHO menyarankan beberapa langkah meminimalisir kecemasan yang mempengaruhi kondisi mental di saat wabah. Pertama kurangi paparan berita tentang COVID-19, sebisa mungkin akses sumber berita terpercaya, dan memperbanyak akses ke berita positif.

“Misalnya membaca kisah orang yang pulih atau gerakan dukungan kepada pasien,” begitu WHO menerangkan.

Langkah kedua buat jadwal rutin aktivitas yang harus dikerjakan di rumah, atau lakukan hal baru yang menyenangkan seperti menyanyi atau melukis. Tetap jaga hubungan dengan keluarga dan rekan lewat telepon, video, media sosial, atau email. Terakhir olahraga teratur, jaga pola tidur, dan makan sehat.

Baca juga artikel terkait GANGGUAN MENTAL atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Windu Jusuf
DarkLight