Amblasan Tanah di Jalan Gubeng Surabaya Bukan Sinkhole

Infografik Sinkhole Rev
Foto aerial kondisi tanah ambles di Jalan Raya Gubeng, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (19/12/2018). ANTARA FOTO/Didik Suhartono/wsj.
Oleh: Tony Firman - 20 Desember 2018
Dibaca Normal 3 menit
Sejumlah ahli menyebut, amblasnya tanah di Jalan Raya Gubeng bukan sebagai sebuah fenomena sinkhole.
tirto.id - Pada Selasa (18/12) malam, Jalan Raya Gubeng Surabaya mendadak ables dan membentuk lubang raksasa sedalam hampir 15 meter. Luas jalan ambles di depan toko Elizabeth dan Bank BNI ini mencapai 25 meter, dan memutus seluruh akses jalan Raya Gubeng. Aliran listrik di kawasan itu seketika padam karena jaringan putus.

Menurut saksi mata bernama Rudianto, kejadian terjadi sekitar pukul 21.15. "Saya lihat plakat BNI goyang, pohon, dan tiang listrik juga bergoyang. Orang-orang pada lari dikira gempa bumi," katanya.

Di sisi timur jalan, tepat di seberang toko Elizabeth, terdapat proyek pengerjaan basement RS Siloam. Para pekerja bangunan di Rumah Sakit (RS) Siloam juga ikut berhamburan ketika tanah ambrol. Peristiwa itu segera menjadi tontonan warga sekitar. Dilansir dari Antara, pada Rabu (19/12) pagi sejumlah warga hanya bisa melihat dari jarak sekitar 100 meter dari lokasi amblesnya tanah karena petugas keamanan memasang pembatas berlapis.

Kepolisian Daerah Jawa Timur menduga amblesnya jalan berkaitan dengan proyek pembangunan basement RS Siloam yang berukuran 70 x 70 dengan kedalaman 11 meter. Sampai Rabu (19/12) pagi, kepolisian mengamankan lima pekerja proyek RS Siloam untuk dimintai keterangan.


Untuk mendalami kasus ini, Polda Jatim akan menghadirkan ahli geologi dari Jakarta untuk memastikan penyebab amblasnya tanah. Kepala Polda Jawa Timur, Inspektur Jenderal Polisi Luki Hermawan mengatakan, para ahli geologi tersebut akan membantu sejumlah ahli dari Surabaya dan sebagai proses tindak lanjut penyelidikan kasus tersebut.

Sinkhole?

Apa yang terjadi Jalan Raya Gubeng ini memunculkan sejumlah spekulasi tentang jenis amblasan tersebut. Jika dilihat, amblasan di Gubeng mirip dengan fenomena sinkhole atau lubang runtuhan yang banyak terjadi di belahan bumi lainnya.

Menurut United States Geological Survey (USGS), sinkhole adalah lubang yang terbentuk ketika air terjebak di dalam tanah dan tidak mengalir keluar. Sewaktu air mengalir ke bawah tanah, ia ikut menggerus lapisan dan membentuk rongga gua bawah tanah. Akibatnya lapisan tanah di permukaan amblas ke bawah.

Sinkhole banyak terjadi di daerah dengan banyak batuan di bawah permukaan tanah yang bersifat mudah larut, seperti batuan karbonat, batu kapur atau dolomit.

Dikutip dari Live Science, ahli geologi membagi sinkhole menjadi tiga kategori. Pertama, dissolution sinkhole yang terjadi ketika air hujan perlahan menetes melalui celah batuan dasar dan mengikisnya. Akibatnya, terjadi amblasan yang terbentuk secara perlahan hingga membentuk sinkhole yang menyerupai kolam karena tergenang air.

Kedua, cover-subsidence sinkhole yang bisa terjadi di daerah berpasir yang menutupi batuan dasar. Pasir menerobos masuk ke celah batuan dan secara bertahap menyebabkan permukaan tanah amblas. Tipe ketiga, cover-collapse sinkhole yang muncul ketika air mengikis batuan dasar bawah tanah dan membentuk semacam gua. Ketika beban terlalu berat, maka permukaan akan ambrol ke bawah dan membentuk sinkhole.


Ukuran sinkhole bisa lebih kecil dari satu meter atau lebih besar dari 100 meter. Bentuknya berbeda-beda tergantung jenisnya. Beberapa hanya seperti piring atau mangkuk yang dangkal, tetapi ada pula yang dalam. Beberapa sinkhole membentuk kubangan raksasa layaknya sebuah kolam.

Terjadinya sinkhole tidak selalu karena proses alamiah. Belakangan, faktor manusia ikut berperan dalam pembentukan sinkhole seperti penyedotan air tanah yang masif, terutama di perkotaan, dan aktivitas lainnya yang menyebabkan penurunan muka tanah.

Pada tahun 2010 di Guatemala, sebuah sinkhole menyerupai sumur raksasa terbentuk dengan lebar sekitar 20 meter dan kedalaman 30 meter. Sinkhole ini menelan pabrik setinggi tiga lantai, dan menyebabkan 15 orang tewas. Diperkirakan sinkhole ini disebabkan masuknya air dari Badai Agatha dan kebocoran pipa saluran air.

Di Louisana, Amerika Serikat, 2012 silam, sebuah sinkhole terbentuk hingga membuka penampungan minyak bawah tanah alami. Lubang itu melepaskan gas metana dan hidrogen sulfida ke permukaan. Akibatnya, sekitar 350 penduduk di dekat area tersebut harus mengungsi untuk menghindari gas beracun. Dalam video yang beredar, terlihat bagaimana pepohonan tinggi bisa tertelan ke bawah tanah dan area sekitar sudah terendam air sehingga tampak seperti danau.

Sinkhole terbesar di dunia ada di Cina bernama Xiaozhai Tiankeng. GBTimes menyebut, Xiaozhai Tiankeng di lingkungan batuan kars itu punya diameter 626 meter dan kedalaman 666,2 meter.



Wakil Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Jawa Timur Gentur Prihantono menolak menyebut amblasnya tanah di Jalan Gubeng Raya sebagai fenomena sinkhole. Menurutnya, amblasnya tanah di sana terjadi karena faktor kurangnya kehati-hatian dalam manajemen air di kontruksi pembangunan basement. Menurut Gentur, sinkhole muncul akibat hilangnya lapisan tanah atau bantalan batuan yang umumnya terjadi akibat aliran air di bawah tanah.


Ketika dihubungi Tirto, Adrin Tohari, peneliti dari Pusat Geoteknologi LIPI, menjelaskan ada dua kemungkinan penyebab tanah amblas di Gubeng. Pertama penjenuhan tanah di badan jalan yang menyebabkan peningkatan dorongan terhadap dinding penahan di proyek galian basement. Kedua, struktur dinding penahan proyek basement tidak mampu menahan beban tanah di bawah Jalan Gubeng.

Pembuktian kemungkinan tersebut membutuhkan penelitian lanjutan di lapangan. Namun senada dengan Gentur, Adrin juga menampik kalau amblasan tanah itu adalah sinkhole.

"Kalau seperti itu fenomena kelongsoran, pergerakan tanah, bukan sinkhole. Kalau sinkhole secara kasat mata bisa dilihat seperti lubang sumur. Kalau ini kan kayak bentuk gawir. Longsoran materialnya bergerak ke arah galian (proyek basement) itu," ujarnya, pada Rabu (19/12) petang.

Tim Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) juga menduga tanah amblas tersebut disebabkan karena pengembang mengabaikan keamanan kontruksi saat pembangunan, sehingga terjadi longsor dan meluas menjadi amblasan. Hingga sekarang, tim PUPR masih melakukan pemeriksaan mendalam.

Sedangkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, mengungkapkan bahwa lokasi amblasan memang memiliki konstruksi yang mudah longsor. Tanahnya berkarakteristik aluvial kelabu tua dan mengandung air yang lumayan banyak. Menurut DLH, kontraktor pembangunan basement RS Siloam seharusnya sudah paham karakteristik tanah itu karena tertuang dalam dokumen perizinan.

Baca juga artikel terkait JALAN GUBENG AMBLES atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Tony Firman
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight