Amarah dan Kebencian yang Menghancurleburkan Masjid Babri

Umat muslim melaksanakan Sholat Idul Fitri di Masjid Babri, India yang telah hancur terbakar pada tahun 1992 karena konflik agama di negara tersebut. Doc. Istimewa
Oleh: Petrik Matanasi - 6 Desember 2016
Dibaca Normal 3 menit
Masjid Babri hancur karena sengketa sejarah soal siapa yang lebih dulu berdiri di atas tanahnya. Pelajaran berharga dari India soal relasi mayoritas dan minoritas.
India tidak ubahnya Indonesia: bangsa dengan multi etnis dan agama. Dibandingkan Indonesia, bahkan India menghadapi persoalan yang lebih laten dan keras. Sampai-sampai, India dan Pakistan berpisah pertengahan abad lalu dengan cara yang berdarah-darah karena konflik agama.

Kendati banyak muslim yang migrasi ke Pakistan, namun warga muslim di India masih sangat banyak jumlahnya. Bahkan cukup banyak muslim di Ayodya, kota tua dan bersejarah bagi sejarah India dan orang-orang Hindu.

Di kota itulah berdiri sebuah masjid bersejarah. Hanya saja, masjid itu walau pun bersejarah dan tidak berusia muda, tetap saja berdiri jauh setelah orang-orang Hindu tinggal di sana. Orang-orang Hindu mengklaim masjid tersebut berdiri di atas tanah yang dulunya menjadi tempat sebuah kuil suci yang sangat dihormati. Klaim sejarah inilah yang memicu konflik yang berakhir dengan pembakaran masjid.

Babur Sang Penakluk

Berabad-abad lalu, hiduplah seorang penyair sekaligus seorang jenderal bernama Babur. Konon, penyair ini lahir di hari yang diperingati sebagai hari kasih sayang (Valentine) yaitu 14 Februari 1483. Dia punya nama Islami Zhainuddin Muhammad. Sang jenderal ini rupanya keturunan kelima dari penakluk terkenal Timur Lenk.

Babur sejak berusia 12 tahun sudah menggantikan ayahnya Umar Syaikh Mirza sebagai penguasa Farghana, Asia Tengah. Di usianya yang ke-21 tahun, pada 1504, Babur berhasil menguasai kawasan sekitar Kabul dan Ghazni di Afganistan. Di sanalah ia kemudian mendirikan kerajaan.

Pada 1526, dua dekade setelah menguasai Afganistan, Babur mulai bergerak ke arah India. Mula-mula ia memasuki India Utara. Sultan Dehli Ibrahim Lodi dan panglima gabungan Raja Rajput Rana Sangram Singh berhasil dipecundanginya. Begitu menurut buku Jejak-jejak Islam: Kamus Sejarah dan Peradaban Islam dari Masa ke Masa (2015) karya Ahmad Rofi Usmani.

Setelah mapan menancapkan pengaruh di India, Babur pun mendirikan dinasti Mughal. Ini sebutan untuk dinasti raja-raja Islam yang berkuasa di India bagian utara selama ratusan tahun.

Ketika mulai mapan berkuasa di India, pada 1527, Babur yang cinta Qur'an, ilmu pengetahuan dan sastra ini memerintahkan pembangunan masjid. Salah seorang panglima bawahan Babur, Mir Baqi, diserahi tanggungjawab pembangunan masjid ini. Masjid itu berhasil dibangun dengan cepat dan hasilnya pun memukau.

Masjid ini menjadi yang terbesar di Uttar Pradesh, India. Masjid tinggalan Babur yang meninggal pada 1530 tersebut memiliki tiga kubah besar. Arsitekturnya terpengaruh gaya Jaunpur yang menggunakan batu. Posisi langitnya dibangun tinggi agar ventilasi udara terjaga. Selain itu terdapat enam jendela utama.

Orang-orang mengenalnya juga sebagai Masjid Babri, julukan yang terkait dengan nama Babur. Sebelum 1940, masjid ini juga dikenal dengan nama I Janmasthan yang berarti "tempat kelahiran". Nama itu merujuk kepercayaan orang-orang setempat, khususnya umat Hindu, yang meyakini masjid itu dibangun di kawasan kuil tempat kelahiran Sri Rama, tokoh suci umat Hindu yang dipercaya sebagai titisan Dewa Wisnu.

Profesor Ram Sharan Sharma dalam buklet berjudul Communal History and Rama's Ayodhya menyebut Ayodhya dulunya adalah tempat ziarah Hindu kuno. Ram Sharan, bersama Suraj Bhan, M Athar Ali dan Dwijendra Narayan, membahas bahwa masyarakat, terutama orang-orang Hindu, punya pendapat bahwa kawasan masjid itu dulunya kuil Hindu yang dirusak ketika Babur berkuasa.

Orang-orang Hindu percaya bahwa Mir Baqi, panglima yang ditunjuk Babur memimpin proyek pembangunan mesjid, yang memimpin penghancuran kuil yang dibangun untuk memperingati kelahiran Rama, raja yang memerintah Ayodya.



Penghancuran Masjid Babri

Masjid Babri tidak hancur seketika. Proses merebut lokasi berdirinya masjid mulai menguat sejak India meraih kemerdekaan dari Inggris. Kelompok Hindu garis keras yang selama ini berada di bawah bayang-bayang Inggris mendapatkan momentum untuk memperkuat posisinya. Perseteruan dengan Pakistan, yang memisahkan kedua negara, juga dipicu pasca kemerdekaan India.

Dalam hal sengketa Masjid Babri, pada 1949 potensi kekerasan sudah tampak. Dikabarkan sudah ada usaha memaksa meletakkan patung Sri Rama di dalam masjid. Setelah itu, mereka membangun isu bahwa patung Sri Rama muncul tiba-tiba di dalam masjid. Dan itu lantas dijadikan bukti bahwa Masjid Babri memang berdiri di atas lokasi kelahiran Sri Rama.

Pemerintah setempat dikabarkan tidak menyingkirkan patung tersebut dari dalam masjid. Namun, untuk meredam kemungkinan konflik fisik, pemerintah menjadikan kawasan tersebut sebagai tempat yang tertutup bagi umum. Ini berlaku untuk umat Islam maupun Hindu.

Namun tekanan dari kelompok Hindu terus menguat, salah satunya dimotivasi oleh keberadaan patung di dalam kawasan Masjid Babri. Letupan konflik terbuka dimulai setelah Partai Bharata Janatiya memenangkan Pemilu di Provinsi Uttar Pradesh pada 1991.

Puluhan ribu orang Hindu yang dipimpin oleh banyak tokoh politik dan agama akhirnyamenyerang masjid Babri pada 6 Desember 1992 dan menghancurkan monumen berusia 460 tahun itu. Akibatnya, kerusuhan massa nasional terjadi, di mana lebih 2.000 orang meninggal.

Setelah masjid hancur, menurut buku Sisi Balik Senyap: Suara-suara Dari Pemisahan India (2002) karya Urvashi Butalia, orang-orang Islam menjadi sasaran penyerangan di Bombay, Ahmedabad dan Surat. Serangan itu dilakukan secara terbuka dan didukung oleh partai-partai politik berhaluan kanan seperti Bharatiya Janata, Rashtriya Swayamsevak Sangh, Vishwa Hindu Parishad dan Shiv Sena.

Orang-orang Hindu militan dimobilisasi dengan argumentasi bahwa orang Islam telah memperkosa dan membunuh perempuan Hindu. Propaganda disebarkan secara massif sehingga kebencian pun menjalar nyaris tanpa dapat dihentikan lagi.

Sudah menjadi suratan sejarah India bahwa Islam dan Hindu sangat sulit bersatu. Sulit berdampinganya dua agama itu setidaknya telah memecah India dengan Pakistan. Sebuah perpisahan yang penuh darah.

Meski orang-orang Islam kemudian bergabung dalam Pakistan, namun di India sendiri orang-orang Islam masih cukup banyak. Ketika kekacauan antara India-Pakistan berlangsung, Pemerintah Negara Bagian Uttar Pradesh mengambil-alih Masjid Babri ini. Tak lupa, baik kubu Hindu maupun Islam, tidak diperkenankan memakai masjid yang sudah berusia ratusan tahun itu agar tidak menjadi sumbu persengketaan.

Menurut Ahmad Rofi Usmani, pada 1986, pengadilan setempat memperbolehkan orang Hindu beribadah di tempat itu. Setelahnya, orang Islam pun menggalang sebuah Komite Aksi Masjid Babri. Konflik yang pernah terjadi pada 1949 pun terjadi lagi. Sikap saling benci pun lahir. Sampai kemudian orang-orang Hindu yang diarahkan secara politis itu menyerbu masjid dan menghancurkannya.

Muslim di Ayodya tak berkutik karena secara jumlah memang menjadi minoritas. Di mana pun, minoritas selalu rentan. Mereka seringkali harus menabung banyak hal, dari kesabaran hingga daya tahan, agar bisa hidup dengan baik di tempat yang dikelilingi kelompok lain yang lebih banyak dan lebih berkuasa.

Dendam tentu tak terhindarkan. Namun, benarkah dendam adalah satu-satunya pilihan dan tiada pilihan lain?

Baca juga artikel terkait MASJID BABRI atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Zen RS
DarkLight